Keperawanan dan Keikhlasan

0
25 views

Sebuah ide yang mungkin cerdas naik ke permukaan. Banyak yang menganga, tidak sedikit yang setuju. “Tes keperawanan”. Banyak tebakan tentang apa sebenarnya yang sedang mengendap di alam bawah sadar mereka yang mengusulkan tes sepeti itu, dan karena hanya tebakan, pasti belum tentu benar.

Di antara tebakan itu adalah bahwa usul tes keperawanan tersebut menyembul dari niat tulus untuk memperbaiki moralitas seksual anak muda yang, menurut penelitian, dianggap semakin merosot. Sebuah penelitian di kota-kota besar memang menunjukkan bahwa sekitar 65% siswi sekolah menengah tidak lagi perawan.

Banyak juga yang meragukan ketulusan para penentu kebijakan yang mengusulkan tes keperawanan itu dengan alasan, ini semata-mata upaya panik para penentu kebijakan untuk memperbaiki citranya yang juga sedang merosot tajam karena banyak anggotanya yang korupsi atau sekadar upaya sesaat penggalangan suara demi tinjauan jangka pendek. Namun mengukur (mengetes) ketulusan sama tidak mudahnya dengan mengukur keperawanan. Entah bagaimana jika rakyat juga mengajukan usulan tes ketulusan bagi Anggota Dewan yang terhormat.

Baiklah, kita asumsikan saja bahwa niat itu tulus, walau sulit mempercayai ada politisi yang tulus. Lalu mengapa harus tes keperawanan? Tesnya fisik atau psikis? Mungkin karena bingung, maka pencetusnya menjawab: “Tesnya psikologis”. Mungkinkah keperawanan diukur dengan ukuran psikologis? Atau mungkin lebih tepat maksudnya: “Tes kebohongan/kejujuran”. Dengan demikian, maka sangat mungkin hasilnya adalah persentasi, misalnya: tingkat keperawanan 75%.

Lalu mengapa tes keperawanan? Mungkin asumsinya keperawanan adalah tolok ukur moralitas sebuah masyarakat. Mengapa bukan keikhlasan tolok ukurnya? Jika—katanya—akan dites lewat psikologi, maka tentu saja keikhlasan juga bisa diukur dengan tes psikologi. So, what?

Keikhlasan adalah kriteria yang cukup universal dan menentukan jika yang akan diukur adalah moralitas. Keikhlasan mampu menentukan secara lebih pas seseorang itu baik atau tidak, kan? Sedangkan keperawanan sangat tidak cukup untuk menentukan seseorang baik atau tidak. Dan keikhlasan tidak mendiskriminasi kelas masyarakat tertentu, dalam hal ini perempuan.

Lagi pula, tes keperawanan sangat khas perempuan sehingga ada nuansa diskriminasi gender di sana. Selama ini, perempuan telah menanggung beban moral yang berat akibat hal-hal seperti ini. Mirip dengan kasus kejar-mengejar PSK, lalu pria hidung belangnya ke mana?

Bangsa ini adalah bangsa yang panik. Setiap persoalan ditanggapi dengan solusi yang panik dan karena itu, sering parsial dan tiba masa tiba akal dan tidak mengakar. Parahnya, solusi yang ditawarkan kepada setiap persoalan yang ada sering merupakan solusi yang menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak yang lain.

Jika memang persoalan moralitas seksual dianggap ada pada remaja usia sekolah, maka solusi yang ditawarkan seharusnya lewat sekolah atau institusi pendidikan lainnya. Pemerintah seharusnya meningkatkan dukungannya kepada dunia pendidikan yang bermutu agar anak-anak usia sekolah meyakini bahwa dunia pendidikan adalah dunia yang menjamin masa depan mereka sehingga meminimalisasi perhatian kaum muda terhadap hal-hal lain selain pendidikan, termasuk tentang seksualitas amoral.[]

Oleh Abdul Muid Nawawi