Keluarga Ideal

0
61 views

Meski menyandang perdikat manusia luar biasa, kehidupan para nabi ternyata tidak selalu ideal. Ada kisah tentang Nabi Luth as yang shaleh tetapi isterinya durhaka. Tentang Nabi Nuh as yang baik tetapi puteranya jahat. Tentang Nabi Ibrahim as yang mengesakan Tuhan tetapi ayahnya, Azaar, penyembah berhala.

Namun ada juga nabi bisa disebut cukup ideal, yaitu Nabi Ibrahim as. Ayahnya memang tetap tidak mengesakan Tuhan meski telah didakwahi selama beberapa dekade, namun keluarga Nabi Ibrahim as adalah keluarga ideal. Dia mempunyai dua isteri yang sama-sama baik. Bahkan Hajar lebih dari baik. Dia tetap sabar walau harus ditinggal suaminya di sebuah padang pasir tandus yang kelak menjadi cikal bakal Kota Makkah.

Selain isteri-isteri yang baik, Nabi Ibrahim as juga dikaruniai anak-anak yang kelak menjadi nabi yaitu Ishak dan Ismail. Keturunannya pun tidak kalah mengkilaunya. Banyak di antara keturunan Nabi Ibrahim yang menjadi nabi-nabi penerus ajarannya.

Konon Ibrahim diangkat menjadi nabi dan rasul di usia yang masih sangat muda, 14 tahun. Dengan usia yang lebih 100 tahun, Ibrahim menghabiskan sangat banyak umurnya dalam dakwah, terutama mendakwahi ayahnya yang sampai ternyata sampai akhir hayat tetap tidak mengikuti ajaran Ibrahim.

Azaar yang tetap kafir seperti setitik noda di dalam keistimewaan keluarga Nabi Ibrahim as. Sebagai bapak monoteisme, yang ajarannya keturunannya benyak yang menjadi nabi serta ajarannya diikuti hingga oleh nabi terakhir, kegagalan Ibrahim mengimankan ayahya terasa menyesakkan. Bukan hanya tetap tidak beriman, Azaar bahkan mengusir Ibrahim karena tidak pernah berhenti medakwahinya.

Ibrahim pun cukup terpukul dengan kenyataan ini. Betapa tidak, ayah yang dicintainya harus menanggung dosa yang tidak ringan di akhirat akibat pembangkangannya untuk beriman. Namun memang Ibrahim bukan manusia biasa. Meski telah diusir dan ajarannya ditolak, asanya tidak pernah surut. Di dalam sudut hatinya yang risau, selalu tertanam harapan bahwa suatu saat nanti ayahnya tetap mendapatkan keselamatan. Karena itu, Ibrahim menegaskan kepada ayahnya bahwa ia akan tetap berdoa yang tarbaik buat sang ayah.

Entah Ibrahim belum tahu atau tidak peduli, ada ayat-ayat Allah yang menegaskan bahwa seorang musyrik seperti ayah Ibrahim  tidak layak mendapatkan doa dari siapa pun. Tegakah Ibrahim tidak berbuat apa-apa saat dia tahu ayahnya pasti akan mendapatkan siksa akhirat walau sekadar berdoa? Ternyata, kehidupan para nabi tidak selalu ideal.[]