Kendala Berkorban

0
45 views

3.bp.blogspot.comKetika perang Tabuk akan terjadi, Rasulullah saw mengumpulkan para sahabat dan mengajak mereka untuk menghimpun dana guna membiayai perjuangan yang suci ini. Para sahabat yang membawa uang memberikan uang mereka dan sahabat yang tidak membawa karena mereka memang tidak tahu untuk maksud apa Rasulullah saw mengumpulkan sahabat, maka mereka mengemukakan apa yang hendak mereka berikan. Namun sahabat Abu Bakar Ash Shiddik ternyata belum memberikan dan belum juga mengatakan apa-apa. Karena Rasul tahu bahwa beliau sahabat yang banyak harta, mau Rasul bertanya tentang apa yang hendak diberikannya. Sahabat yang juga mertua Nabi ini menjawab: “Saya akan memberikan semua uang yang saya miliki”.

Mendengar hal itu, tidak hanya para sahabat yang terkejut, tapi Rasulullah saw juga demikian, semua sudah tahu bahwa Abu Bakar memiliki banyak harta. Karenanya Rasulullah saw bertanya: “Untuk kamu dan keluarga apa yang akan engkau berikan bila semua uang yang engkau miliki diinfakkan untuk perjuangan di jalan Allah?”.

Dengan singkat, tegas dan meyakinkan Abu Bakar menjawab: “Untuk kami cukup Allah dan Rasul-Nya”.  

Pengorbanan ternyata tidak hanya dilakukan untuk kebaikan di jalan Allah seperti yang dilalukan oleh Abu Bakar dan para sahabat lainnya, tapi juga bisa dilakukan di jalan maksiat. Orang-orang munafik mengorbankan hartanya untuk membangun masjid dalam jumlah yang banyak, masjid yang mereka bangun lebih besar dan lebih bagus dari masjid yang dibangun oleh Rasulullah saw, bahkan dengan ucapan yang manis mereka meminta beliau untuk meresmikannya. Semua itu dilakukan untuk menutupi kebusukan hati mereka yang memiliki agenda tersembunyi. Namun Allah swt Maha Tahu atas semua itu. Rasulullah dilarang meresmikan dan shalat di masjid itu, bahkan diperintahkan untuk menghancurkannya dan beberapa sahabat melakukan eksekusi penghancuran masjid yang sering disebut dengan masjid dhirar karena dibangun dengan maksud memecah belah kaum muslimin. Bagi orang munafik pengorbanan ini mengakibatkan penyesalan dunia akhirat.

Abu Jahal, Abu Lahab dan para pengikut setianya juga berkorban dengan seluruh energi yang mereka miliki. Jiwa, raga, harta dan waktu serta segala yang dimiliki mereka korbankan untuk menghambat laju dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya.

Tegasnya, dalam kebenaran dan kebathilan dituntut pengorbanan dari para pejuangnya. Bila di jalan kebathilan kita dapati banyak orang yang tidak segan-segan untuk berkorban dengan segala yang mereka miliki, harus kita teliti apa yang menyebabkan seseorang tidak mau berkorban di jalan kebenaran.

Dua Sebab

Paling tidak, Al-Qur’an dua sebab mengapa manusia tidak mau berkorban di jalan Allah swt. DR. Ahzami Samiun Jazuli dalam bukunya Hijrah Dalam Pandangan Al-Qur’an mengemukakan paling tidak ada penyebab mengapa pengorbanan jauh dari hati manusia.

1. Terlalu Cinta Dunia

Pada dasarnya, apapun yang ada di dunia ini boleh dicintai oleh seorang muslim seperti orang tua, isteri, anak, harta dan sebagainya, namun kecintaan pada semua itu tidak boleh melebihi kecintaannya kepada Allah, Rasul-Nya dan perjuangan di jalan Allah. Bila demikian, maka ia menjadi orang yang terlalu cinta pada dunia sehingga menjadi kendala baginya untuk bisa berkorban, Allah swt berfirman: Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan NYA”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (QS At Taubah/9:24).

Terlalu cinta pada dunia akan membuat umat ini dikendalikan oleh dunia sehingga meskipun umat ini jumlahnya banyak dan potensinya besar, tapi umat ini akan tetap menjadi umat yang lemah yang oleh Rasulullah saw digambarkan seperti buih di lautan yang hanya mengikuti arah ombak, bukan seperti karang yang justeru memecahkan ombak. 

2. Takut Kehilangan Kesenangan

Bagi manusia, kehidupan di dunia ini memang menyenangkan, mereka bisa makan, minum, melampiaskan keinginan seksual dan sebagainya. Kesenangan-kesenangan itu harus disadari oleh manusia sebagai sesuatu yang bersifat sementara, semuanya pasti akan berakhir, berakhir karena manusia sudah tidak bisa menikmatinya lagi disebabkan keterbatasan dirinya seperti sakit, tua dan sebagainya atau cepat atau lambat setiap manusia akan mati yang membuatnya tidak bisa lagi menikmati kesenangan yang ada di dunia ini. Oleh karena itu, manusia jangan sampai takut kehilangan kesenangan yang menyebabkannya tidak mau berkorban di jalan Allah swt. Di dalam Al-Qur’an, Allah swt mengingatkan kita semua: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia Telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (QS Ali Imran/3:185).

Sejarah mencatat begitu banyak sahabat Nabi yang rela berkorban untuk tegaknya kebenaran nilai-nilai Islam. Hanzholah menemui ajalnya di medan perang dan Rasulullah saw mendapati jenazahnya sedang dikerumuni oleh para malaikat yang ternyata sedang memandikannya, hal ini karena ia mati dalam keadaan junub setelah melakukan hubungan seksual dengan isterinya karena ia memang pengantin yang baru saja melewati malam pertama. Sahabat lain bernama Jabir, seorang pemuda yang secara fisik tidak ganteng dan secara ekonomi miskin, namun ia dijodohkan oleh seorang wanita yang paling cantik di Madinah yang bernama Zulfah karena ketaqwaannya kepada Allah swt. Baru beberapa lama ia menikah, panggilan jihad dipenuhinya, ia tinggalkan isterinya yang cantik dan shalihah itu dan iapun menemui ajalnya sebagai syahid, sang isteri merasa sedih karena ditinggal suami yang dicintainya, namun ia juga gembira karena kematiannya yang begitu mulia. Kecintaan yang amat sangat kepada Allah swt telah ditunjukkan dengan pengorbanan yang begitu besar oleh para sahabat, Allah swt berfirman: Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu[106] mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal) (QS Al Baqarah/2:165).

Tuntutan Iman

Ketika seseorang menyatakan dirinya beriman kepada Allah swt, salah satu tuntutan iman yang harus ditunjukkan adalah kemauan untuk berkorban di jalan Allah dengan apa yang dimilikinya. Pengorbanan yang dituntut itu bukanlah untuk kepentingan Allah, tapi sebenarnya untuk kepentingan dirinya sendiri, karena pengorbanan yang tidak seberapa besar akan dibalas oleh Allah swt dengan sesuatu yang tidak ternilai bandingannya, yakni surga, Allah swt berfirman: Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu Telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang Telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar (QS At Taubah/9:111).

Oleh karena itu, mukmin yang sejati tidak akan melalaikan Allah dengan sebab kenikmatan duniawi yang telah dimilikinya, Allah swt berfirman: Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi (QS Al Munafikun/63:9).

Akhirnya momentum hari raya Idul Adha mengingatkan kita semua untuk mengobarkan kembali semangat pengorbanan, kitapun menyadari bahwa kita bisa beriman dan taat kepada Allah swt, bahkan kita bisa makan dan minum serta menikmati kehidupan dunia ini dengan sebab pengorbanan orang lain. Bila orang lain telah berkorban, mengapa kita tidak?.

Oleh Drs. H. Ahmad Yani