Keindahan Syariah

0
51 views

“Sesungguhnya Allah itu Indah. Dia menyukai keindahan”. Petikan hadis ini merefleksikan nuansa keindahan Islam, termasuk dalam syariahnya. Bagaimana menilai dan melihat keindahan itu? Keindahan syariah Islam terlihat dengan menggunakan sisi naluri seni yang ada dalam diri manusia. Karena itu, nuansa keindahan kurang  terlihat bagi mereka yang kurang mengerti seni dan keindahan. Semakin tinggi rasa seni seseorang, semakin berpotensi dia merasakan dan menikmati keindahan syariah Islam.

Term yang sering digunakan untuk menggambarkan keindahan syariah adalah “hikmah”. Kata ini digunakan kurang lebih 20 kali dalam al-Qur’an. Makna besar dari kata hikmah adalah pengetahuan mendalam tentang sesuatu. Karena itu, kata ini sering disandangkan dengan ‘ilm (pengetahuan). Kata hikmah juga digunakan al-Qur’an dalam konteks dakwah yang berarti berarti bahwa dalam berdakwah diperlukan pengetahuan yang mendalam.

Keindahan syariah sering dipadankan dengan kata “hikmat al-tasyri’”, yang berarti hikmah dari suatu penetapan hukum. Dengan memahami hikmah dari suatu hukum, akan didapatkan kekuatan penyemangat dalam menjalankannya. Sebagai contoh, orang yang memahami bahwa pelarangan rokok bertujuan memelihara  kesehatan, dapat menaati larangan tersebut lebih baik daripada orang yang dilarang merokok tanpa mengetahui apa sebabnya. Demikian pula halnya dengan pelarangan “golongan putih atau golput”. Sepintas, larangan atau fatwa larangan golput oleh Majelis Ulama Indonesia terkesan menggurui dan mengurusi urusan orang lain. Akan tetapi, di balik fatwa itu didapati hikmah agar pemerintahan Indonesia dapat lebih kuat dan jauh dari perpecahan karena partisipasi politik yang rendah. Banyak lagi, dan hampir di setiap perintah dan larangan terdapat hikmah itu.

Memahami hikmah dari suatu penetapan hukum tidak merata pada setiap orang. Bahkan ada yang memperolehnya dalam level yang tinggi, seperti digambarkan al-QUr’an:

Allah menganugrahkan al hikmah  kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah) (QS. 2:269).

Memang tidak sedikit kalangan yang mempertanyakan keindahan syariah itu pada kasus hukuman mati. Kata mereka, bagaimana mungkin hokum Islam disebut indah, santun, dan manusiawi ketika menerapkan hukum bunuh? Atau, di mana letak keindahan syariah dalam hukum potong tangan? Biasanya pertanyaan ini timbul dari kalangan yang belum mempelajari syariah secara tuntas alias sepotong-potong. Kalangan ini belum memahami bahwa manfaat yang diperoleh dari penegakan hokum yang dianggap “kejam” itu jauh lebih besar dari sekedar menghukum orang per orang yang berkasus. Mereka menutup mata dari penderitaan korban, serta bahaya yang mengancam korban-korban lain karena ketidakjeraan pelaku. Bahkan mereka tidak dapat menjangkau pemahaman dan kepercayaan (iman) bahwa pelaku yang telah menerima hukum setimpal di dunia tidak lagi terbebani oleh pelanggaran hukum tersebut di hari kemudian.

Bahkan dalam saat yang dibutuhkan, perang –yang pada dasarnya adalah tindakan yang disukai, menjadi wajib. Ketidaksukaan atas perintah ini ditepis dengan pernyataan bahwa perintah agama meski tidak disukai, akan mendatangkan manfat.

 Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS. 2:216).

Demikian juga dalam pergaulan rumah tangga. Seorang suami atau isteri diharapkan dapat menerima kekurangan dan kelemahan pasangannya.

Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak (QS. 4:19).

Di luar dari pada soal pidana dan mu’amalah, keindahan syariah dapat lebih dirasakan dalam ibadah. Meresapi keindahan dan kesyahduan bersujud, bersimpuh di haribaan Sang Pengasih ketika shalat adalah keindahan syariah yang tiada tara. Wallah al-Muwaffiq.[]

By Dr. Saifuddin Zuhri, MA.