Keluhan Penceramah

0
221 views

by Dr. Abd. Muid N., MA.

Ramadhan telah lewat. Mungkin juga dilupakan. Mari kita mengenang.

Di awal bulan Ramadhan, bahkan beberapa pekan sebelumnya, para penceramah sibuk mengiklankan keutamaan-keutamaan Ramadhan. Salah satu dan terutama yang diiklankan adalah prihal berlipat gandanya pahala ibadah pada bulan suci Ramadhan hingga tak terhingga jumlahnya. Mungkin para penceramah itu menghendaki seluruh umat Muslim memanfaatkan Ramadhan baik-baik sebagai masa untuk menimbun pahala sebanyak yang mereka bisa.

Menjelang pertengahan bulan hingga akhir Ramadhan, para penceramah tidak lagi terlalu menggaungkan tema berlipat gandanya pahala—meski tidak jarang pula tema itu masih terdengar—berganti dengan keluhan betapa jamaah tarawih semakin menyusut, berbeda dengan awal Ramadhan. Keluhan ini terus berlanjut hingga Ramadhan berakhir dan bahkan hingga bulan Ramadhan telah pergi.

Faktanya, umat Muslim begitu antusias menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan berbondong-bondong menyesaki masjid, mushalla, langgar, atau surau. Tapi itu tidak lama. Dimulai malam kedelapan, jumlah jamaah semakin berkurang. Antusiasme yang sebelumnya membumbung seperti mulai meredup meski tidak seluruhnya. Masih banyak yang dengan setia mengiangkan di ingatan mereka bahwa Ramadhan adalah bulan penuh pahala dan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk beribadah.

Jika para penceramah menginginkan umat Muslim rajin beribadah pada bulan Ramadhan, itu adalah keinginan yang wajar. Sama wajarnya ketika para penceramah mengeluh umat Muslim semakin berkurang semangatnya beribadah di hari-hari pertengahan Ramadhan. Namun menjadi sulit dipahami adalah ketika para penceramah juga mengeluhkan tidak rajinnya lagi umat Muslim beribadah di luar Ramadhan. Mereka lalu menuduh umat Muslim beribadah hanya karena mengharap pahala, bukan karena keikhlasan atau pencarian ridha Ilahi.

Apa yang sebenarnya para penceramah itu inginkan? Bukankah mereka sendiri yang meneriakkan dengan lantang bahwa Ramadhan adalah masa dilipatgandakannya pahala? Bukankah mereka sendiri yang menggambarkan betapa berbeda pahala yang disediakan Allah pada bulan Ramadhan dengan di luar bulan Ramadhan? Bukankan para penceramaha itu sendiri yang memaksa jamaahnya untuk mengaung-agungkan pahala? Mengapa kini mereka mengeluh jika umat Muslim tidak lagi ramai beribadah di luar Ramadhan?

Bukankah sangat masuk akal jika umat Muslim pada umumnya rajin di bulan Ramadhan dan tidak di luar bulan Ramadhan? Bukankah memang pahala—menurut para penceramah—yang disediakan di luar Ramadhan lebih sedikit? Semestinya jika para penceramah itu menginginkan umat Muslim untuk tetap konsisten dalam beribadah baik dari segi kualitas maupun kuantitas meski di luar Ramadhan, maka seharusnya mereka jangan pernah berlebih-lebihan dalam meneriakkan lipat ganda pahala di bulan Ramadhan dan perbedaannya yang mendalam dengan bulan-bulan lainnya.

Yang terjadi adalah umat Islam sedang terbuai hujan pahala Ramadhan yang mengakibatkan lahirnya tradisi menghitung-hitung pahala. Jadi, wahai penceramah! Jika kini, di luar bulan Ramadhan, umat Muslim tidak lagi antusias beribadah, maka itu salah siapa? Apakah para penceramah tidak mempunyai saham?