Keresahan Masyarakat Figuris

0
264 views
weraonline.org

Sebuah kabar melayang dan terhempas lalu konsumennya memahami dengan pas sebagai mana dipahami oleh si pengirim kabar secara langsung dan transparan, tanpa distorsi. Benarkah demikian? Bagi Stuart Hall, seorang pemikir media postmodernis dalam Stuart Hall, kondisi tadi terlalu necis karena bagi Hall, konsumen berita lebih merupakan “melahirkan” makna daripada “menerima” makna. Semua itu terjadi karena tiga hal bahwa (i) pesan tidak pernah fix atau ditentukan oleh pengirim pesan; (ii) dan pesan tidak pernah transparan; serta (iii) konsumen berita bukan penerima pasif atas makna.

Hal itu terjadi ketika penduduk sebuah negeri bernama Entahdimana tiba-tiba heboh, cemas, takut, marah, dan sedih. Sebuah kasus terungkap namun belum terkuak. Kasusnya ada tetapi pelaku dan korbannya masih remang-remang. Dengan harap-harap cemas, penduduk negeri itu menanti dan menuggu kejelasan. Hanya media massa yang sepertinya enggan jika kasus itu tuntas karena itu berarti salah satu lumbung berita hilang.

Kasus itu berawal dari sebuah mimpi yang persis sama yang menghapiri dua orang anak manusia penduduk negeri di sebuah malam yang kelam. Lewat mimpi itu, terngiang kenangan pribadi penuh rahasia dan karena itu disimpan rapat tidak rapat di dinding ingatan masing-masing.

Lipstik Keresahan

Namun entah bagaimana, entah kapan, dan entah mengapa mimpi rahasia dan bersifat sangat pribadi itu bisa diketahui orang banyak. Dan orang banyak itu suka, walau memasang wajah benci. Kata mereka, rahasia itu mereka dapati dari mimpi mereka di sebuah malam yang kelam. Mereka suka karena mimpi tersebut adalah perwujudan impian-impian mereka selama ini, perwujudan hasrat terdalam mereka. Seakan-akan mereka melihat diri mereka di dalam mimpi itu. Diri dalam impian. Rahasia di mimpi itu adalah rahasia mereka juga.

Ada juga penduduk yang mengaku dikirimi mimpi itu oleh penduduk lainnya. Penduduk yang belum dihinggapi mimpi tersebut penasaran lalu berusaha mendapatkan mimpi yang serupa dengan beragam cara. Rahasia pribadi itu kini telah menjadi rahasia penduduk dan diperbincangkan di setiap saat dan tempat, hingga dalam mimpi.

Dan keresahan menyeruak di mana-mana. Namun benarkah penduduk itu benar-benar resah atau malah senang karena memiliki mimpi indah? Dalam hati mereka senang sekaligus gelisah. Senang karena suka dengan mimpi indah, tetapi gelisah karena mimpi itu ternyata bukan untuk semua umur. Anak-anak di bawah umur tidak boleh memiliki mimpi itu padahal di sisi lain, akses ke mimpi tersebut terbuka untuk umum dan tidak pandang usia. Malah banyak kejadian di mana anak-anak lebih dahulu merasakan mimpi itu daripada orang dewasa. Jadi, akses adalah masalah.

Akses hanyalah satu hal dan rasa penasaran adalah hal yang berbeda, namun keduanya kadang sama; sama-sama sulit dibendung walau dengan aturan dan undang-undang seketat apa pun. Di negeri Entahdimana ini, di mana ada rasa penasaran, di situ ada ekses. Akses dibuka lebar-lebar; rasa penasaran dibuat merajalela.

Akses dan rasa penasaran bergulat tiada henti dibumbui oleh rasa khawatir. Media massa, dengan segala kenakalannya, memompa rasa penasaran penduduk negeri Entahdimana hingga titik tertinggi dengan dalih informasi untuk semua orang. Sering dengan cara yang sangat dibuat-buat, berulang-ulang, di setiap waktu, tanpa kompromi, bahkan kasar. Masyarakat semakin resah.

Yang mengaku resah lalu berbicara dan meneriakkan keresahannya di mana-mana. Semua mendengar keresahan itu dan orang yang awalnya tidak resah juga ikut-ikutan resah. Keresahan massal terjadi. Kehebohan semakin meraja. Anak-anak yang dikhawatirkan mengetahui adanya mimpi itu malah semakin penasaran. “Mimpi apa, sih?” tanya mereka kepada ayah-bundaya. “Kok orang-orang pada resah?” Pertanyaan yang tidak ingin dijawab oleh ayah-bundanya.

Tentang Figurisme

Persoalan yang ada pada masyarakat adalah penyakit figurisme. Jika mau jujur, banyak persoalan tidak mendarat dalam substansi karena sebenarnya dipicu oleh kepercayaan figurisme sosial. Ketika terjadi sebuah peristiwa, maka peristiwa itu adalah sebuah persoalan dan pelaku adalah masalah tersendiri. Masyarakat penganut figurisme akan lebih mempersoalkan siapa yang melakukan daripada apa yang dilakukan. Tidak heran jika kejahatan yang dilakukan sering disandarkan alasannya pada figur tertentu, misalnya karena si anu yang adalah publik figur melakukannya. Atau ada fenomena pejabat publik ingin menerapkan sebuah aturan melalui pintu sebuah peristiwa yang melibatkan publik figur yang biasanya solusi yang ditawarkan tidak mengakar karena memang budaya figurisme juga bukan hal yang mengakar.

Masyarakat yang resah dan tidak resah lalu mencari siapa yang sungguh bersalah. Tentu saja yang pertama kali mendapatkan sorotan adalah si empunya mimpi. Namun mereka mengelak. “Apa salahnya punya mimpi?” Masyarakat ragu. Benar juga, tidak ada salahnya punya mimpi. Tapi, mengapa mimpi itu diingat-ingat dan terus diingat? Mengapa tidak dilupakan saja? Masyarakat mendesak dan ingin bertanya tapi mereka sudah dapat mengira-ngira jawabannya. Pasti yang ditanya akan berakata: “Apa salahnya punya ingatan?”

Kini, masyarakat mengalihkan kecurigaannya kepada mereka yang menyebarkan mimpi itu dan mereka mendapatkan persoalan yang semakin rumit. Semakin mereka mencari, semakin mereka menemukan bahwa persoalan ini titik awalnya adalah makhluk yang bernama “masyarakat” itu sendiri. Semua karena mimpi yang seharusnya rahasia dan mungkin seharusnya indah.

Barangkali perlu ada saat masyarakat mengalihkan keresahannya kepada pewarta peristiwa mimpi itu karena mimpi tidak akan tersebar tanpa keterlibatan mereka yang mewartakan, mengambangkan dan mengempiskan kabar. Kabar yang diwartakan itu memang mempunyai potensi untuk meledakkan berlapis-lapis makna, meski tanpa upaya memantik pemicunya. Belum lagi jika para pewarta memang mempunyai niat-niat tertentu untuk meraup untung. Pada sisi berbeda, konsumen kabar bukanlah makhluk kosong tanpa bahan. Sebelum kabar apa pun sampai ke mereka, sebenarnya mereka sudah mempunyai segudang bahan untuk menafsirkan dan mencerna lalu mengembangkannya sedemikian rupa. Benar kata Stuart Hall, tidak ada kabar yang necis, rapi dan sebagaimana adanya.[]