Kekerasan yang Menggoda

0
58 views

Kekerasan seperti sesuatu yang dihadapi dengan ambigu. Dia dibenci tetapi juga disukai. Semacam sesuatu yang tak terkatakan tetapi nyata di depan hidung. Semacam sesuatu yang malu diucapkan tetapi ramai-ramai dilakukan. Kekerasan menjadi objek yang seksi. Tidak banyak yang dengan terang-terangan mengaku menyukai kekerasan tetapi sangat banyak yang menjadikannya jalan utama untuk menggapai keinginan.

Entah mana yang munafik. Manusia sebagai pelaku kekerasan atau kekerasan itu sendiri sebenarnya yang memang bermuka dua? Tidak dapat disangkal bahwa untuk apapun yang dicita-citakan oleh manusia, maka kekerasan adalah salah satu opsi yang mungkin dijadikan cara untuk menyelesaikan masalah. Uniknya, semakin sesuatu dianggap suci, semakin kekerasan menjadi penting sebagai alat untuk memperjuangkannya. Karena hanya menjadi salah satu opsi, maka kekerasan tidak selalu menjadi solusi, namun tidak jarang pula ia menjadi cara ketika arternatif-kreatif lain terasa telah berujung di jalan buntu.

Bagi pelaku kekerasan, alibi tidak adanya jalan lain sering dimajukan sebagai alasan. Sedangkan penentang kekerasan akan bersikeras bahwa selalu ada jalan lain (dengan tetap mengakui kekerasan adalah salah satu jalan). Bagaimana mengukur salah dan benarnya dua kecenderungan tersebut? Sangat sulit. Salah satu sebabnya adalah karena pilihan-pilihan yang ada adalah pilihan yang sangat personal. Seringkali setiap kasus tidak bisa disamakan begitu saja dengan kasus lainnya, meski mungkin masalah yang dihadapi sama.

Bagi sekelompok orang, semua pilihan cara telah diinventarisir dan dijalani satu-satu, dan mungkin semua jalan telah mentok. Karena itu, kekerasan diledakkan dengan keyakinan akan mendapatkan ‘sesuatu’ walau harus berkalang tanah demi sebuah cita-cita. Bagi kelompok yang lain, alternatif-alternatif kreatif selain kekerasan selalu harus dimajukan. Meski kekerasan adalah salah satu opsi, dia bukan untuk dipilih.

Namun tidak ada jaminan bahwa mereka yang senantiasa berupaya mencari alternatif selain kekerasan akan menemukan yang mereka cari. Dan ketika mereka tidak menemukannya, kekerasan lalu datang menawarkan diri sebagai solusi. Kita mengenal film-film India di mana sang empunya cerita menguras seluruh emosi dan logika hanya untuk menempatkan sang aktor utama di sudut sempit keterpaksaan hingga harus memilih satu-satunya pilihan bagi masalah yang mendera: kekerasan. Kita bisa berandai-andai. Mungkin saja para pelaku kekerasan berada pada posisi itu; posisi di mana tidak ada jalan lain bagi mereka selain jalan kekerasan.

Sampai di situ kita masih layak untuk bertanya-tanya. Sependek itukah jalan berfikir sang pelaku? Sesedikit itukah arlternatif yang dimilikinya? Oke lah. Jalan berfikir setiap orang memang tidak sama panjang. Kecerdasan pun tidak sama rata. Karena itu, alternatif solusi atas permasalahan pun tidak sama banyak antara satu orang dengan orang lainnya. Ada yang panjang ada yang pendek. Ada yang dalam ada yang cetek.

Lalu sebuah pertanyaan berikut: Pernahkah sang pelaku berfikir bahwa Deviana, sang korban dengan bahan material yang menembus kepala hingga otak dan dan Ferriana yang perutnya tembus oleh pecahan bom hingga merusak kandung kemihnya adalah juga isteri, adik, kakak, ibu, anak, dan tante dari orang-orang yang mencintainya? Lalu apa urusannya orang-orang itu dengan kebijakan luar negeri AS dan kekejaman Israel? Mereka tidak lebih dari jamaah gereja yang sedang beranjak pulang setelah selesai kebaktian. Jika jawaban sang pelaku adalah bahwa semua itu wajar atau samua itu adalah semata tumbal niscaya atas nama perjuangan suci yang mereka tebarkan, maka tidak ada lagi ruang untuk bicara. Hati dan logika memang telah buntu. Karena panji-panji Tuhan sedang tidak berdiri teguh? Atau karena sekumpulan bidadari yang sedang menunggu?[]

Oleh Abdul Muid Nawawi