Janji

0
169 views
skipprichard.com

by Abd. Muid N.

Sesungguhnya kata ‘kebebasan’ tidak sepenuhnya benar. Yang lebih tepat adalah ‘kebebasan-kebebasan’. Alasannya, karena tidak hanya ada satu kebebasan. Bagi seorang individu atau kelompok, ada banyak kebebasan yang mereka miliki. Disebut banyak karena antara satu kebebasan dengan kebebasan lain diselingi ketidakbebasan-ketidakbebasan tertentu; individu atau kelompok bebas melakukan hal-hal tertentu, tetapi dilarang melakukan hal lain. Tidak mungkin bebas melakukan semuanya sekaligus tidak mungkin tidak bebas melakukan semuanya.

Bukti lain kebebasan tidak satu adalah seorang individu atau kelompok bisa memproklamirkan diri mempunyai kebebasan-kebebasan, namun di saat bersamaan, individu dan kelompok lain juga bisa meproklamirkan diri mempunyai kebebasan-kebebasan serupa atau berbeda, lalu kebebasan pun menjadi hiruk-pikuk dan kadang berbenturan, dengan kata lain kebebasan-kebebasan itu saling membatasi dengan kebebasan yang lain. Kebebasan bagi yang satu  mungkin ketidakbebasan bagi yang lain.

Siapapun dan kelompok mana pun di negeri ini sah-sah saja mengaku bebas, bebas untuk melakukan apa saja dan bebas dari jeratan apa saja, baik atas dasar jaminan konstitusi, maupun atas dasar hak purba yang dimiliki sejak sebelum lahir, namun perlu disadari bahwa kebebasan tidak hanya satu. Yang ada adalah kebebasan-kebebasan.

Lalu manakah batasan dari kebebasan-kebebasan tersebut? Batasan pertama adalah kesadaran bahwa kebebasan tidak hanya satu. Dengan demikian, kebebasan yang hadir adalah kebebasan yang disadari akan berhadapan, berkompetisi, atau bekerjasama dengan kebebasan-kebebasan yang serupa atau tidak serupa dengannya. Dengan menyadari itu, bukan berarti kebebasan menjadi terkungkung, tetapi justeru untuk menjaga kebebasan agar tetap langgeng. Bayangkan jika satu kebebasan tidak peduli kepada kebebasan yang lain, maka yang akan terjadi adalah benturan antarkebebasan, konflik, dan konfrontasi tiada usai. Lalu yang menjadi korban adalah kebebasan itu sendiri.

Batasan kedua adalah janji, pakta, kontrak, akad, konvensi, traktat, atau apapun namanya. Seperti dua pihak atau lebih yang mengikat janji, maka ada di antara kebebasan yang dulunya dimiliki oleh keduanya atau lebih, kini tidak lagi dimiliki. Namun di lain pihak, ada kebebasan yang menjadi semakin teguh karena mendapatkan jaminan. Seorang pemilik barang yang telah mengikat janji dengan pembeli tidak lagi memiliki kebebasan kuasa atas barangnya; demikian pula pembeli tidak lagi menguasai uang yang pernah jadi miliknya. Kebebasan mereka telah tergadai oleh janji yang mereka buat. Tetapi kini mereka memilik kebebasan baru yang terjamin, yaitu pembeli memiliki barang dan penjual memiliki uang.

Sesungguhnya kata ‘kebebasan’ tidak sepenuhnya benar. Yang lebih tepat adalah ‘kebebasan-kebebasan’. Alasannya, karena tidak hanya ada satu kebebasan. Bagi seorang individu atau kelompok, ada banyak kebebasan yang mereka miliki. Disebut banyak karena antara satu kebebasan dengan kebebasan lain diselingi ketidakbebasan-ketidakbebasan tertentu; individu atau kelompok bebas melakukan hal-hal tertentu, tetapi dilarang melakukan hal lain. Tidak mungkin bebas melakukan semuanya sekaligus tidak mungkin tidak bebas melakukan semuanya.

Bukti lain kebebasan tidak satu adalah seorang individu atau kelompok bisa memproklamirkan diri mempunyai kebebasan-kebebasan, namun di saat bersamaan, individu dan kelompok lain juga bisa meproklamirkan diri mempunyai kebebasan-kebebasan serupa atau berbeda, lalu kebebasan pun menjadi hiruk-pikuk dan kadang berbenturan, dengan kata lain kebebasan-kebebasan itu saling membatasi dengan kebebasan yang lain. Kebebasan bagi yang satu  mungkin ketidakbebasan bagi yang lain.

Siapapun dan kelompok mana pun di negeri ini sah-sah saja mengaku bebas, bebas untuk melakukan apa saja dan bebas dari jeratan apa saja, baik atas dasar jaminan konstitusi, maupun atas dasar hak purba yang dimiliki sejak sebelum lahir, namun perlu disadari bahwa kebebasan tidak hanya satu. Yang ada adalah kebebasan-kebebasan.

Lalu manakah batasan dari kebebasan-kebebasan tersebut? Batasan pertama adalah kesadaran bahwa kebebasan tidak hanya satu. Dengan demikian, kebebasan yang hadir adalah kebebasan yang disadari akan berhadapan, berkompetisi, atau bekerjasama dengan kebebasan-kebebasan yang serupa atau tidak serupa dengannya. Dengan menyadari itu, bukan berarti kebebasan menjadi terkungkung, tetapi justeru untuk menjaga kebebasan agar tetap langgeng. Bayangkan jika satu kebebasan tidak peduli kepada kebebasan yang lain, maka yang akan terjadi adalah benturan antarkebebasan, konflik, dan konfrontasi tiada usai. Lalu yang menjadi korban adalah kebebasan itu sendiri.

Batasan kedua adalah janji, pakta, kontrak, akad, konvensi, traktat, atau apapun namanya. Seperti dua pihak atau lebih yang mengikat janji, maka ada di antara kebebasan yang dulunya dimiliki oleh keduanya atau lebih, kini tidak lagi dimiliki. Namun di lain pihak, ada kebebasan yang menjadi semakin teguh karena mendapatkan jaminan. Seorang pemilik barang yang telah mengikat janji dengan pembeli tidak lagi memiliki kebebasan kuasa atas barangnya; demikian pula pembeli tidak lagi menguasai uang yang pernah jadi miliknya. Kebebasan mereka telah tergadai oleh janji yang mereka buat. Tetapi kini mereka memilik kebebasan baru yang terjamin, yaitu pembeli memiliki barang dan penjual memiliki uang.

Banyak janji dan akad yang telah mengikat kita, baik sebagai individu maupun kelompok, sejak dari lingkup dalam keluarga hingga warga negara. Di kala seperti itu, kita tahu bahwa kebebasan yang kita miliki harus berbagi dengan kebebasan milik orang lain. Kita Muslim dan kita bebas bertindak sebagai Muslim dengan semua perangkat ajaran Islam, namun dalam kesadaran bahwa kebebasan itu hidup bersama dengan kebebasan orang lain yang mungkin memiliki perangkat ajaran berbeda. Di saat seperti itu yang dibutuhkan adalah pengakuan terhadap perbedaan, penghargaan terhadap kebebasan lain, dan kerendahan hati untuk bersedia hidup bersama. Kebebasan yang kita miliki harus berbagi dengan kebebasan milik orang lain. Kita Muslim dan kita bebas bertindak sebagai Muslim dengan semua perangkat ajaran Islam, namun dalam kesadaran bahwa kebebasan itu hidup bersama dengan kebebasan orang lain yang mungkin memiliki perangkat ajaran berbeda. Di saat seperti itu yang dibutuhkan adalah pengakuan terhadap perbedaan, penghargaan terhadap kebebasan lain, dan kerendahan hati untuk bersedia hidup bersama.[]

Bahan Bacaan

Raymond Aron, Kebebasan dan Martabat Manusia, (Jakarta: YOI, 1993)

BAGI
Artikel SebelumnyaAr-Rab
Artikel BerikutnyaManasik