Kekerasan Atas Nama Agama

0
18 views

toleransi beragamaInsiden Cikeusik (06/01/11) dan kerusuhan Temanggung (08/02/11) merupakan gambaran bahwa toleransi beragama di negeri ini sedang diuji. Menyakitkan memang jika agama yang kita yakini dinodai dan dihina dengan ajaran baru atau penistaan dalam bentuk apa pun. Tetapi ketika itu berujung pada kekerasan maka yang terjadi adalah citra Islam sendiri yang ternodai oleh sekelompok orang yang mengaku dan merasa membelanya.

Persoalan agama adalah hal yang sensitif, ketika ia diusik akan mudah memancing emosi. Demi sebuah keyakinan agama, orang bersedia melakukan apa saja. Agama yang diyakini oleh seseorang memberikan motivasi, daya tahan hidup, dan bahkan orang bersedia mati, demi membela keyakinan agamanya.

Membela agama yang diyakini itu sebuah keniscayaan. Membela dan menegakkannya itu sebuah kewajiban. Tetapi bukan dengan jalan kekerasan. Karena apapun alasannya, tindakan anarkis dan kekerasan apalagi sampai menyebabkan jatuhnya korban jiwa tidak dibenarkan dalam Islam. Meski kemarahan itu punya dasar, tetap saja tidak ada justifikasi untuk terjerumus ke dalam kekerasan; cara-cara damai tetaplah harus ditempuh.

Ahmadiyah bisa dibubarkan tanpa harus menelan korban; pelaku penistaan agama bisa diatasi tanpa harus ada pembakaran fasilitas umum dan kerusuhan. Segala permasalahan bisa diselesaikan dengan cara berdialog baik dengan tokoh agama ataupun pemerintah, bukan dengan jalan kekerasan dan anarkisme, sebab jalan kekerasan dan anarkisme hanya akan merugikan semua pihak.

Oleh karena itu kita harus pintar-pintar mengendalikan diri dalam kondisi seperti itu jangan sampai terpancing oleh sekelompok orang atau oknum yang bisa jadi menjadikan penodaan dan penistaan agama sebagai sarana untuk melakukan penodaan yang lebih tinggi yakni dengan memancing emosi sehingga yang tampak dari luar adalah orang Islam suka berbuat anarkis, emosional, dsb.

Islam adalah agama yang cinta damai, agama yang beradab. Tugas kita sebagai muslim adalah berdakwah tanpa melibatkan tindak kekerasan dan mengedepankan perdamaian. Karena pada hakikatnya keberagamaan seseorang dilihat dari sejauhmana ia bisa meneladani sifat-sifat Tuhan yang diantaranya yang paling dominan adalah ar-Rahmaan (Maha Pengasih) dan ar-Rahiim (maha Penyayang). Pancarkanlah sifat kasih dan sayang sebagaimana Allah mengasihi dan menyayangi seluruh makluknya di bumi ini. Wallaahu A’lam.