Jiwa Pemimpin

0
38 views

Nabi Muhammad saw merupakan profil manusia sempurna dan terpelihara dari perbuatan tercela. Beliau adalah sosok manusia agung, pemimpin yang mempunyai akhlak yang mulia. Dan dengan keluhuran akhlak dan budi pekertinya tersebut, rasulullah saw sukses memimpin umat manusia dan membawanya dari kegelapan menuju jalan yang terang dengan cahaya hidayah. Firman Allah dalam surah al-Ahzab ayat 21: “Sesungguhnya adalah bagi kamu pada diri Rasulullah itu terdapat contoh-teladan yang baik (sikap yang harus diteladani)…

Betapa pentingnya akhlak dalam kehidupan bermasyarakat sampai-sampai dijelaskan dalam sebuah hadis bahwa pembangunan akhlak adalah merupakan misi utama rasulullah diutus ke dunia ini.  Aku diutus Allah swt untuk menciptakan manusia-manusia yang bermoral, manusia yang mempunyai akhlak luhur” (HR. Baihaqi & Abu Hurairah).

Risalah ini terus berlanjut, setelah beliau menjalankan risalah ini selama dua puluh tiga tahun, orang yang pertama tampil menggantikan Muhammad saw adalah Abu Bakar ash-Shidiq.

Keberhasilan rasululullah mencetak generasi qur’ani tercermin pada kepribadian para sahabat nya yang begitu luhur. Hal ini bisa kita lihat dari sambutan Abu Bakar ash-Shidiq sesaat setelah dilantik menjadi khalifah pertama sepeninggal rasulullah saw. Apa yang Abu Bakar ucapkan saat itu benar-benar dijalankannya dan tidak hanya janji manis belaka. Karena kejujuran dan kebenaran perkatannya itulah Abu Bakar diberi gelar ash-Shidiq. Ada beberapa hal yang patut kita teladani dari kepribadian Abu Bakar sebagai pemimpin. Dalam sambutannya beliau mengatakan:

1. ”Ayyuhannas qad wulliitu ‘alikum (wahai umat manusia, tuan-tuan telah sepakat memilihku sebagai khalifah, untuk memegang ulil amri/memimpin tampuk pemerintahan),” tetapi ketahuilah, “wa lastu bikhayrikum (aku ini bukanlah yang terbaik dari kalian”).

Akhlak yang tawadhu’ ditanamkannya di dalam dirinya, walaupun ia memegang suatu kedudukan yang tertinggi, menggantikan rasulullah saw. Kesadaran bahwa dirinya yang terpilih dan bukan berarti yang yang terbaik ini sangat penting karena akan membuat seseorang berjiwa besar dan terbuka dengan segala macam saran dan kritik yang membangun dan membawa kemaslahatan.

2. “Wa in ahsantu fa’a`iinuuniiy (maka apabila aku berlaku baik dalam melaksanakan tugasku, bantulah aku)”.Kalau aku berada dalam garis yang benar, berbuat baik, sesuai dengan undang-undang dan peraturan yang disepakati, bantulah aku untuk mengembangkan dan melaksanakan tindakan yang benar itu.

Akhlak yang kedua inilah yang ditanamkannya ketika dia menjadi khalifaturrasulillah saw. Di dalam dirinya, sebelum dia meminta bantuan kepada umat pendukungnya. Terlebih dahulu ia harus berada dalam garis amaliah yang benar, melakukan tindakan-tindakan sesuai dengan hukum dan keadilan.

3.  Wa ini asa’tu faqawwimuuniiy (tetapi jika aku bertindak salah, betulkanlah)”.Kalau saudara sekalian melihat dalam perjalanan kebijaksanaanku nanti menyimpang dari garis yang benar, jangan biarkan aku terus menyeleweng, luruskan aku.

Khalifah Abu Bakar tidak ingin umatnya menjadi seperti kambing, tetapi ia menghendaki umatnya manusia yang baik, yang melihat tindakan yang tidak lurus segera mencegahnya untuk kebahagiaan bangsa dan umat, agar umat senantiasa di dalam garis yang benar.

4.  Ash-shidqu amaanah wal-kidzbu khiyaanah (berkata jujur adalah amanah, berkata bohong adalah khianat)”.Berkata benar dan berbuat benar, berkata jujur dan berbuat jujur adalah amanah dari Allah swt Bukan amanah dari manusia; Dan amanah dari Allah lebih tinggi dari pada amanah manusia.

Akhlak ini adalah baik untuk dirinya sebagai pemimpin, sebagai khalifah –kepala Negara—maupun untuk seluruh rakyatnya.

Akhlak yang ditanamkan Abu Bakar pada waktu itu kepada dirinya: berkata tidak benar, berkata tidak jujur, berbuat tidak benar dan bertindak tidak jujur, adalah khianat kepada Allah swt. Bukan semata-mata berkhianat kepada manusia, akan tetapi hakikatnya mengkhianati Allah Rabbul ‘Alamin.

5. “Addha`iifu fiikum qawiyyun `indiiy hattaa ‘urji`a ilaihi haqqahu insya Allah (siapa saja yang lemah diantaramu akan kuat bagiku, sampai aku dapat mengembalikan haknya, insya Allah)”.

Di antara saudara sekalian tentu terdapat orang yang lemah, orang yang dhaif, mungkin karena kemiskinannya dia lemah, tidak punya backing ia lemah dan teraniaya, orang yang demikian itu kata Abu Bakar, di sisiku ia adalah kuat, aku sendiri yang akan mempertahankan hak orang yang lemah itu. Jangan sampai dia dipermainkan oleh orang lain, kalau orang mencoba mempermainkan hak orang yang lemah itu, maka ia akan langsung akan berhadapan dengan aku sendiri, Insya Allah, kata Abu Bakar.

6.  Wal qawiiyu minkum dha`iifun `indiiy hattaa akhadzu minhu insya Allah (siapa saja yang kuat di antara kamu akan lemah berhadapan dengan aku, sampai aku kembalikan hak orang lain yang dipegangnya, insya Allah)”.

Mengambalikan hak orang lain. Di antara saudara sekalian tentu banyak orang yang kuat, mungkin karena hartanya, karena kedudukannya, karena kekuasaanya menjadi kuat. Dan dia sebenarnya orang yang lemah di sisiku sehingga haknya kupegang agar ia jangan berbuat sewenang-wenang dengan kekuatannya di tengah-tengah masyarakat.

7.  Athii`uuniiy maa ‘atha`tullaha wa rasuulahu (ta’atlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan rasul-Nya)”.Ta’at kepada pimpinan karena Allah. Kepada saudaraku sekalian taatillah aku, selama aku masih mentatai Allah dan mentaati rasul-Nya.

8.  Fain ashaitullah wa rasuulahu fa laa thaa`ata lii `alaikum (apabila aku tidak ta’at lagi kepada Allah dan rasul-Nya, maka tidak ada wajib ta’atmu kepada aku)”. Hilanglah wajib ta’at kalau aku tidak lagi berada di atas garis Allah swt. Tidak lagi mentaati perintah Allah dan tidak lagi mentatai perintah rasul-Nya, maka tidak ada lagi kewajiban bagi saudara sekalian untuk taat kepadaku sebagai Khalifah. Begitu kata abu Bakar yang jujur dan tidak pernah berdusta.

Sungguh mulia akhlak Islam yang diajarkan rasulullah saw  dan para sahabatnya. Bisa kita bayangkan seandainya pemimpin kita dan kita semua mengamalkan ke-8 nilai luhur tersebut, niscaya tidak akan ada yang terdzalimi di negri ini. Tidak akan ada kelaparan, penindasan, dan ketidakadilan di dalam hukum. Dan sebaliknya negeri impian akan terwujud, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur

Maka perlu kita renungkan juga kandungan surah Ali Imran ayat 112: “Akan ditimpakamn kenistaan dan kehinaan kepada umat itu di mana saja mereka berada, keculai ia dapat keluar dari kenistaa dan kehinaan itu, kalau ia berpegang teguh kepada tali Allah Swt. Dan berpegang teguh dengan tali hubungah manusia.” Sempurnanya hubungan antara mahluk dengan khaliknya dan sempurnanya hubungan di antara sesama umat manusia. Dua tali inilah yang wajib kita pelihara baik-baik, baik di dalam diri kita, masyarakat, keluarga maupun di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Oleh karena itu, sebagai umat Islam, marilah bersama menegakkan akhlak ini di tengah-tengah masyarakat, hablu minallaah wa hablu minannaas, hubungan sempurna dengan Allah dan hubungan sempurna dengan manusia. marilah kita saling mengingatkan kepada kebaikan, kebenaran dan kesabaran untuk tetap istiqamah di jalan-Nya karena pada dasarnya kita adalah pemimpin –paling tidak untuk diri kita sendiri – dan akan diminta pertanggungjawaban kelak di akhirat. Wallahu a’lam.