Kejatuhan

0
47 views

Oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

Seorang kawan yang baik bertanya, “Kapan tepatnya Nabi Adan dan Hawa diusir dari surga dan jatuh ke dunia?”

“Saya tidak tahu. Apakah itu penting?” jawab saya sambil bertanya.

“Penting karena itu adalah peristiwa bersejarah. Dan karena itu pula, layak diperingati,” jawabanya serius.

Tidak mudah merayakan hari kejatuhan Adam dan Hawa ke bumi karena sulit menerka kapan terjadinya. Itupun jika kala itu sudah ada yang namanya “hari” sebagaimana yang kita pahami saat ini. Belum lagi jika mempertimbangkan perkiraan adanya kemungkinan Adam tidak jatuh dari surga yang ada di langit tetapi dari sebuah tempat nyaman yang sebenarnya juga ada di belahan lain di bumi. Ini menurut sebuah penafsiran.

Namun kejatuhan itu sendiri memang adalah peristiwa penting. Sangat sulit menolaknya. Saya setuju pendapat kawan saya. Bukti pentingnya sangat kasat mata. Sangat banyak pemikir yang mencoba memberi penjelasan tentang peristiwa tersebut, baik melihatnya sebagai bagian dari teologi yang harus diyakini maupun sekadar upaya mencari makna filosofisnya. Saking pentingya peristiwa kejatuhan tersebut, bahkan ada kemungkinan, tanpa peristiwa itu, saya dan Anda tidak akan hadir di muka bumi.

Satu hal yang bisa kita pahami dari kabar Kitab Suci, kejatuhan Adam ke muka bumi adalah peristiwa yang memang sudah direncanakan Allah swt sejak belum menciptakan Adam di mana Allah swt pernah berfirman kepada para Malaikat bahwa Dia akan menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Ketika itu, para Malaikat sempat melayangkan protes yang seperti tidak digubris oleh Allah swt. Sepertinya Allah swt. memang tidak sedang membuka sebuah forum diskusi.

Karena itu, kata “jatuh” dan “kejatuhan” sebenarnya adalah kata yang membingungkan. Pada umumnya, “kejatuhan” dimaknai sebagai peristiwa yang tidak diinginkan atau kejadian yang tidak semestinya. Pada kasus Nabi Adam, kejatuhan adalah sesuatu yang sudah direncanakan oleh Allah swt. dan karena itu, “diinginkan” dan “sudah semestinya”. Ada kemungkinan yang menganggap kejatuhan itu tidak diinginkan dan tidak semestinya terjadi adalah Nabi Adam dan Hawa karena mereka masih sangat betah di surga.

Jika demikian kejadiannya, maka ada benarnya kisah sebuah mitologi bahwa Iblis menamai pohon larangan yang ada di surga itu dengan khuldi yang berarti “keabadian”. Dengan harapan bisa abadi di surga, Nabi Adam dan Hawa tega melanggar larangan Allah. Namun itu sebenarnya bukan masalah. Toh, rencana Tuhan memang seperti itu.

Apapun kejadiannya dan bagaimanapun versi penasirannya, yang pasti Nabi Adam dan Hawa telah jatuh. Jika dilihat dari kacamata zona nyaman, kejatuhan Adam adalah masalah besar karena telah meninggalkan surga dengan segala fasilitasnya dan jatuh ke bumi dengan segala kesusahannya. Namun rencana Allah tidak pernah sia-sia. Pasti.

Perwujudan Nabi Adam sebagai khalifah memang hanya bisa terjadi di bumi di mana hal itu tidak akan mungkin terjadi di surga. Satu hal yang membedakan surga dan bumi adalah di surga, tidak ada jarak antara keinginan dengan kenyataan. Sedangkan di bumi, selalu ada jarak antara keduanya. Jarak itulah yang membuat potensi kemanusiaan Nabi Adam menjadi tergali dan membuatnya menjadi khalifah.

Al-Quran pernah menegaskan bahwa Adam dijatuhkan ke bumi dan di bumi lah Adam akan saling bermusuhan dengan sesamanya.

Nabi Adam dan Hawa memang tidak benar-benar “jatuh”. Allah swt hanya mencarikan jalan agar keduanya bisa menjadi manusia seutuhnya.[]