Keki

0
403 views
damelin.co.za

Oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

Antara Islam dan modernitas ada perseteruan klasik yang sepertinya masih berlanjut. Telah lewat isu-isu—meski belum tuntas—wacana Islam dan negara, Islam dan demokrasi, Islam dan hak-hak perempuan, Islam dan hak-hak non-Muslim, Islam dan ilmu pengetahuan, dan sebagainya. Terkini, Islam dan media sosial.

Sama dengan yang lain, konsekuensi dari modernitas yang bukan berasal dari umat Islam membuat relasi Islam dan media sosial seperti tergagap-gagap. Di satu sisi, ada rasa menggumpal bahwa media sosial bukan produk umat Islam dan karena itu patut dicurigai dan kalau perlu ditolak dan diboikot; tetapi di sisi lain, kerinduan kepadanya sangat tinggi sampai taraf kebutuhan terhadap oksigen. Lalu umat Islam pun jadi keki.

Ini adalah persoalan yang sudah menjadi kronis. Jika tidak segera diatasi, kekekian umat Islam akan menjadi menahun. Salah satu bentuk kekekian adalah upaya islamisasi seluruh hal yang dianggap tidak berasal dari umat Islam itu, termasuk islamisasi media sosial. Bagaimana mengislamisasi sesuatu yang bahkan tidak bisa diagamaisasi? Bisa-bisa terjebak dalam kapitalisasi dengan topeng agama. Paling maksimal adalah upaya membuat aturan etika penggunaannya; dan itu tidak lah khas Islam. Lagi pula, tidak menutup kemungkinan pelanggar etika penggunaannya adalah umat Islam sendiri—terkadang atas nama Islam.

Barangkali yang layak disadari adalah bahwa perlu sesekali melepaskan tendensi teologis dalam merespon dinamika inovasi dan revolusi teknologi hingga tidak harus terjebak dalam dikotomi produk Muslim dan produk non-Muslim. Dampak dari keterjebakan itu adalah upaya untuk mengislamisasi atau; kadang pula berupa upaya klaim bahwa itu sesungguhnya adalah produk Muslim di masa lalu yang dirampas; atau upaya mencari dalil teks suci yang berkaitan dengannya, sekadar hiburan bahwa kitab suci telah lebih dahulu menyinggungnya, jauh sebelum manusia menemukannya. Dan dampak terlucunya adalah kekekian itu tadi; di satu sisi benci dan di sisi lain butuh.

Menganggap dinamika inovasi teknologi semata-mata perkembangan ilmu pengetahuan barangkali lebih bijak. Karena itu, pertarungan yang sesungguhnya adalah penguasaan ilmu pengetahuan, bukan perseteruan teologis. Dengan demikian, agama tidak harus terbebani oleh hal-hal yang sesungguhnya bukan tanggung jawabnya. Teks-teks suci pun tidak harus mengalami pemaksaan untuk mengejar hingga terengah-engah laju setiap temuan ilmu pengetahuan demi untuk melegitimasinya, sedangkan umat Islam sendiri tertidur dalam buaian nostalgia masa lalu yang indah atau selimut teologis yang melelapkan.

Kalaupun hal di atas itu kita setujui, persoalan selanjutnya adalah mampukah kita melaksanakannya? Bukankah persoalan memandang segala hal bertendesi teologis adalah persoalan alam pikiran yang memang teologis dan bukan sekadar mau tidak mau atau suka tidak suka? Mencoba melepaskan pikiran tendensius teologis adalah upaya peralihan alam pikiran ke alam pikiran lain—dalam hal ini alam pikiran ilmiah. Tentu saja beralih dari satu alam pikiran ke alam pikiran yang lain bukan perkara mudah dan bukan urusan orang per orang. Kalaupun mampu, mungkin bukan sekarang. Kini masih saatnya tidur.[]