Kedudukan Harta

0
9 views

convertpoundstodollars.comDalam pandangan Islam, segala sesuatu ada kedudukannya, baik di hadapan Allah swt dan Rasul-Nya maupun di hadapan manusia, demikian pula halnya dengan harta. Memahami kedudukan harta dalam pandangan Islam merupakan sesuatu yang amat penting karena dengan demikian kita bisa memandang dan menempatkan posisi harta sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah swt. Bila sudah demikian, kita akan menjadi orang yang mengendalikan harta bukan dikendalikan oleh harta apalagi sampai menganggung-agungkan harta secara berlebihan hingga diperlakukan harta itu seperti tuhan.

 

Paling tidak ada empat kedudukan harta yang harus kita pahami agar tidak kita salah gunakan dalam kehidupan ini.

1. Amanah

Harta merupakan amanah atau titipan Allah swt kepada kita karena Allah swt percaya kepada kita sebagai orang yang mampu menggunakan harta dengan baik dan tidak lalai dari mengingat Allah swt dalam kaitan dengan harta, baik dalam upaya mendapatkannya dalam arti tidak menghalalkan segala cara maupun dalam membelanjakannya, yakni hanya untuk kebaikan. Oleh karena itu, amanah ini jangan sampai kita sia-siakan sehingga Allah swt mengingatkan kita agar harta bisa dipergunakan secara baik dan tidak melalaikan pemiliknya dari ketentuan Allah swt, sebagaimana firman-Nya: Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah, barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi (QS Al Munafikun/63:9).

Kenyataan memang telah menunjukkan betapa banyak orang yang tidak amanah dalam kaitan dengan harta sehingga mereka menjadi orang yang rugi, tidak hanya dalam kehidupan di dunia tapi juga di akhirat nanti. Karena itu, salah satu faktor yang membuat manusia amat menyesal dalam kehidupan di akhirat nanti adalah tidak amanah dalam kaitan dengan harta sehingga Allah swt mengingatkan dalam firman-Nya: Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku Termasuk orang-orang yang saleh?” (QS Al Munafikun/63:10).

2. Perhiasan Hidup

Memiliki dan bisa menikmati harta merupakan sesuatu yang menyenangkan, namun hal ini hanya kesenangan yang sifatnya sesaat sehingga kitapun tidak boleh lupa diri, baik dalam kaitan mencarinya yang menghalalkan segala cara atau malau menjadi kikir setelah memilikinya. Kesenangan yang sifatnya sesaat dan tidak boleh membuat kita sampai lupa dinyatakan oleh Allah swt dalam firman-Nya: Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) (QS Ali Imran/3:14).

3. Ujian Keimanan

Iman merupakan sesuatu yang pasti diuji oleh Allah swt. Dengan ujian, bisa diketahui seberapa bagus kualitas iman seseorang. Karenanya ujian bisa dilakukan oleh Allah swt dengan sesuatu yang menyengsarakan maupun dengan sesuatu yang menyenangkan, Allah swt berfirman: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan (QS Al Anbiya/21:35).

Oleh karena itu, ketika kita memiliki harta apalagi dalam jumlah yang banyak maka setiap kita harus menyadari bahwa harta itu sebenarnya ujian sehingga dengan harta itu seharusnya kita bisa menunjukkan kualitas keimanan kita yang semakin baik, sedangkan bila kita tidak memiliki atau kurang harta, maka hal itu juga ujian, Allah swt berfirman: Dan Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar (QS Al Anfal/8:28).

Bila kita telah menyadari bahwa harta itu merupakan salah satu bentuk ujian dari Allah swt, maka saat kita memilikinya apalagi dalam jumlah yang banyak kita tidak akan lupa diri, sedangkan bila sedikit bahkan kekurangan harta, maka kita tidak akan larut dalam kesedihan dan berputus asa hingga menempuh cara-cara yang tidak benar agar bisa mendapatkannya. 

4. Pilar Kehidupan

Melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan Allah swt adakalanya membutuhkan harta bahkan sampai mutlak adanya harta baik dalam jumlah yang banyak maupun sedikit. Menunaikan ibadah haji dan umrah jelas membutuhkan harta yang banyak, sedangkan menunaikan shalat juga membutuhkan harta meskipun sedikit karena harus membeli pakaian yang menutup aurat. Karena itu, bila seseorang yang memiliki harta dan belum sempat ia manfaatkan secara baik lalu tanda-tanda kematian sudah ia rasakan, maka amat baik bila ia mau berwasiat kepada keluarganya agar harta itu dipergunakan untuk kebaikan sehingga ia bisa menopang kehidupan orang lain, apalagi dalam jumlah yang banyak, Allah swt berfirman: Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara makruf, (Ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. (QS Al Baqarah/2:180).

Dengan demikian, setiap muslim harus mampu menempatkan dan menggunakan harta dengan sebaik-baiknya.

Oleh Drs. H. Ahmad Yani

BAGI
Artikel SebelumnyaHabl Min an-Nafs
Artikel BerikutnyaBacaan Talbiyah