Kemenangan Semu

0
132 views

Ini persoalan waktu. Ini persoalan durasi. Tidak harus menunggu fajar 1 Syawal menyingsing untuk meneriakkan pekik kemenangan, apalagi harus menunggu Rapat Itsbat Departemen Agama. Dengan keyakinan yang mungkin berlebihan jauh sebelum waktunya tiba ungkapan selamat Hari Kemenangan telah membahana, ribuan parsel telah dipesan, ribuan pesan sms, e-mail,  facebook, twitter, dan lain-lain berseliweran di dunia maya, ribuan petasan memekakkan telinga.

Tunggu dulu. Apakah itu tidak kepagian? Apakah itu tidak sama dengan sebuah tim yang telah merayakan kemenangan padahal peluit panjang belum ditiupkan oleh wasit utama? Mungkin kita lupa dalam sepak bola berapa banyak kekalahan ditentukan oleh menit bahkan detik terakhir sebuah pertandingan.

Hari Kemenangan itu kini telah jauh beranjak meninggalkan bumi. Kita sampai lupa bertanya mengapa Hari Kemenangan itu begitu membahagiakan. Kita juga lupa kemenangan itu sebenarnya menang melawan siapa/apa sehingga kita punya cukup alasan untuk bahagia.

Jika yang kita maksud dengan kemenangan adalah kemenangan melawan hawa nafsu, maka kita patut bertanya, sudahkah layak merayakannya sekarang? Bukankah pertarungan belum berakhir? Hawa nafsu juga belum mengibarkan bendera putih. Jika yang kita maksud adalah kemenangan karena telah melewati bulan Ramadhan dengan baik, maka mungkin kita lupa bahwa arena pertarungan yang sesungguhnya adalah 11 bulan di luar bulan Ramadhan.

Sampai ukuran tertentu, memang kita telah menang. Jika tidak dikaitkan dengan waktu, maka kita layak merayakannya. Fasilitas rahmat, ampunan, dan pembebasan dari neraka yang ditawarkan oleh Ramadhan memang bukan urusan main-main. Bukankah Ramadhan itu ibarat sekolah? Mereka yang telah menjalani Ramadhan dengan baik layak mendapatkan ijazah. Dan bukankah ijazah itu patut dirayakan dengan wisuda? Ya, tapi sebagaimana sebuah ijazah sering tidak berguna dirayakan untuk mencari kerja, demikian pula belum tentu ijazah Ramadhan yang kita peroleh mampu dengan baik kita gunakan di luar bulan Ramadhan. Padahal di situlah pertarungan yang sesungguhnya. Ini persoalan waktu. Ini persoalan durasi. Pertarungan belum usai.[]