Kemuliaan Pengetahuan

0
43 views

Ketika para malaikat mempertanyakan keputusan Tuhan mengangkat seorang khalifah di bumi ini, Tuhan memberi garansi bahwa keputusan-Nya itu adalah tepat. Ternyata, label garansi  Tuhan itu diberikan dalam bentuk “’allama âdam al-asmâ” (mengajarkan kepada Adam tentang nama-nama). Garansi Tuhan diberikan dalam bentuk “pengetahuan”. Menarik! Kita bisa bertanya, apakah itu berarti para malaikat tidak dibekali pengetahuan? Rasanya sulit membuktikan bahwa para malaikat ini tidak punya pengetahuan, sebab mereka melakukan perintah Tuhan tentu dengan pengetahuan, mereka juga menguraikan alasan penolakan mereka atas sosok khalifah yang akan ditunjuk Tuhan mengelola bumi tentu juga berdasar satu pengetahuan. Lantas apa bedanya dengan pengetahuan manusia? C’mon man, kita coba cermati dialog Tuhan dan para malaikat yang terekam dalam Q.S. al-Baqarah/2: 30-33.

duniapustaka.comDan ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku menjadikan seorang khalifah di bumi”.

Mendengar informasi Tuhan itu, serta merta para malaikat berkata, “Apakah Engkau akan menjadikan di bumi sosok yang akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah? Padahal kami senantiasa memuji dan menyucikan-Mu?”.

Ada beberapa kemungkinan malaikat berkata seperti ini. Pertama, dalam pandangan mereka, pengabdian dan ketaatan mereka kepada Tuhan tidak perlu diragukan, karena mereka adalah makhluk yang senantiasa “tunduk pada perintah Tuhan dan tidak pernah mengingkari-Nya”. Lalu mengapa bukan mereka saja yang diangkat sebagai khalifah? Kedua, mereka beranggapan bahwa sosok khalifah yang diinformasikan Tuhan itu tidak memiliki kapabilitas yang mumpuni untuk mewakili Tuhan di muka bumi ini. Karena itu, kemungkinan besar mereka hanya akan menumpahkan darah dan merusak bumi ini. Ketiga, tuduhan para malaikat bahwa sosok yang akan diangkat sebagai khalifah itu hanya akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, muncul dari pengetahuan mereka tentang keberadaan makhluk yang telah menghuni bumi sebelumnya.

Tuhan menjawab, “Sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui”. Tuhan meyakinkan para malaikat itu bahwa Dia menjamin sosok yang diinformasikan itu merupakan pilihan yang tepat untuk mewakili Tuhan mengelola bumi ini. 

Lalu Tuhan mengajarkan kepada Adam semua nama-nama, kemudian mempertemukannya dengan para malaikat. Tuhan bukan saja ingin memperlihatkan kelemahan argumen para malaikat dan hidden agenda yang mereka sembunyikan, tetapi sekaligus Tuhan mau menunjukkan apa sih kelebihan sosok yang akan dijadikan khalifah di bumi itu.

 Maka Tuhan berfirman (kepada para malaikat itu), “Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama benda-benda itu jika kalian (merasa) benar (dengan meragukan khalifah ini).

Para malaikat menjawab, “Maha Suci Engkau, kami tidak memiliki pengetahuan kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Kawan… coba kita berikan sedikit penekanan pada pernyataan malaikat ini: “kami tidak memiliki pengetahuan kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami”. Pengetahuan para malaikat Tuhan bersifat passif. Seturut dengan karakternya “lâ ya‘shûna-llâh mâ amarahum wa yaf‘alûna mâ yu’marûn (mereka tidak pernah mengingkari perintah Allah dan mengerjakan apa yang diperintahkan), maka para malaikat itu hanya mengetahui sesuatu jika sesuatu itu diajarkan Tuhan kepada mereka. Tidak ada pengetahuan yang mereka miliki melalui olah pikir, perenungan (pembacaan), dan analisa mereka sendiri. Inilah kelemahan pengetahuan para malaikat, dan sekaligus menjadi titik lemah argumentasi mereka yang meragukan kapabilitas sosok khalifah yang diinformasikan Tuhan.

Setelah para malaikat ini nyerah, maka Tuhan berkata (kepada Adam), “Wahai Adam, sampaikanlah kepada mereka nama-nama benda-benda itu!”. Maka ketika Adam telah menyampaikan nama-nama benda-benda itu, lalu Tuhan berfirman, “Bukankah sudah Aku katakan kepada kalian bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, bahkan Aku mengetahui apa yang kalian sembunyikan (rahasiakan)”.

Pembicaraan segitiga antara Tuhan, malaikat, dan Adam di atas membawa kita pada satu kesimpulan sementara bahwa alasan Tuhan tidak memilih malaikat sebagai khalifah karena pengetahuan malaikat itu bersifat passif, dan untuk mengelola alam ini dibutuhkan keahlian, kreatifitas, dan pengetahuan lebih dari itu. Lantas, bagaimana dengan manusia? Bagaimana dengan pengetahuan manusia?

Sobat… faktor pengetahuan ini sangat mendasar bagi eksistensi manusia. Inilah satu di antara dua hal – hal satu lagi akan kita uraikan kemudian – yang membedakan manusia dengan makhuk Tuhan yang lain. Seperti firman Allah dalam surah al-Mujadilah/85: 11: “…Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi pengetahuan beberapa derajat”. Ada yang spesial dari pernyataan ayat ini. Lihat! Allah menyebut secara terpisah orang beriman dan orang yang diberi pengetahuan, tapi yang disebut pertama adalah iman. Tapi di sini kita bahas dulu pengetahuan, Mengapa? Belakangan aja deh kita jawab, ketika membahas keimanan itu, okey?

sixthman.netManusia tidak saja diajarkan “nama-nama” oleh Tuhan, tetapi juga diperintahkan untuk mencari pengetahuan. Perintah “Iqra” yang menjadi wahyu pertama Tuhan kepada Nabi Muhammad saw menunjukkan secara jelas maksud itu. “Bacalah!” Manusia harus secara aktif mencari atau menambah pengetahuannya sendiri. Ia dituntut mampu membaca apa yang tertulis di atas lembaran-lembaran kitab maupun yang terpapar di belantara alam raya.

Untuk tujuan itu, sejak awal Tuhan memang sudah membekali manusia kemampuan berpikir/mengolah pengetahuan. Sejak awal, setiap anak manusia sudah dibekali oleh Tuhan dengan as-sam‘a (potensi mendengar), al-abshâr (potensi mengobservasi), dan al-af’idah (potensi berpikir).

Dalam QS. An-Nahl/16:78, Tuhan menegaskan bahwa pada awal penciptaan, manusia tidak memiliki pengetahuan (wallâhu akhrajakum min buthûni ummahâtikum lâ ta‘lamûna syai’an). Kondisi awal penciptaan ini menempatkan manusia pada posisi yang,sebenarnya, sama dengan binatang, tanpa pengetahuan, dan hanya bekerja dengan insting. Hal yang membedakan adalah adanya tiga potensi itu, as-sam‘u, al-abshâr, dan al-af’idah. Dalam kontes ini, Tuhan tidak mengatakan bahwa manusia dibekali dengan al-udzun (telinga/indera pendengaran), al-‘ain (mata/indera penglihatan), dan al-‘aql (otak). Kalau itu yang disebut oleh Tuhan, binatang juga punya semua itu. Seperti lagunya Iwan Fals: kalau cuma senyum, westerling pun tersenyum. Nah, di sinilah manusia menjadi berbeda dengan binatang. Potensi yang ada pada manusia tidak hanya bersifat inderawi. Melalui kemampuan abshar, as-sam’, dan afidah manusia mampu menembus batas-batas inderawi.

Sederhananya kira-kira seperti ini. Binatang, kalo melihat sesuatu hanya apa adanya. Monyet melihat pisang…ya sekedar pisang. Dimakan dan selesai. Tapi kalo manusia melihat pisang, dia tidak cuma melihat pisang. Ia bisa mengolahnya menjadi kolak pisang, pisang sale, pisang ijo, dan lain-lainnya.  Apa istimewanya bisa bikin kolak pisang?????? Jangan lihat kolak pisangnya man! J

Poin kita di sini adalah kemampuan manusia mengolah sejumlah jejak rekam pengetahuan yang dimilikinya menjadi satu pengetahuan yang baru, dan terus menerus seperti itu. Inilah yang sejak awal kita sebut sebagai pengetahuan yang aktif. Kalau orang filsafat menyebutnya silogisme. Dengan pengetahuan aktif seperti inilah, Tuhan memberikan kepercayaan penuh pada manusia untuk mengelola alam ini.

Bayangkan apa yang bisa dilakukan manusia terhadap alam raya dengan potensi seperti itu. Tentu saja, dalam risalah-Nya, Tuhan menghendaki manusia menggunakan potensi pengetahuannya untuk mengelola alam ini agar alam ini, termasuk manusia, menjadi lebih baik, bukan sebaliknya. Bekali-kali Tuhan mengingatkan melalui al-Qur’an agar manusia menggunakan akal fikiran dan pengetahuannya demi kebaikan semesta, dan lebih jauh dari itu adalah demi mencapai keparipurnaan sebagai manusia, sebagai hamba Tuhan. Dan berkali-kali pula, Tuhan mengingatkan agar jangan melakukan kerusakan di atas bumi ini, seperti dulu Dia mengingatkan Adam agar tidak mendekati pohon terlarang.

Jadi, dari satu sisi, yang bisa disebut manusia mulia itu adalah yang mampu memaksimalkan  potensi pengetahuannya demi kemaslahatan dan kemakmuran semesta, karena semesta ini adalah amanah yang diwakilkan Tuhan pada manusia agar dikelola dengan baik. Dan semesta itu adalah semua makhluk Tuhan, tanpa kecuali. Wallahu a’lam

 



BAGI
Artikel SebelumnyaTeologi UN
Artikel BerikutnyaWaspadai Seks Bebas pada Remaja