Kaum Tagarian

0
261 views
http://pontianak.tribunnews.com

Oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

Apakah kita yang menciptakan tagar dan kata-kata yang mengikutinya atau kita yang diciptakan olehnya? Apakah kita yang mempermainkan tagar berserta kata-kata yang mengikutinya atau kita yang dipermainkan olehnya? Di sini, di dunia ini, kitalah yang menciptakan tagar dan kata-kata yang mengikutinya. Paling tidak begitulah perasaan kita berkata kepada kita.

Tapi ada sebuah dunia lain, yang berbeda dengan dunia kita, di mana tagar dan kata-kata yang mengikutinya lah yang menciptakan warga di sana, bukan warga yang menciptakan tagar dan kata-kata yang mengikutinya. Kalaupun warga mengatakan bahwa mereka itulah yang menciptakan tagar, itu hanya perasaan mereka saja. Dan perasaan mereka sering menipu.

Di dunia lain tersebut, tagar adalah bagian dari bahasa dan warga selalu takluk pada perangkat kaidah dan sistem pemaknaan yang ada di dalam bahasa itu dan juga bagaimana cara “memakainya”. Barangkali kata “memakai” juga keliru. Warga itulah yang “dipakai” dan menjadi obyek oleh gejolak makna yang senantiasa menggeliat di luar kendali warga.

Warga dunia lain itu, pernah mengalami masa ketika mereka menganggap seluruh tindakan mereka adalah atas kehendak kesadaran mereka semata, bukan di luar kendali kesadaran mereka, termasuk dalam hal kendali kesadaran atas makna. Mereka sangat yakin bahwa merekalah pencipta makna-makna. Saat itu, mereka merayakan rasionalitas dan meyakini bahwa rasionalitaslah yang mengendalikan seluruh aktivitas mereka.

Lalu tiba masa ketika mereka tersadarkan bahwa apa yang selama ini mereka anggap sebagai kehendak ternyata tidak lebih daripada ilusi. Rasionalitas yang mereka rayakan tiba-tiba sadar bahwa rasio bukanlah penentu utama setiap tindakan yang mereka lakukan. Mereka menjadi tahu bahwa mereka hanyalah mainan dari gejolak makna yang senantiasa menggeliat di luar kendali dan di luar kehendak rasionalitas mereka.

Bagaimana dengan tagar dan kata-kata yang mengikutinya? Sama saja. Warga di dunia lain itu memahami bahwa tagar dan kata-kata yang mengikutinya hanyalah reaksi atas aksi. Reaksi tidak memiliki diri yang otonom karena dia hanya bisa ada dan bahkan hanya bisa bermakna jika ada aksi. Karena itu, tagar dan kata-kata yang mengikutinya tidak menciptakan maknanya sendiri. Maknanya dikendalikan oleh sesuatu di luar dirinya; yang dalam hal ini adalah aksi.

Lalu, ketika tagar dan kata-kata yang mengikutinya itu terlanjur hadir di muka dunia, dia bahkan menjadi jauh lebih perkasa dari sebelumnya. Dia bukan hanya tidak terkendali tetapi lebih daripada itu, dia berkuasa untuk mengendalikan, baik warga yang merasa menciptakannya maupun warga yang tidak setuju atas kehadirannya.

Warga yang merasa menciptakannya tersandera oleh tagar dan kata-kata yang mengikutinya hingga mereka berfikir, berkata, berbuat, berjalan, berhenti, berjalan lagi, makan, minum, membuat status, dan hingga bernafas dan bermimpi pun harus dalam kerangkeng kuasa sang tagar dan kata-kata yang mengikutinya. Bahkan doa-doa di penghujung malam yang berhiaskan tangis bernuansa religius pun tidak lepas dari kuasa sang tagar dan kata-kata yang mengikutinya.

Warga yang tidak setuju atas kehadiran sang tagar dan kata-kata yang mengikutinya pun terkena getah, meski tidak ikut memakan nangka. Mereka pun harus berfikir, berkata, berbuat, berjalan, berhenti, berjalan lagi, makan, minum, membuat status, dan hingga bernafas dan bermimpi dalam kerangkeng anti terhadap kuasa sang tagar dan kata-kata yang mengikutinya.

Tagar dan kata-kata yang mengikutinya tidak meluputkan sedikit ruang pun bagi kebebasan warga di dunia lain itu, suka maupun tidak. Sedangkan kita di sini sibuk merayakan kebebasan mengumbar tagar-tagar dan kata-kata yang mengikutinya hingga tidak ada ruang bagi kita untuk bertanya: Apakah kita yang mempermainkan tagar dan kata-kata yang mengikutinya atau kah kita lah yang dipermainkan oleh mereka?[]