Jihad

0
24 views

www.nuansaislam.comJihad berasal dari kata jâhada, yujâhidu, jihâd. Artinya adalah saling mencurahkan usaha atau kemampuan yang dicurahkan semaksimal mungkin, kadang-kadang berupa aktivitas fisik, baik menggunakan senjata atau tidak, kadang-kadang dengan menggunakan harta benda dan kata-kata, kadang-kadang berupa dorongan sekuat tenaga untuk meraih target tertentu, dan sejenisnya.

Makna Jihad Menurut Istilah

Makna jihad dalam istilah atau syariat Islam lebih sering digunakan kata tersebut dengan maksud tertentu, yaitu berperang di jalan Allah swt melawan orang-orang kafir yang tidak terikat suatu perjanjian setelah mendakwahinya untuk memeluk agama Islam, tetapi orang tersebut menolaknya dalam rangka meninggikan kalimat Allah swt.

Makna lain dari jihad menurut para Fuqoha adalah Usaha optimal untuk mengendalikan hawa nafsu dalam rangka mentaati Allah swt atau lebih dikenal dengan (mujâhadatun nafsi), seperti makna kata jihad dalam sabda Rasulullah saw:


المُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفسَهُ فِيْ طاعَةِ الله (رواه أحمد فى مسنده)

Seorang mujahid adalah orang yang mengendalikan hawa nafsunya untuk mentaati Allah swt(HR. Ahmad)  
Selain dua makna di atas adalah seperti makna kata jihad dalam sabda Nabi
saw, ketika seorang pemuda meminta izin beliau untuk berjihad dan beliau menanyakan, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?”, ia menjawab,” Ya”, beliau bersabda,” ففيهما فجاهد optimalkanlah baktimu terhadap mereka. (H.R.Bukhari).

 

Fase-Fase Disyariatkannya Jihad
Jihad salah satu diantara ibadah yang dalam proses tasyri`nya (disyariatkannya) mengikuti sunnah tadarruj (bertahap), yang dapat kita bagi menjadi 4 fase: Pertama, Periode Mekah.
Dalam periode ini jihad dengan mengangkat senjata tidak disyariatkan, yang diperintahkan pada periode ini adalah jihad dengan menggunakan hujjah dan argumen yang bersumber dari al-Qur`an dalam menyampaikan risalah Islam kepada manusia pada umumnya dan khususnya masyarakat Quraisy, Allah swt berfirman,

وَلَوْ شِئنَا لَبَعَثنَا فِيْ كُلِ قَرْيَةٍ نَذيْرًا . فَلا تُطِع الكَافِريْنَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيْرًا

Dan andai Kami menghendaki, niscaya Kami utus di tiap-tiap negeri seorang Rasul. Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan jihad yang besar (Q.S. al-Furqan:[25] 51-52)

Ibnu Qayyim berkata, “Allah swt telah memerintahkan berjihad sejak periode Mekah dengan firman-Nya (Q.S. al-Furqan: [25] 52) yang tentunya surat Makkiyah, menghadapi orang-orang kafir dengan Hujjah, penjelasan dan menyampaikan al-Qur`an …”
Bahkan ketika beberapa orang sahabat yang dipimpin oleh Abdurrahman bin `Auf datang kepada Nabi saw mengeluhkan keadaan mereka sambil berkata,”Kami dahulu berada dalam kemuliaan disaat kami masih musyrik, apakah kami menjadi hina setelah kami beriman?!”, Nabi saw menjawab,

إنِيْ أُمِرْتُ بِالعَفو فَلا تقاتلوا

Aku diperintahkan untuk mema`afkan, maka janganlah kalian mengangkat senjata!  
Juga setelah selesai pembaiatan Aqabah yang ke dua sebagian para peserta yang datang dari Yatsrib meminta izin dari Nabi saw untuk menyerang penduduk `Aqabah dengan pedang, beliau menjawab, “”إنِيْ لمْ أؤمَرْ بهَذا aku tidak diperintahkan untuk melakukan hal ini.  
Dan Allah swt mempertegas larangan mengangkat senjata di periode Mekah, firman-Nya:

 
 ألَمْ تَرَ إلَى الذِيْنَ قِيْلَ لَهُمْ كُفُوْا أيْدِيَكُمْ وَأقِيْمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزّكَاة  

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, “tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat! (Q.S. an-Nisaa:[4] 77)  
Dalil di atas sangat jelas bahwa selama periode Mekah jihad mengangkat senjata dilarang (hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama yang dinukil oleh Qurthubi dalam tafsirnya).

Kedua, Fase dibolehkan Jihad Qital (peperangan) dan belum diwajibkan.
Setelah Rasulullah saw dan para sahabatnya hijrah ke Madinah, menetap di sana membangun sebuah negeri Islam yang berdaulat dan memiliki kekuatan, persiapan dan peralatan yang dirasa cukup untuk menghadapi setiap gangguan, yang dilain pihak kaum kafir Quraisy selalu melancarkan berbagai bentuk tekanan, maka Allah swt membolehkan (bukan difardhukan) kaum muslimin mengangkat senjata, membela dan mempertahankan jiwa dan dakwah Islam dari segala bentuk penindasan, dengan firman-Nya:

  أُذِنَ لِلَذِيْنَ يُقَاتلُوْنَ بِأنَهُمْ ظُلِمُوْا وَإِنَّ اللهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيْر

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa menolong mereka(Q.S. al-Hajj:[22]39)  
Ketiga,
Fase diwajibkan jihad qital(peperangan) atas kaum muslimin terhadap orang yang memulai memerangi mereka.
Fase ini juga bisa dinamakan dengan jihad difa` (berperang karena membela diri), yakni kaum muslimin diwajibkan mengangkat senjata memasuki medan pertempuran melawan setiap kekuatan yang memulai menabuh genderang perang terhadap mereka, Allah swt berfirman,

وَقَتلُوْا فِيْ سَبِيْلِ الله الَذِيْنَ يقاتلوْنَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْا إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُ المُعْتَدِيْن  

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah swt tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (QS. al-Baqarah [2]:190)

Pada periode ini sekalipun kaum muslimin telah mempunyai kekuatan tetapi belum sanggup memulai pertempuran menghadapi seluruh kekuatan kafir dan musyrikin, maka dengan hikmah Allah swt, Dia tidak mewajibkan kepada hambanya untuk melakukan penyerangan karena mereka belum mampu melaksanakannya.
Keempat, Fase diwajibkan jihad qital(peperangan) terhadap setiap kekuatan kufur apapun agama dan ras mereka, sekalipun mereka tidak memulai berperang hingga mereka masuk Islam atau membayar jizyah(upeti).
Setelah kekuatan kufur di kota Mekah runtuh di tangan 10.000 orang sahabat yang dipimpin langsung oleh Nabi saw, dengan ini berarti berakhirlah permusuhan kaum Quraisy terhadap kaum muslimin dan manusia berbondong-bondong memeluk agama Allah swt sehingga dakwah Islam menjadi memiliki banyak pasukan dan peralatan serta kekuatan, maka pada tahun ke-9 H Allah swt mewajibkan kaum muslimin memerangi setiap bentuk kekufuran dengan firman-Nya,

 
 فَإِذَا انْسَلَخَ الأَشْهُرُ الحُرُم فَاقتلُوْا المُشْركِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ  

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka (QS. at-Taubah [9]:5)

 

وَقتُلُوْا المُشْركِيْنَ كَافَة كَمَا يُقاتِلُوْنَكُمْ كَافَة

Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kamu semuanya (QS. at-Taubah [9]:36)
Dan nabi saw bersabda,


أُمِرْتُ أَنْ أقَاتِلَ النَّاسَ حَتَى يَشْهَدُوْا أَنْ لَا إِلَهَ إلَّا الله وَأنَّ مُحَمّدًا رَسُوْلُ الله

Aku diperintahkan memerangi seluruh manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak diibadati selain Allah swt dan Muhammad saw adalah Rasulullah (HR.Muslim)
Demikianlah jihad thalab (jihad memerangi setiap aral yang merintangi arus dakwah islam) akhirnya diwajibkan dan setelah Rasulullah saw wafat kewajiban ini tidak berubah. Kemudian kewajiban jihad thalab ini diteruskan oleh para khulafaur rasyidin dan para khalifah serta para penguasa setelah mereka. Hingga akhirnya khilafah Utsmaniyah runtuh kurang dari satu abad yang lalu dan kewajiban inipun terhenti sementara sampai kaum muslim memiliki kembali kekuatan untuk menumpas segala bentuk kesyirikan dan kekufuran.

Hukum jihad
Jihad memiliki beberapa hukum :
a. Fardhu `ain (wajib bagi setiap muslim) dalam beberapa kondisi; Pertama, ketika seorang muslim telah berada dalam barisan pasukan yang sedang menghadapi pertempuran, maka fardhu `ain baginya berjihad dan berdosa meninggalkan medan pertempuran, Allah swt berfirman,

 
 يَا أَيُّهَا الذِيْنَ آمَنُوْا إِذَا لَقِيْتُمُ الذِيْنَ كَفَرُوْا زَحْفًا فَلا تُوَلُوْا هُمُ الأدْبَار

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu mundur (QS. al Anfaal [8]:15)
Kedua,
bila musuh telah datang menyerang salah satu negeri muslim, maka wajib bagi setiap penduduknya berjihad mengusir mereka. Jika musuh belum tertumpas wajib `ain bagi setiap penduduk negeri muslim sekitarnya berjihad hingga musuh keluar dari negeri tersebut. Allah swt berfirman

 يَا أَيُهَا الذِيْنَ آمَنُوْا قَاتلُوْا الذِيْنَ يَلُوْنَكُمْ من الكفَار

Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang berada disekitar kamu itu(Q.S. at-Taubah:[9]123)   
Jihad ini disebut juga dengan jihad difa` (pembelaan diri)
Ketiga, bila imam (pemimpin) memerintah seorang muslim untuk pergi berjihad, maka wajib `ain baginya melaksanakn perintah tersebut, nabi saw bersabda,

وَإِذَا اسْتَنْفَرْتُمْ فَانْفِرُوْا

Bila kamu diperintahkan berjihad, maka pergilah berjihad (H.R.Bukhari).
b. Fardhu kifayah
Jihad thalab (memulai penyerangan terhadap sebuah negeri yang penduduknya tidak beriman kepada Allah swt dan hari akhir) hukumnya fardhu kifayah, yang bila dilakukan oleh sebagian kaum muslimin terhapuslah dosa dari seluruh kaum muslimin, Allah swt berfirman,


 وَمَا كَانَ المُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَافَة

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin pergi semuanya ke medan perang 

(QS. at-Taubah[9]:122)

Perlu digarisbawahi bahwa hukum di atas berlaku manakala kaum muslim mempunyai negeri islam berdaulat yang menerapkan hukum-hukum Allah swt dan dipimpin oleh seorang muslim sejati serta memiliki kekuatan, peralatan dan perlengkapan yang dirasa mampu untuk menegakkan jihad difa` maupun jihad thalab.

Etika dalam Jihad

Diantara etika yang diajarkan oleh Allah swt dan rasul-Nya kepada para sahabat dan kaum muslimin ketika mereka berjihad atau berperang adalah Jangan berkhianat, Jangan berlebih-lebihan atau melampaui batas, Jangan ingkar janji, Jangan mencincang mayat, Jangan membunuh anak kecil, orang tua renta, wanita, Jangan membakar pohon, menebang atau menyembelih binatang ternak kecuali untuk dimakan, Jangan mengusik orang-orang Ahli Kitab yang sedang beribadah.

Jihad dan Terorisme

Terorisme dapat dipahami sebagai kegiatan menyengsarakan penduduk, merusak perdamaian, mengancam keselamatan jiwa, dan harta benda, dan mengancam ketenteraman dan kenyamanan hidup manusia. Dengan definisi ini maka terorisme dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban yang menimbulkan ancaman serius terhadap kedaulatan negara, bahaya terhadap keamanan, perdamaian dunia serta merugikan masyarakat.

Dengan demikan terdapat perbedaan antara terorisme dengan jihad dimana terorisme sifatnya merusak dan anarkis, tujuannya untuk menciptakan rasa takut atau menghancurkan pihak lain, dan dilakukan tanpa aturan dan sasaran tanpa batas, maka hukumnya diharamkan, sedangkan jihad sifatnya melakukan perbaikan sekalipun dengan cara peperangan, tujuan-nya menegakkan agama Allah swt dan membela hak-hak yang terzalimi, dan dilakukan dengan mengikuti aturan yang ditentukan oleh syariat dengan sasaran musuh yang sudah jelas.

 

Referensi:

  1. Ibnul Qoyyim, Zaadul ma aad fii hadyi khoiril ibad.
  2. Ibn Qudaamah, al-Mughniy.
  3. Al-Dimyathiy, I’aanat al-Thaalibin.
  4. Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi.
  5. Irwandi Tirmidi, al-Jihad Fi al-Islam.