Karamah

0
9 views

Karamah adalah kejadian di luar kebiasaan (tabiat manusia) yang Allah swt anugerahkan kepada seorang hamba tanpa disertai pengakuan (pemiliknya) sebagai seorang nabi, tidak memiliki pendahuluan tertentu berupa doa, bacaan, ataupun dzikir khusus, yang terjadi pada seorang hamba yang shalih, baik dia mengetahui terjadinya (karamah tersebut) ataupun tidak, dalam rangka mengokohkan hamba tersebut dan agamanya.

 Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Dan termasuk dari prinsip Ahlu al-Sunnah wa al-Jamâ’ah meyakini adanya Karamah para wali dan apa-apa yang Allah swt perbuat dari keluarbiasaan melalui tangan-tangan mereka baik yang berkaitan dengan ilmu, mukasyafat (mengetahui hal-hal yang tersembunyi), bermacam-macam keluarbiasaan (kemampuan) atau pengaruh-pengaruh.”
Karamah ini tetap ada sampai akhir zaman dan terjadi pada umat ini lebih banyak daripada umat-umat sebelumnya, yang demikian itu menunjukan keridhoan Allah swt terhadap hamba-Nya dan sebagai pertolongan baginya dalam urusan dunianya atau agamanya. Namun bukan berarti Allah swt benci terhadap orang-orang yang tidak nampak karamah padanya.
Kepada siapakah Karamah ini diberikan?
Karamah, Allah swt berikan kepada hamba-hamba-Nya yang benar-benar beriman serta bertaqwa kepada-Nya, yang disebut dengan wali Allah swt. Allah swt berfirman ketika menyebutkan tentang sifat-sifat wali-wali-Nya :
Artinya: “Ketahuilah sesungguhnya wali-wali Allah swt itu tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati, yaitu orang-orang yang beriman dan mereka senantiasa bertaqwa“. (QS Yunus [10]: 62-63)

Apakah wali Allah swt itu memiliki atribut-atribut tertentu?
Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa wali-wali Allah swt itu tidak memiliki sesuatu yang membedakan mereka dengan manusia lainnya dari perkara-perkara dhâhir yang hukumnya mubah seperti pakaian, potongan rambut atau kuku. Dan merekapun terkadang dijumpai sebagai ahli al-Qur’an, ilmu agama, jihad, pedagang, pengrajin atau para petani.
Apakah wali Allah swt itu harus memiliki karamah? Lebih utama manakah antara wali yang memilikinya dengan yang tidak?

Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa tidak setiap wali itu harus memiliki karamah. Bahkan, wali Allah swt yang tidak memiliki karamah bisa jadi lebih utama daripada yang memilikinya. Oleh karena itu, karamah yang terjadi di kalangan para Tabi’in itu lebih banyak daripada di kalangan para Sahabat, padahal para Sahabat lebih tinggi derajatnya daripada para Tabi’in.

Apakah setiap yang di luar kebiasaan dinamakan dengan Karamah?
Abdul Aziz bin Nashir ar-Rasyid memberi kesimpulan bahwa sesuatu yang di luar kebiasaan itu ada tiga macam:
– Mu’jizat yang terjadi pada para Rasul dan Nabi
– Karamah yang terjadi pada para wali Allah swt
– Tipuan setan yang terjadi pada wali-wali setan

Sedangkan untuk mengetahui apakah itu karamah atau tipu daya setan tentu saja dengan kita mengenal sejauh mana keimanan dan ketakwaan pada masing-masing orang yang mendapatkannya (wali) tersebut. Imam Syafi’i berkata: “Apabila kalian melihat seseorang berjalan di atas air atau terbang di udara maka janganlah mempercayainya dan tertipu dengannya sampai kalian mengetahui bagaimana dia dalam mengikuti Rasulullah saw.”

Beberapa contoh Karamah
1. Allah swt berfirman:

Artinya: “Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nadzar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah swt menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah swt”. Sesungguhnya Allah swt memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab”.

(QS Al Imran [3]: 37)

Syaikh Abdurrahman al-Sa’di berkata: “Ayat ini merupakan dalil akan adanya Karamah para wali yang keluar dari kebiasaan manusia, sebagaimana yang telah mutawatir dari hadits-hadits tentang permasalahan ini. Berbeda dengan orang-orang yang tidak meyakini tentang adanya Karamah ini.”

2. Apa yang terjadi pada Ashhâb al-Kahfi (penghuni gua). Suatu kisah agung yang terdapat dalam surat Al Kahfi. Allah swt berfirman :
Artinya:”Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka dan kami tambahkan pada mereka petunjuk.”(QS Al Kahfi [18]: 13).
Mereka ini (Ashâb al-Kahfi) sebelumnya hidup di tengah-tengah masyarakat yang kafir (dengan pemerintahan yang kafir) lalu mereka lari dari masyarakat itu. Dalam rangka menyelamatkan agama mereka, kemudian Allah swt melindungi mereka di dalam al-Kahfi (gua yang luas yang berada di gunung).
Tatkala Allah swt telah menyelamatkan mereka di dalam gua tersebut, lalu Allah swt tidurkan mereka dalam waktu yang sangat panjang, disebutkan dalam ayat:

 Artinya:”Mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun lagi” (QS Al Kahfi [18] :25).

3.Diantara Karamah para wali yang disebutkan dalam al-Qur’an adalah apa yang terjadi pada Dzul Qarnain yaitu seorang raja yang shalih yang Allah swt nyatakan dalam firman-Nya:  Artinya:“Sesungguhnya kami telah memberi kekuasaan kepadanya di muka bumi dan kami telah memberikan kepadanya jalan untuk mencapai segala sesuatu”

(QS Al Kahfi [18] :84)

Perbedaan Antara Karamah Dan Perbuatan Syaithân:
Ada sesuatu yang bukan mu’jizat dan juga bukan Karamah, dia adalah “Al Ahwal As Syaithoniyyah” (perbuatan syaithân). Inilah yang banyak menipu kaum muslimin, dengan anggapan bahwa ia Karamah, padahal justru tidak ada kaitannya dengan Karamah, karena:
1. Karamah datangnya dari Allah swt sedangkan ia jelas datangnya dari syaithân, sebagaimana yang terjadi pada Musailamah Al Kadzdzab dan Al Aswad Al Ansyi (Dua orang pendusta di zaman Rasulullah saw yang mengaku menjadi nabi) dan menyampaikan perkara-perkara yang ghoib, ini jelas merupakan perbuatan syaithân.

 

2. Demikian pula Karamah para wali disebabkan karena kuatnya keimanan dan ketaatan mereka kepada Allah swt. Ibnu Taimiyah mengatakan: “Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah swt maka ia pun menjadi wali Allah swt”. Sedangkan perbuatan syaithân ini dikarenakan kufurnya mereka kepada Allah swt dengan melakukan kesyirikan-kesyirikan serta kemaksiatan kepada Allah swt, dan syarat-syarat tertentu yang harus ia lakukan.

3. Karamah merupakan suatu pemberian dari Allah swt kepada hamba-Nya yang shalih dengan tanpa susah payah darinya, berbeda dengan perbuatan syaithân, maka ini terjadi dengan susah payah setelah sebelumnya ia berbuat syirik kepada Allah swt.

4. Karamah para wali tidak bisa disanggah atau dibatalkan dengan sesuatupun. Berbeda dengan perbuatan syaithân yang dapat dibatalkan dengan menyebut nama-nama Allah swt atau dibacakan ayat kursi atau yang semisalnya dari ayat-ayat al-Qur’an. Bahkan Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa ada seseorang yang terbang di atas udara kemudian datang seseorang dari Salafushshâlih lalu dibacakan ayat kursi kepadanya maka seketika itu dia jatuh dan mati.

 

5. Karamah itu tidaklah menjadikan seseorang sombong dan merasa bangga diri, justru dengan adanya Karamah ini menjadikannya semakin bertaqwa kepada Allah swt dan semakin mensyukuri nikmat Allah swt. Adapun perbuatan syaithân bisa menjadikan seseorang bangga diri atau sombong dengan kemampuan yang dia miliki serta angkuh terhadap Allah swt, sehingga jelaslah bagi kita akan hakekat Karamah dan perbuatan syaithân.

 

Sumber:

1.      Syarhu Ushulil I’tiqad 9/15 dan Syarhu Al Aqidah Al Wasithiyah 2/298 karya Asy Syaikh Ibnu Utsaimin.

2.      Taisîr Karîm al-Rahmân karya As Sa’di hal, 368.

3.      Majmu’ Fatâwâ 11/194/11/283).

4.      At Tanbîhât al-Saniyyah hal. 312-313).

5.      A’lâm al-Sunnah Al Manshûrah hal. 193).