Kebesaran Ka’bah dan Hikmahnya

0
41 views

Pada tahun 571 M, Raja Abrahah al Asyram al Habasyi mengerahkan pasukan perang dari Yaman menuju Makkah. Tentara yang gagah perkasa dan dalam jumlah yang banyak itu bermaksud menghancurkan Ka’bah. Bersamaan dengan itu, Muhammad yang kelak menjadi Nabi dilahirkan. Kegembiraan atas kelahiran Muhammad menyelimuti keluarga besar Bani Hasyim dan penduduk Makkah. Rumah Allah swt yang suci dan mulia ini dilindungi oleh pemiliknya, yakni Allah swt. Karena itu upaya tentara yang semuanya menunggang gajah itu menemui kegagalan yang tragis. Peristiwa yang luar biasa, khususnya bagi orang-orang Arab pada masa itu membuat mereka begitu gembira sehingga sejak itu tahunnya diberi nama dengan tahun gajah. Peristiwa ini diabadikan oleh Allah swt dalam Al-Qur’an: Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu Telah bertindak terhadap tentara bergajah?Bukankah dia Telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia?Dan dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong,Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, Lalu dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat) (QS Al Fiil/105: 1-5).

Secara harfiyah, Ka’bah berasal dari kata ka’aba yang berarti semua rumah atau bangunan yang bersegi empat. Ka’bah disebut demikian karena bangunannya bersegi empat (Ensiklopedia Al Qur’an, jilid 2 hal 441).

Ketika menyebut Ka’bah, yang tidak bisa kita pisahkan adalah nama Nabi Ibrahim yang mendirikannya, Allah swt berfirman: Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS Al Baqarah/2: 127).

Orang-orang kafir Quraisy menjadikan Ka’bah sebagai pusat peribadatan mereka, karenanya digantung 360 berhala di sekeliling Ka’bah itu untuk mereka sembah. Namun, dalam perkembangannya, dua tahun sesudah Nabi dan para sahabat hijrah ke Madinah, Allah swt menetapkan Ka’bah sebagai kiblat shalat bagi umat Islam, dimanapun mereka berada, inilah memang yang lebih disukai oleh Rasulullah saw dan tidak bisa dibantah oleh siapapun, sebagaimana firman-Nya: Sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, Maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan (QS Al Baqarah/2: 144)

th02.deviantart.netAda banyak hikmah atau pelajaran yang bisa kita ambil dari keberadaan Ka’bah. Pertama, kehidupan yang kita jalani selalu berorientasi kepada Allah swt. Shalat yang kita lakukan menghadap Ka’bah sebenarnya bukan menyembah Ka’bah, tapi menyembah Allah swt. Bila setiap shalat sudah menghadap Ka’bah tapi orientasi hidup kita kepada selain Allah swt, maka shalat yang kita lakukan itu hanya formalitas, sekadar menggugurkan kewajiban, Allah swt berfirman: Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam (QS Al An’am/6: 162).

Kedua, ketika tawaf yang dilakukan dengan mengelilingi Ka’bah, maka itu menunjukkan bahwa kaum muslimin harus selalu merasa dekat kepada Allah swt dan menjalani hidup sesuai dengan garis, ketentuan atau syariat-Nya, Allah swt berfirman:  Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui (QS Al Jatsiyah/45: 18).

Karena itu, siapa saja yang dekat kepada-Nya, maka Allah swt memuliakannya sehingga Siti Hajar yang meskipun dahulunya seorang budak, tapi karena dia dekat kepada Allah swt, maka tempatnya mengasuh anak, yakni Ismail di dekat Ka’bah dinamai dengan Hijr Ismail.

Ajaran Islam menetapkan bahwa Ka’bah merupakan tempat yang wajib dikunjungi oleh kaum muslimin dari seluruh dunia, karena setiap muslim wajib menunaikan ibadah haji bila memiliki kemampuan. Ini semua mengisyaratkan bahwa kedekatan kaum muslimin kepada Allah swt harus selalu diperkokoh sehingga tidak dilakukan penyimpangan dari ketentuan-ketentuan-Nya.

Setiap muslim yang datang dan melihat Ka’bah, bila dipandang dengan penghayatan yang dalam pasti merasakan betul kebesaran Allah swt, karenanya tidak heran bila di sekitarnya manusia dari berbagai belahan dunia selalu mengelilinginya dalam tawaf selama 24 jam setiap harinya, meskipun bukan musim ibadah haji.

Akhirnya, selalu menghadap Ka’bah dalam shalat seharusnya membuat kita memiliki ikatan batin yang kuat kepada Allah swt dan sesama kaum muslimin dari seluruh dunia yang juga menghadapnya.

By Drs. H. Ahmad Yani