Karam

0
388 views
winwalls.ru

oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

Gerangan manusia adalah perumpamaan pantai-pantai dan Tuhan adalah Semudera. Gerangan pula, karena itu, Muhyi al-Din Ibn Arabi pernah berkata: Karamkan daku, ya Rabbi, pada kedalaman Samudera-Mu yang tak bertepi.”

Samudera itu sendiri perumpamaan “akhir” dari segala sesuatu dan barangkali dengan demikian juga adalah perumpamaan “awal” dari segala sesuatu. Sebagai umpama, mungkin bisa dipakai contoh air dalam proses terjadinya hujan. Air hujan selalu dianggap berawal dari penguapan samudera akibat panas. Proses itu terus berlanjut hingga pada ujungnya air kembali ke samudera. Begitulah samudera yang merupakan akhir sekaligus awal.

Sudah menjadi tabiat samudera untuk selalu menghasilkan gelombang yang kadang datang dalam bentuk gelora dan kadang pula dalam bentuk riak kecil ombak yang menghempas ke pantai. Gelombang itulah perumpamaan hidayah. Sebagaimana gelombang tidak pernah berhenti datang, bagitu pula hidayah tidak pernah beristirahat menyapa pantai-pantai kita. Persoalannya, apakah kita bersedia menghanyutkan diri bersama surutnya gelombang hidayah lalu karam pada kedalaman Samudera yang Abadi dan Tak Terbatas atau tidak?

Setiap kali gelombang surut, niscaya tertinggal jejak-jejak basah di sepanjang pantai. Jejak-jejak itulah perumpamaan aspek formal agama yang kita kenal. Jejak-jejak itu bisa berbeda satu sama lain, tergantung material-material pantai yang diterpa oleh gelombang. Meski berbeda, jejak-jejak basah itu adalah hasil cerapan terbatas, bersahaja, dan tidak abadi namun tulen peninggalan gelombang. Karenanya, jejak-jejak basah itu tidak mungkin tidak penting. Lewat yang jejak-jejak basah  itulah kita meninti jalan menuju Samudera lalu karam di dasarnya.

Bagaimanapun, jejak-jejak basah di sepanjang pantai adalah hal yang berbeda dengan gelombang yang surut kembali ke Samudera; meski keduanya pasti akan kembali ke Samudera dengan caranya sendiri-sendiri. Di antara manusia ada yang menekuri jejak-jejak basah itu dan terlupa bahwa sesungguhnya tujuan utama segalanya adalah kembali ke Samudera. Ada juga yang melupakan jejak-jejak basah dan lebih terpikat kepada Samudera dengan harapan karam.

Keterlupaan kepada tujuan utama untuk kembali ke Samudera dan hanya fokus kepada jejak-jejak basah sering membuat orang menganggap pantainyalah pantai terbaik di semesta galaksi atau bahkan pantainya adalah satu-satunya pantai di alam semesta. Benarkah gelombang Samudera hanya menyapa satu pantai saja? Benarkah hanya ada satu pantai di semesta raya?

Keterpikatan pada Samudera yang mengakibatkan keterlupaan pada jejak-jejak basah mengalami persoalan serupa. Bagaimanapun pantai adalah pantai; bukan gelombang; apalagi Samudera. Kesadaran untuk mengaramkan diri ke kedalaman Samudera menghendaki proses tahap demi tahap, lapisan demi lapisan, tapak demi tapak.

Kesadaran relasi pantai dan Samudera dimulai dengan kesadaran bahwa pantai kita adalah salah satu pantai dari sekian banyak pantai yang disapa gelombang. Sapaan itu adalah bentuk hidayah Samudera yang mengajak kita untuk hanyut lalu karam di dasarnya dengan meniti jejak-jejak basah tahap demi tahap.

Tubuh kita yang ringkih ini tidak mungkin dibawa serta selalu dalam perjalanan menuju Samudera. Sifatnya yang rangup membuatnya tidak mampu bertahan di alam keabadian. Namun tidak mungkin secara tiba-tiba tubuh ditinggalkan karena ikatan kita dengannya sangat kuat sejak ruh mendiami jasad. Sedikit demi sedikit kehendak tubuh dikendalikan dengan cara mengikuti jejak-jejak basah. Jejak-jejak yang membawa  ke kedalaman Samudera.

Bahan Bacaan

Martin Lings, Ada Apa Dengan Sufi?, Yogyakarta: Penerbit Pustaka Sufi, 2004