Kan ku Gapai Lailatul Qadar

0
38 views

Pemuda itu sedang berteduh di bawah pohon, sejenak menghindari terik matahari yang menyengat setelah cukup lama ia mengendarai motor kesayangannya, motor yang selama ini senantiasa menemani dirinya kemanapun ia pergi..

Belum lama pemuda itu menikmati udara segar yang menghembus sejuk mendinginkan tubuhnya … datanglah seorang kakek tua menghampirinya, wajahnya tampak begitu cerah, bajunya yang berkelebat tertiup angin itu terlihat begitu putih dan bersih, jelas pemuda itu belum pernah mengenal sang kakek tersebut. Namun dengan kelembutan wajah sang kakek dan air mukanya yang tampak sangat bersahabat, pemuda itu tidak merasa canggung dihampiri sang kakek,  bahkan rasanya seperti sudah kenal sebelumnya…

Tiba-tiba sang kakek dengan lembutnya bertanya kepada anak muda itu,

“Apa kabar anak muda ? Engkau terlihat begitu capek, namum di wajahmu tergambar semangat yang menyala ?

“Al-hamdulillah saya baik kek, Cuma sedikit capek makanya aku berteduh di bawah pohon ini untuk sejenak menikmati kesejukan “, jawab pemuda itu.

“Kamu puasa ?” Tanya sang kakek. “Ya.. saya sedang puasa kek.. ini kan bulan Ramadhan dan saya seorang muslim”, jawabnya tegas.

“Apa target puasamu di tahun ini”, kembali sang kakek bertanya. Kali ini pemuda itu agak kaget dengan pertanyaan sang kakek.  Bukan karena dia tidak punya jawabannya, namun karena  dia sama sekali tidak menyangka akan  ada orang yang menanyakan hal itu kepadanya, karena memang tema itulah yang sedang menghiasi benaknya mulai awal bulan ramadhan tahun ini …

Setelah sejenak terdiam pemuda itu menjawab, “Kan ku gapai Lailatul Qadar ” dengan suara sedikit berat pemuda itu tampak melafaldkan jawabanya dari dasar hatinya yang paling dalam.

“Memang kamu tahu kapan datangnya Lailatul Qadar ? kembali sang kakek bertanya.

“Tidak penting bagi saya kapan turunnya lailatul qadar, ada yang bilang malam ke 27 Ramadhan, ada ustadz yang bilang di malam-malam ganjil pada sepuluh terahir di bulan Ramadhan, saya bukannya tidak percaya dengn sekian banyak riwayat hadits tentang kapan turunnya Lailatul Qadar, tapi bagi saya yang terpenting adalah dia pasti akan ada di setiap bulan Ramadhan, itu yang saya yakini, “.

“Kamu begitu pencaya diri ingin menggapai lailatul Qadar, memangnya apa pentingnya Lailatul Qadar dan apa yang sedang kau persiapkan untuk menggapainya”?

“Kek… Aku sangat berharap bisa menggapai Lailatul Qadar di Ramadhan kali ini, aku bersyukur kek, bisa menikmati bulan Ramadhan di tahun ini, aku tidak yakin dan memang tidak ada yang bisa menjamin tahun depan aku bisa bertemu lagi dengan Ramadhan, tidak ada kan yang bisa menjamin karena kematian ada di tangan Tuhan, maka aku akan berupaya keras memanfaatkan kesempatan di bulan ini. Di tahun-tahun yang lalu aku merasa telah menyia-nyiakan Ramadhan, tidak maksimal beribadah di bulan tersebut, aku sangat yakin dengan firman Allah “Lailatul Qadri Khoirun min alfi syahr” saya pernah mengikuti pengajian katanya maknanya ,”Lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan”, dan orang yang mendapati pas di malam lailatul qadar dan ia beribadah di malam itu maka ia seperti beribadah dengan keutamaan seribu bulan. Nah, kalau dihitung-hitung 1000 bulan itu kan sekitar 83 tahun,  ini kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan, bayangkan kek, satu malam sama dengan 83 tahun, Aku Ingin menggapainya… dengan lancarnya pemuda itu memaparkan hujjahnya…

“Jadi apa yang akan kau persiapkan? “ kembali sang kakek menegaskan pertanyaannya.

Begini kek.. pemuda itu mulai bicara lagi, Aku akan menjadikan Ramadhan kali ini menjadi Ramadhan yang special, tidak seperti tahun-tahun yang lalu, Jelas aku akan berpuasa menahan haus dan lapar juga syahwat, tapi aku juga akan berupaya mempuasakan mataku, mempuasakan telinga dan lisanku, bahkan seluruh ragaku akan aku paksa untuk ikut berpuasa, bahkan aku sedang belajar juga untuk mempuasakan hati dan fikiranku…

“mempuasakan dari apa?” sang kakek menyela kalimat pemuda itu..

“Mempuasakan dari melihat sesuatu yang tidak Allah ridhai, aurat misalnya baik dalam ujud manusia yang berseliweran di depan mata, atau tayangan yang mengumbar aurat atau gambar-gambar yang sering terpajang di banyak media cetak.. aku akan mengurangi mataku menatap hal-hal tersebut dan akan segera beristighfar jika terdadak melihat yang seperti itu.. mempuasakan telinga dari mendengarkan sesuatu yang tidak lerlalu bermanfaat untuk perbaikan diriku menjadi orang yang baik di mata Tuhan, menghindari percakapan yang tidak bermanfaat , apalagi kata-kata kotor, ghibah dan lain-lain, aku juga akan membersihkan benakku dari lintasan fikran-fikiran kotor. intinya aku akan berupaya keras menjahui sesuatu yang dilarang dan sesuatu yang dibolehkan tapi aku khawatir jatuh pada sesuatu yang dilarang. Begitu kek…”

“Cuma itu yang akan kau persiapkan?”

“Tidak tentunya.. Aku tidak akan menyia-nyiakan setiap ibadah yang ada di bulan ini selama aku mampu malakukannya, baik yang wajib maupun yang sunnah, aku akan berupaya menjaga sholat berjamaah, melakukan sholat-sholat sunnah, jangan sampai sholat tarawehku bolong, dan kalo sempat sebelum saur aku juga akan menambah dengan shalat Qiamullail dan menjelang  waktu fajar aku akan banyak beristighfar dan berdzikir kepada Allah swt.”

“Semua yang kau ingin kau lakukan hanya berhubungan dengan dirimu sendiri tidak ada yang berkaitan langsung dengan orang lain” sang kakek tampak ingin menggali lebih dalam rencana anak muda tersebut.

“Yaach.. memang ada hal lain yang ingin aku lakukan, dari sebagian tabunganku yang tidak banyak itu aku ingin sekali bisa memberikan hidangan buka buat orang baik yang memerlukannya, sayang uangku tidak banyak, Yaa …Allah mudahkanlah aku untuk bisa berbagi dengan orang lain di bulan ini, aku ingin seperti Rasul-Mu yang katanya amat sangat dermawan di bulan ramadhan”pemuda itu berdoa di sela-sela jawabanya, aku juga ingin kek, lanjut pemuda itu, “aku akan memperbaiki hubunganku dengan orang lain, bermuamalah dengan mereka dengan cara sebaik mungkin”.

Satu lagi anak muda, “Apa kau tahu cirri-ciri atau tabda orang yang menggapai Lailatul Qadar”?

“Yang aku tahu kek, Ia akan memjadi pribadi yang baru setelah Ramadhan, akan menjadi lebih baik, dan orang lain juga akan melihat dan merasa bahwa dia berubah, berubah menjadi lebih baik. Itu yang ku tahu kek.”

“Semoga impianmu tercapai anak muda, semoga kau kan meggapai Lailatul Qadar” kata kakek tua itu.

SAUR… SAUR… TOK-TOK-TOK… SAHUR.. SAHUR….

Tiba-tiba suara gaduh itu membangunkan pemuda itu, dia terhenyak kaget, sejurus dia mencari-cari sang kakek yang banyak bertanya kepada dirinya… dia tersadar teryata itu hanya mimpi.. “yach aku bermimpi” katanya.

Namun kali ini dia merasa mimpinya tidak seperti biasanya, dia ingat persis setiap kata yang terucap dalam mimpi itu, baik pertanyaan sang kakek atau jawaban yang ia berikan, semua kata seperti terekan dengan kuat dalam benaknya. Tapi masih ada yang membuat pemuda itu bertanya-tanya, kenapa dengan begitu lancar ia mampu bemberikan jawaban, kenapa sepertianya dia tahu banyak hal. Sejenak ia merenung dan iapun tahu, sesungguhnya semua yang ia katakana kepada sang kakek itu adalah apa yang pernah ia dengar, sebagian adalah apa yang pernah ia baca namun selama ini jarang ia merenungkannya dan tidak serius dia melakukan sesuatu yang sesungguhnya kalo dia mau jujur dia tau bahwa hal itu adalah kebaikan yang mesti dilakukannya. 

Setelah selesai sahur dia bermunajat kepada Allah…

Yaa Allah ampunkan segala kesalahan, dosa, kelalaian, ketidak baikan yang pernah aku lakukan.

Yaa Allah lipat-gandakanlah kekuatanku untuk beramal, malakukan kebaikan yang Kau ridhai.

Yaa Allah…. Aku tidak akan menjadikan itu hanya sekedar mimpi, aku ingim mewujudkan mimpi dalam tidurku itu menjadi  IMPIAN yang akan kuraih di saat aku terjaga…

Yaa… Allah… izinkan dan ridhai hamba-Mu ini, “Kan Ku Gapai Lailatul Qadar”