Kebahagiaan Orang Tua

0
52 views

kisah teladanAbu Bakar ash-Siddiq dikenal sebagai sahabat Rasulullah yang paling setia dan laki-laki pertama yang beriman kepada kerasulan Muhammad saw. Salah satu anaknya bernama Abdurrahman. Walaupun bapaknya telah menjadi pengikut setia dan pembela Rasulullah saw dari segala kejahatan orang-orang kafir, Abdurrahman justeru menjadi salah seorang penentang keras ajaran Islam. Ia begitu kuat memegang agama nenek moyang yang mengajarkan penyembahan terhadap berhala. Bahkan dalam perang Badar, ia tampil dengan gigihnya dalam barisan kaum musyrikin, walaupun mereka menderita kekalahan yang amat menyakitkan.

Dari kekalahan itu, kaum kafir Quraisy mengerahkan segala kemampuan untuk balas dendam dalam perang berikutnya. Dan pecahlah perang Uhud. Kaum kafir membuktikan keberhasilan mereka, dan persiapan matang yang mereka lakukan tidaklah sia-sia. Abdurrahman berhasil dengan gemilang memimpin pasukan panah dan banyak pasukan Rasulullah yang mati syahid melalui pasukan panah itu.

Tapi sebelum kedua pasukan bertempur, terlebih dahulu dilakukan perang tanding, satu lawan satu. Dari pihak kafir, Abdurrahman maju menantang siapa saja dari pihak tentara Islam. Maka bangkitlah Abu Bakar ash-Siddiq, ia maju ke depan melayani tantangan anaknya. Tapi sebelum keduanya bertarung, Rasulullah saw segera menahan Abu Bakar dan menghalanginya berkelahi dengan anaknya sendiri.

Seperti umumnya orang Arab yang amat memegang teguh keyakinan, Abdurrahman juga demikian dengan keyakinannya terhadap agama nenek moyangnya meskipun ia juga hormat pada keyakinan bapaknya yang lebih dulu meninggalkan agama nenek moyang. Orang seperti Abdurrahman memang perlu waktu lama untuk memperlunak sikapnya.

Sehingga pada akhirnya, saat yang dtunggu Abu Bakar pun tiba. Abdurrrahman berhasil mengikis keyakinannya yang sesat, secepatnya ia menemui Rasulullah untuk menyatakan memeluk agama yang benar. Abu Bakar adalah orang yang paling bahagia melihat anaknya berjanji setia kepada Rasulullah saw.

Setelah menjadi muslim, tekadnya membaja guna mengejar ketinggalan dari sahabat lain dalam berislam. Tiap ada kesempatan untuk berjihad, ia tidak pernah mengabaikan. Bahkan dalam perang Yamamah, ia berjasa besar dalam menumpas orang-orang yang murtad (kembali menjadi kafir) yang dipimpin oleh Musailamah, karena ia berhasil membunuh Mahkam bin Thufeil, tokoh pendusta di belakang Musailamah.

Begitu seterusnya, sikapnya semakin mantap sebagai seorang muslim, kecintaannya kepada kebenaran tak seorang pun yang bisa memutuskannya, tak ada satu pun yang bisa mempengaruhinya. Bahkan ketika Muawiyah mengirim utusan dengan membawa uang sebanyak seratus ribu dirham untuk membujuknya, uang sebanyak itu dilemparnya kepada utusan Muawiyah sambil berkata: “kembalikan kepadanya dan katakan bahwa Abdurrahman tidak mau menjual agamanya dengan dunia.”

Karena begitu marahnya, Muawiyah segera mengejarnya ke Madinah. Mengetahui hal itu Abdurrahman meninggalkan Madinah menuju Makkah. Di tengah perjalanan di luar kota Makkah, Abdurrahman beristirahat sejenak, tapi Allah swt memanggilnya, ia wafat. Dan sahabat-sahabat mengusung jenazahnya lalu dimakamkan di suatu dataran tinggi di kota Makkah. Mendengar kabar tersebut Abu Bakar Ash-Shidiq pasti merasa sedih. Namun demikian di lubuk hati yang paling dalam ia amat bahagia mempunyai anak shaleh seperti Abdurrahman itu.

 

Dari kisah di atas, pelajaran yang kita peroleh adalah:

1.     Setiap orang tua harus berusaha untuk mengarahkan anak-anaknya agar beriman dan taqwa kepada Allah swt.

2. Tidak ada kebahagiaan orang tua yang sesungguhnya kecuali bila anaknya menjadi orang yang shaleh.