Ka’bah

0
202 views

www.google.co.idKa’bah adalah sebuah bangunan mendekati bentuk kubus yang terletak di tengah Masjidil Haram di Mekah. Dimensi struktur bangunan ka’bah lebih kurang berukuran 13,10m tinggi dengan sisi 11,03m kali 12,62m. Ka’bah merupakan bangunan yang dijadikan patokan arah kiblat atau arah patokan untuk hal hal yang bersifat ibadah bagi umat Islam di seluruh dunia seperti sholat. Selain itu, merupakan bangunan yang wajib dikunjungi atau diziarahi pada saat musim haji dan umrah. Ka’bah juga disebut dengan nama Baitullah dan Bait al-Atiq.

 

Bangunan Ka’bah

Ka’bah berbentuk bangunan kubus yang berukuran 12 x 10 x 15 meter, Pada awalnya bangunan Ka’bah terdiri atas dua pintu serta letak pintu Ka’bah terletak di atas tanah, tidak seperti sekarang yang pintunya terletak agak tinggi. Pada saat Muhammad saw berusia 30 tahun dan belum diangkat menjadi rasul, dilakukan renovasi pada Ka’bah akibat bencana banjir. Pada saat itu terjadi kekurangan biaya, maka bangunan Ka’bah dibuat hanya satu pintu.

Beberapa Bagian yang terkait dengan Ka’bah:

  1. Hijir Ismail

Hijir Ismail adalah nama tempat yang terletak disebelah utara Ka’bah dilingkari oleh tembok lebar (Al-Hathimu). Hijir Ismail ini setiap saat dipenuhi hamba-hamba Allah swt, terutama ketika musim haji. Ditempat ini jamaah melakukan shalat, berdoa dan sebagainya. Tempat ini sama mulianya dengan di dalam Ka’bah. Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Siti Aisyah ingin sekali memasuki Ka’bah dan beribadah di dalamnya, lalu Rasulullah saw memerintahkan masuk Hijir Ismail saja dan tidak ke dalam Ka’bah, sebab shalat/beribadah di Hijir Ismail sama dengan di dalam Ka’bah.

  1. Hajar Aswad

Hajar aswad adalah batu yang Allah swt turunkan dari Surga ke Bumi, ia terletak di sisi tenggara ka’bah di bagian luar, terbungkus dari perak. Dahulu (warnanya) lebih putih dari (warna) susu. Kemudian dihitamkan oleh dosa-dosa keturunan Nabi Adam. Pada hari kiamat ia akan datang dengan mempunyai dua mata yang melihat dan mulut yang (bisa) berbicara, akan menjadi saksi bagi orang yang menyentuhnya dengan benar.Menyentuh, mencium atau memberikan isyarat kepadanya merupakan amalan yang pertama kali dilakukan  bagi orang yang ingin thawaf, baik thawaf haji, umroh atau (thawaf) sunnah. Nabi Muhammad saw telah menciumnya dan diikuti oleh umatnya. Kalau tidak bisa menciumnya, maka menyentuh dengan tangannya atau dengan sesuatu yang ada di tangannya kemudian mencium sesuatu tersebut. Kalau tidak mampu, maka memberikan isyarat dengan tangannya dan bertakbir.

  1. Maqam Ibrahim

Maqam Ibrahim merupakan bangunan kecil terletak di sebelah timur Ka’bah. Ia bukan kuburan Nabi Ibrahim as sebagaimana banyak orang berpendapat. Di dalam bangunan tersebut terdapat batu yang diturunkan oleh Allah swt dari Surga bersama-sama dengan Hajar Aswad. Di atas batu itu Nabi Ibrahim as berdiri disaat beliau membangun Ka’bah bersama puteranya Nabi Ismail as. Dari zaman dahulu batu itu sangat terpelihara, dan sekarang ini sudah ditutup dengan kaca berbentuk kubbah kecil. Bekas kedua tapak kaki Nabi Ibrahim yang panjangnya 27 cm, lebarnya 14 cm dan dalamnya 10 cm masih nampak dan jelas dilihat orang.

  1. Multazam

Multazam merupakan dinding Ka’bah yang terletak di antara Hajar Aswad dengan pintu Ka’bah. Tempat ini merupakan tempat utama dalam berdoa, yang dipergunakan oleh jama’ah Haji dan Umroh untuk berdoa/ bermunajat kepada Allah swt setelah selesai melakukan Tawaf. Rasulullah saw bersabda, “Antara Rukun Hajar Aswad dan Pintu Ka’bah, yang disebut Multazam. Tidak seorangpun hamba Allah swt yang berdoa di tempat ini tanpa terkabul permintaannya”

//

Sejarahwan, mufasir (ahli Tafsir)dan lainnya memiliki pendapat berbeda tentang siapa yang telah membangun Ka’bah. Beberapa pendapat itu ada yang mengatakan Malaikat atau Nabi Adam as. Adapun Nabi Ibrahim as dan puteranya Nabi Ismail as keduanya meninggikan pondasi ka’bah yang sudah ada sebelumnya.

Pada zaman Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as pondasi bangunan Ka’bah terdiri atas dua pintu dan letak pintunya terletak di atas tanah, tidak seperti sekarang yang pintunya terletak agak tinggi. Namun ketika Renovasi Ka’bah akibat bencana banjir pada saat Rasulallah saw berusia 30 tahun dan sebelum diangkat menjadi rasul, karena merenovasi ka’bah sebagai bangunan suci harus menggunakan harta yang halal dan bersih, sehingga pada saat itu terjadi kekurangan biaya. Maka bangunan ka’bah dibuat hanya satu pintu serta ada bagian ka’bah yang tidak dimasukkan ke dalam bangunan ka’bah yang dinamakan Hijir Ismail yang diberi tanda setengah lingkaran pada salah satu sisi ka’bah.

Karena agama islam masih baru dan baru saja dikenal, maka Nabi saw mengurungkan niatnya untuk merenovasi kembali ka’bah sehingga ditulis dalam sebuah hadits perkataan beliau: “Andaikata kaumku bukan baru saja meninggalkan kekafiran, akan Aku turunkan pintu ka’bah dan dibuat dua pintunya serta dimasukkan Hijir Ismail kedalam Ka’bah”, sebagaimana pondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim”. Jadi kalau begitu Hijir Ismail termasuk bagian dari Ka’bah. Makanya dalam bertowaf kita diharuskan mengelilingi Ka’bah dan Hijir Ismail.

Ketika masa Abdurahman bin Zubair memerintah daerah Hijaz, bangunan Ka’bah dibuat sebagaimana perkataan Nabi saw atas pondasi Nabi Ibrahim as. Namun karena terjadi peperangan dengan Abdul Malik bin Marwan, penguasa daerah Syam, terjadi kebakaran pada Ka’bah akibat tembakan pelontar (Manjaniq) yang dimiliki pasukan Syam. Sehingga Abdul Malik bin Marwan yang kemudian menjadi khalifah, melakukan renovasi kembali Ka’bah berdasarkan bangunan hasil renovasi Rasulallah saw pada usia 30 tahun bukan berdasarkan pondasi yang dibangun Nabi Ibrahim as. Dalam sejarahnya Ka’bah beberapa kali mengalami kerusakan sebagai akibat dari peperangan dan umur bangunan.

Ketika masa pemerintahan khalifah Harun Al Rasyid pada masa kekhalifahan Abbasiyyah, khalifah berencana untuk merenovasi kembali ka’bah sesuai dengan pondasi Nabi Ibrahim dan yang diinginkan Nabi saw. namun segera dicegah oleh salah seorang ulama terkemuka yakni Imam Malik karena dikhawatirkan nanti bangunan suci itu dijadikan masalah khilafiyah oleh penguasa sesudah beliau dan bisa mengakibatkan bongkar pasang Ka’bah. Maka sampai sekarang ini bangunan Ka’bah tetap sesuai dengan renovasi khalifah Abdul Malik bin Marwan sampai sekarang.