Kekuasaan Para Islamis

0
32 views

Pasca-revolusi, Libya tampaknya memilih pemerintah yang relatif moderat pro-Barat. Itu kabar baik, tapi tentatif karena Libya adalah negara yang tidak sekadar satu sumur minyak dengan pantai panjang dan suku segudang. Kesetiaan rakyat kepada otoritas nasional pusat lemah. Bahkan jika pemerintah Mahmoud Jibril mampu mengendalikan milisi dan mendirikan sebuah demokrasi yang berfungsi, itu akan menjadi pengecualian Musim Semi Arab.

Tunisia dan Maroko, yang paling kebarat-baratan dari semua negara Arab, memilih pemerintah Islam. Moderat, pasti, tapi masih Islam. Mesir, negara terbesar dan paling berpengaruh, telah mengalami sapuan Islam. Ikhwanul Muslimin tidak hanya memenangkan kursi kepresidenan. Ikhwanul Muslimin memenangkan hampir separuh kursi di parlemen, sementara Islamis radikal yang lebih terbuka menang 25 persen. Jika digabungkan, mereka menguasai lebih dari 70 persen parlemen—cukup untuk mengontrol arah konstitusi (yang membuat para jenderal buru-buru membubarkan parlemen).

Adapun Suriah, jika dan ketika Bashar al-Assad jatuh, Ikhwan hampir pasti akan mewarisi kekuasaan. Yordania mungkin berikutnya. Dan sayap Ikhwan Palestina (Hamas) telah menguasai Gaza.

Apa artinya ini? Arab Spring keliru. Ini adalah kekuasaan Islam, yang cenderung mendominasi politik Arab selama satu generasi.

Ini merupakan tahap ketiga dari sejarah politik modern Arab. Tahap I adalah pemerintahan semi-monarki, yang didominasi oleh Inggris dan Perancis, pada paruh pertama abad ke-20. Tahap II adalah era nasionalis Arab—sekuler, sosialis, anti-kolonial dan anti-klerikal—dibawa oleh Revolusi Free Officers 1952 di Mesir.

Kendaraan nya adalah kediktatoran militer, dan Gamal Nasser sebagai pemimpin. Dia mengangkat bendera pan-Arabisme, mengubah nama Mesir menjadi Republik Persatuan Arab dan menggabungkan negaranya dengan Suriah tahun 1958. Percobaan tidak masuk akal itu—berlangsung tepat tiga tahun—adalah awal sebuah unifikasi grand Arab, yang, tentu saja, tidak pernah terjadi. Nasser juga menganiaya para Islamis—seperti yang dilakukan penerus nasionalisnya, hingga Hosni Mubarak di Mesir dan Baat, Irak (Saddam Hussein) dan Suriah (yang Assad)—sebagai antitesis reaksioner terhadap modernisme Arab.

Tapi modernisme gadungan nasionalis Arab yang diktator itu terbukti gagal total. Ini menghasilkan rezim-rezim yang disfungsional, semi-sosialis, birokrati, dan korup yang meninggalkan warga negaranya (kecuali karena karunia minyak) terperosok dalam kemiskinan, kehinaan, dan ketertindasan.

Oleh karena itu Arab Spring, serial pemberontakan yang menyebar ke timur dari Tunisia pada awal 2011. Banyak orang Barat secara naif percaya masa depan menjadi milik kaum sekuler dan anak-anak twitter dari Tahrir Square. Namun, sepotong Westernisasi tidak cocok bagi fenomena yang sangat terorganisir didukung secara luas ini. Islam politik dengan mudah menyapu mereka hingga pemilihan nasional.

Ini bukan sebuah revolusi Facebook tetapi awal dari revolusi Islamis. Di tengah reruntuhan sekuler pan Arabisme-nasionalis, Ikhwanul Muslimin naik untuk memecahkan teka-teki stagnasi dan marginalitas Arab. “Islam adalah jawabannya,” adalah hal yang diajarkan hari ini.

Tapi seperti apa politik Islam itu? Tergantung masa depan. Moderat versi Turki atau radikal versi Iran?

Yang pasti, Turki versi Recep Erdogan bukanlah teladan. Kekuasaan para Erdogan merusak militer, mengebiri peradilan dan mengontrol pers. Lebih banyak wartawan yang dipenjara di Turki daripada di Cina. Meskipun demikian, untuk saat ini, Turki masih relatif pro-Barat (meskipun persis begitu) dan relatif demokratis (dibandingkan dengan tetangga-tetangga Islamnya).

Untuk saat ini, kekuasaan baru Islam di tanah Arab mengambil aspek jinaknya Turki.

Pemerintahan yang benar-benar demokratis mungkin telah datang ke tanah Arab. Islam radikal bukanlah jawaban, seperti yang ditunjukkan oleh penindasan, keterbelakangan sosial, dan perselisihan sipil Taliban Afghanistan, Islamis Sudan dan ulama Iran.

Bagi Islamisme moderat, jika akhirnya menjadi radikal, juga akan gagal dan membawa pada satu lagi masa depan Arab Spring dimana demokrasi sebenarnya adalah jawabannya (seperti di Iran, para mullah itu tidak kejam menghancurkan Revolusi Hijau). Atau mungkin beradaptasi dengan modernitas, menerima pergantian kekuasaan dengan sekularis dan dengan demikian mencapai norma Arab-Islam otentik demokratis dengan evolusi.

Mungkin. Satu-satunya yang bisa dipastikan hari ini, bagaimanapun, adalah bahwa nasionalisme Arab sudah mati dan Islamisme adalah penggantinya. Inilah tempaan Arab Spring. Awal kebijaksanaan yang menghadapi realitas sulit.

Oleh Charles Krauthammer (letters@charleskrauthammer.com)

Dari www.washingtonpost.com

BAGI
Artikel SebelumnyaIbn Khaldun dan Fanatisme
Artikel BerikutnyaAndai kau Tahu…