Kecerdasan Qalbiah

0
45 views

Setiap kita meyakini betul bahwa hati menunjukkan sentral kualitas aktivitas keseharian manusia. Hatilah yang mengendalikan segala tingkah laku otak (termasuk seluruh tubuh). Otak memang bekerja mengirimkan pesan, tetapi di dalam hatilah pesan tersebut diolah. Ketika hati seseorang jernih, ia akan mampu menerjemahkan pesan tersebut dengan jelas, terang benderang, positif. Sebaliknya, ketika hati sedang gelap gulita, maka proses penerjemahan pesan menjadi keruh, emosional, dan merusak. Maka mereka yang hatinya kotor, mengidap beragam penyakit hati, tindak tanduknya niscaya cenderung meresahkan orang lain, bahkan membahayaka dirinya sendiri. Permasalahannya kemudian adalah bagaimana agar hati kita senantiasa jernih, bisa menerima cahaya kebenaran tidak hanya untuk dirinya bahkan memantulkannya kebenaran itu kepada orang lain? Dengan kata lain, bagaimana kecerdasan qalbiah itu bisa hadir?

Sudah tak asing lagi bagi kita sebuah hadis Nabi yang mengatakan: “Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, seluruh tubuh menjadi baik. Tapi bila rusak, semua tubuh menjadi rusak pula. Ingatlah bahwa ia adalah kalbu” (HR. Bukhari).

Hadis tersebut menjelaskan bahwa qalbu (yang biasa diterjemahkan menjadi hati) merupakan kunci dari berfungsinya semua organ tubuh sesuai dengan tuntunan sunatullah. Hati ibarat seorang raja yang segala urusan berada di tangannya, atau sebuah kota dimana akan diperintah dan dipengaruhi oleh orang-orang yang menguasai kota tersebut. Hati manusia dapat menguasai segala anggota tubuhnya. Hati bersemayam di dalam dada, dilindungi, dikelilingi, dan dilayani oleh seluruh anggota badan yang lain. Hati merupakan anggota badan manusia yang plaing mulia. Dengan hati yang bersih, pilar-pilar kehidupan kokoh berdiri.

Dalam kaitan dengan ini, al-Ghazali, mendefinisikan qalbu menjadi dua. Pertama, qalbu jasmani yaitu segumpal daging yang terletak di dada sebelah kiri atau disebut jantung (heart). Kedua, qalbu rohani, yaitu sesuatu yang bersifat halus (lathifi), rabbani, dan ruhani. Qalbu jasmani berfungsi megatur peredaran darah serta segala perangkat tubuh manusia. Sementara qalbu rohani berperan sebagai pemandu dan pengendali struktur jiwa (nafs). Bila kedua fungsi qalbu ini berjalan normal dan baik maka kehidupan manusia akan baik, dan berjalan sesuai fitrahnya.

Kaum sufi tidak menggunakan makna qalbu yang menunjuk pada segumpal daging yang terdapat di dada manusia. Akan tetapi mereka lebih memberikan makna sebagai substansi yang halus, bukan materi, dan berfungsi untuk mengenal hakikat segala sesuatu, serta memiliki kemampuan untuk merefleksikan sesuatu; seperti kaca yang memantulkan sebuah gambar. Kemampuan hati di dalam merefleksikan suatu hakikat masih sangat tergantung kepada sifat hati, sesuai dengan perintah panca indera, syahwat, maksiat dan cinta. Sejauh hati bersih dari kendala-kendala yang dapat menutupinya, maka sejauh itu pula hati dapat menangkap hakikat yang ada.

Demikian pentingnya fungsi hati dalam tubuh manusia terhadap perilaku seseorang. Apabila ada sesuatu yang dapat mengambil alih posisinya maka ia-lah yang akan menguasai seluruh anggota tubuhnya. Pengaruh pertama yang sangat memiliki kekuatan untuk mempengaruhi hati adalah syahwat yang terletak di bagian perut, atau insting-insting lain dengan segala alirannya yang berupa perilaku hawa nafsu. Semua aliran di atas berupaya untuk mengguncangkan dan mempengaruhi hati. Syahwat dan hawa nafsu berasal dari perut, naik ke atas menuju dada, dimana syahwat dan hawa nafsu itu berupa asap serta mendung kegelapan yang akan menyelimuti mata hati (al-fuad). Sehingga hati menjadi buta.

Kekuatan dan pengaruh kedua yang berupaya mempengaruhi hati adalah beberapa perasaan. Perasaan tersebut selalu menjadi incaran syahwat untuk dipengaruhi dan akan dikalahkannya. Seperti perasaan cinta, senang akan kehidupan duniawi. Diincar oleh syahwat agar tunduk dengan menutup pintu mata hati sehingga perasan cinta dan senang megandung syahwat dan mempengaruhi seluruh anggota tubuh manusia.

Kekuatan ketiga, jiwa atau indera. Memilki intensitas yang lebih kecil peran yang dimainkan oleh indera hanya merupakan pembuka dari dua pusat kekuatan, apakah pembuka dari syahwat atau dari perasaan-perasaan yang lain.

Untuk meraih kecerdasan qalbiah memang bukanlah hal yang mudah, kita perlu melatih diri, paling tidak ada tiga langkah yang harus kita lakukan:

Pertama, Kenali diri sendiri. Seseorang yang mengenali dirinya, mengetahui kondisi jiwanya serta riak gelombang keimanan di hatinya maka ia akan mengetahui tindakan apa yang paling tepat yang harus ia lakukan.

Kedua, muhasabah, introspeksi diri. Lihat apa saja yang telah kita lakukan minimal setiap malam sebelum tidur. Apakah sudah sesuai dengan tuntunan Islam atau belum.  Kalau belum maka bertaubatlah dan berusahalah untuk memperbaikinya.

Ketiga, kecerdasan qalbiah akan hadir tatkala seseorang senantiasa merasakan kehadiran Allah swt dalam setiap tindakan, kapan pun dan dimana pun.
Perilaku qalbiah akan timbul manakala kita selalu mengingat Allah (dzikrullah). Karena Dia adalah sumber kebenaran tertinggi dan kepada-Nya kita kembali. Mengingat Tuhan dapat dilakukan melalui sholat, berzikir, dan lain sebagainya yang dapat mengisi hati manusia dengan sifat-sifat Tuhan. Firman Allah dalam surah al-Ahzab [33] ayat 41: ”Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” Dalam ayat lain Allah juga berfirman: “Seseorang yang selalu mengingat Allah hatinya akan merasa tenang (QS. ar-Ra’d [13]:28). 

Setelah kita mengingat Sang Khalik, kita akan menemukan keharmonisan dan ketenangan dalam hidup. Misalnya kita tidak akan takut rezeki kita akan hilang karena rezeki kita sudah dijamin, namun kita justru harus takut untuk melakukan perbuatan yang dilarang. Kita tidak akan lagi menjadi manusia yang rakus akan materi, tapi dapat merasakan kepuasan tertinggi berupa kedamaian dalam hati dan jiwa, sehingga kita mencapai keseimbangan dalam hidup dan merasakan kebahagiaan spiritual. Wallâhu A’lam.