Jangan Bunuh Diri

0
46 views

www.pollsb.comAkhir-akhir ini berita bunuh diri kembali marak. Dalam rentang kurang dari dua bulan (30 November 2010 – 4 Januari 2011), sudah enam kali terjadi peristiwa bunuh diri di mal. Hal ini tentunya menimbulkan keprihatinan dari berbagai kalangan dari mulai masyarakat biasa, tokoh masyarakat dan agama, dan juga para psikolog.

Mengapa ini bisa terjadi? Apakah kontrol emosi dari masyarakat kita sudah sedemikian rapuh atau hidup individualis dalam mayarakat kita sudah begitu kuat sehingga tak ada yang mengetahui masalah yang dialami orang di sekitarnya.

Uniknya, fenomena bunuh diri yang belakangan banyak terjadi di pusat perbelanjaan seolah menjadi tren. Pemberitaan media bisa jadi menjadi sebab terinspirasinya korban sehingga kemudian ikut-ikutan bunuh diri untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang melilitnya.

Menurut Tiwin Herman, psikolog Universitas Indonesia yang juga pengelola situs janganbunuhdiri.com, “Ketika seseorang tidak bisa berpikir, maka pikiran untuk mati itu kuat, dan yang paling cepat itu bunuh diri”. Ditambahkan Tiwin, juga ada unsur balas dendam pada pelaku bunuh diri di tempat umum seperti di mal. Dengan peristiwa itu, korban seakan melimpahkan aib kepada keluarga atau orang lain yang dianggap sebagai penyebab aksi bunuh diri itu (vivanews.com).

Bunuh diri (suicide), yang dalam budaya Jepang dikenal dengan istilah harakiri, adalah tindakan mengakhiri hidup sendiri tanpa bantuan aktif orang lain. Alasan atau motif bunuh diri bermacam-macam, namun biasanya didasari oleh “keputus-asaan”, ada perasaan kehidupannya sudah tidak berguna lagi.

Fenomena bunuh diri sangat dipengaruhi oleh minimnya kemampuan seseorang untuk melepaskan emosi dalam memaknai hidup. Dalam dunia psikologi, hal ini dikenal dengan istilah katarsis. Katarsis ini diperlukan untuk melepaskan konflik-konflik di alam bawah sadar atau pengalaman traumatis akibat kekecewaan atas realitas hidup.

Mereka yang mengalami itu semua akan merasakan ketegangan atau stress.  Mereka membutuhkan sebuah akitivitas yang melepas ketegangan seperti berdoa, berolahraga, yoga, jalan-jalan dengan teman-teman, atau menulis.

Dalam pandangan Islam, bunuh diri merupakan  perbuatan yang sangat keji, dan termasuk dosa besar. kegiatan bunuh diri ini adalah kegiatan manusia pengecut/pecundang hidup (loser), sebab kekalahan memang sudah mutlak menjadi milik mereka jika mereka membunuh dirinya sendiri.

Allah berfirman dalam salah satu ayatNya, “La tay`asuu min rauhillah (Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah –QS. Yusuf ayat 87). Orang yang selalu optimis dan tidak berputus asa bersedia tetap menjalani kehidupan seberat dan seburuk apapun, ia tidak akan pernah melakukan bunuh diri ini. Sebab ia sadar, bahwa hidup ini memang penuh cobaan-cobaan berat dan pahit, jadi bunuh diri baginya hanyalah tindakan sia-sia dan pengecut.

Masih banyak hal-hal yang bisa dilakukan dalam hidup ini, dan segala sesuatu pastilah ada batasnya. Sebab betapapun beratnya persoalan, tetap saja ia memiliki batas akhir (penyelesaian). Oleh karena itu, marilah kita senantiasa bertaqarrub kepada Dzat Yang Maha Kuat dan Maha Kuasa agar senantiasa memberikan kemudahan dan jalan keluar atas segala persoalan yang kita hadapi.