Ka’bah Yang Kosong

0
67 views

Oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

Allah berfirman di dalam Al-Quran: Allah telah menjadikan Ka’bah rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia. (QS. Al-Maidah/5:97). Ka’bah di jantung kota Makkah dipercaya sebagai sentra pengabdian kepada Allah Swt sejak Islam belum tersiar. Tidak heran jika di sekeliling Ka’bah terbangun sangat banyak berhala. Begitulah cara masyarakat jahiliyah mengungkapkan rasa bertuhan mereka. Ritus kuno (sekarang disebut ibadah haji) yang dilakukan di sekitarnya pun bukan barang baru. Akibatnya, saban tahun Makkah selalu ramai dikunjungipara peziarah. Sebuah suasana yang sangat kondusif bagi perdagangan.

Kini, setiap hari, minimal lima kali umat Islam di seluruh penjuru bumi menghadapkan wajah mereka ke satu arah, yaitu kiblat atau Ka’bah. Ia bahkan menjadi salah satu rukun shalat. Ternyata bangunan istimewa ini punya arti penting di hati umat Islam dan juga beberapa umat lainnya. Betapa tidak, ia menjadi ‘perwakilan’ kehadiran Ilahi di bumi dan di dalam benak kaum Muslimin. Ia sangat unik karena sebagai representasi imajinatif dari Ilahi Yang Maha Agung, Ka’bah ternyata terlalu miskin. Ia tidak lebih dari sebuah bangunan kuno berbentuk kubus, bersahaja, dan isinya pun kosong, tanpa ornamen dan dekorasi. Jauh dari kesan ‘wah’. Yang membuatnya terlihat lebih gagah hanya lah kiswah mahal yang membalutnya. Mungkin saja di sanubari para peziarah itgu timbul pertanyaan: Mengapa demikian?

Jawabannya adalah bahwa “Ka’bah bukanlah tujuan terakhirmu, ia hanyalah sebuah tanda agar engkau tidak salah jalan. Ka’bah hanya menunjukimu arah,” kata Ali Syari’ati dalam bukunya, Hajj. Ka’bah menjadi saksi betapa segala gambaran manusia tentang Tuhannya hanyalah sebatas usaha untuk mencerap transendensi Tuhan.

Setiap manusia mengatakan itulah Tuhan, maka Ia bukan itu. Namun, Ka’bah bisa dijadikan petunjuk guna memahami Tuhan. Kesedarhanaan Ka’bah ingin mengungkapkan kefakiran alam dan manusia dibandingkan dengan Tuhannya. Kekosongan Ka’bah menegaskan bahwa manusia tidak punya apa-apa untuk dibandingkan dengan Yang Maha Kuasa.

“Ka’bah mewakili rahasia Tuhan di alam semesta, tidak berbentuk, tidak berwarna, tidak bermirip, tidak serupa dengan apa pun yang dibayangkan manusia tentang-Nya,” lanjut Syari’ati. Kemampuan manusia terlalu naif untuk menggambarkan Tuhannya, sebersahaja Ka’bah “mewakili” kehadiran Sang Pencipta.[]

(Artikel ini pernah dimuat di Harian Umum REPUBLIKA)