Kekasih

0
37 views

Oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

Ada kisah tentang Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya yang berkumpul di sebuah tempat. Para sahabat khusyuk mendengarkan petuah-petuah Sang Nabi. Lalu Nabi berkata, “Aku tidak tahan lagi untuk berjumpa dengan kekasihku.” Para sahabat yang cemburu bertanya, “Kami adalah orang-orang yang Anda kasihi dan dan mengasihi Anda. Siapa lagi yang Anda cari?” Nabi menjawab, “Memang bukan kalian yang saya maksud. Kekasihku adalah mereka yang mempunyai jarak psikologis, jarak waktu, jarak geografis, dan jarak budaya yang jauh dari saya tetapi tetap mencintaiku.”

Redaksi kisah di atas tentu tidak sebenarnya karena telah mengalami semacam penggelembungan kata-kata yang dilakukan untuk menyampaikan suatu maksud. Terlepas dari itu, ada satu kata penting dari percakapan Nabi dengan sahabat-sahabatnya tadi, yaitu: jarak. Sebuah kata yang sudah tidak pernah lagi menjadi masalah di “dunia yang dilipat” seperti saat ini. Istilah “dunia yang dilipat” meminjam judul buku Yasraf Amir Piliang untuk menggambarkan dahsyatnya teknologi informasi dan transportasi hingga jarak bisa dipangkas.

Ada adagium lama: dunia tidak selebar daun kelor. Adagium ini mengasumsikan dunia adalah sebuah realitas yang luas tak terpemanai dan sebuah kesalahan fatal menganggapnya kecil. Namu adagium itu tinggallah adagium. Kini, siapapun pasti akan kesulitan mamahami luasnya dunia. Bukankah dunia kini semakin menciut? Tinggal menyentuh layar handphone, sebuah peta membentang singkat, lalu jarak antara Jakarta dan New York tampak hanya seluas beberapa jari. Handphone itu sendiri mungkin lebih besar dari daun kelor, tetapi chip yang mengotakinya bahkan mungkin tidak sampai seperlima lebih kecil dari daun kelor.

Lalu apakah jarak menjadi semakin hilang? Belum tentu. Menguapnya jarak di layar elektronik bukan pertanda jarak benar-benar hilang dalam arti yang lain. Sering terjadi jarak yang dipangkas oleh teknologi informasi hanya mampu menghasilkan sesuatu yang bernama kedekatan dan keakraban semu karena informasi yang melimpah bukan semakin mendekatkan tetapi malah semakin mengangakan jurang kebencian.

Ketika Nabi Muhammad saw menjadikan jarak sebagai acuan kerinduan, tentu saja jarak di sini lebih berarti ujian untuk sesuatu yang lebih berharga, lebih abadi, yang karenanya jarak bukan penghalang. Sesuatu itu disebut cinta. Bagi cinta, jarak bukan penghalang. Bukan juga sekadar penghubung antara dua tepi yang saling merindu, seperti bulan di malam yang sama bagi dua kekasih yang berjauhan. Jarak lebih merupakan alat yang mengasah agar kerinduan semakin membara.

Kedekatan dengan sumber tentu saja adalah sebuah jaminan keaslian yang lebih baik. Mereka yang hidup bersama Rasul sangat mungkin meneladaninya dengan sempurna karena persoalan sekecil apapun bisa dikonfirmasi langsung kepada sumbernya. Itu adalah kelebihan tersendiri yang dimiliki para sahabat dan tidak dipunyai oleh umat yang datang belakangan. Namun ada yang lebih penting dari sekadar peneladanan dalam bentuknya yang paling asli dan kasat mata, yaitu kecintaan kepada Rasul itu sendiri. Untuk urusan yang satu ini, jauhnya jarak Nabi Muhammad saw dengan umat yang dicintainya justeru merupakan nilai lebih yang dimiliki oleh umat yang hadir jauh setelah Sang Nabi wafat dan tidak dimiliki oleh para sahabat. Dan mereka pantas cemburu.[]