Jamuan Ilahi

0
156 views

by Abd. Muid N.

Tentu saja bahagia itu tidak satu jenis dan bentuk. Namun bolehlah kita berbicara tentang kebahagiaan seperti yang satu ini. Mari kita bayangkan betapa bahagianya jika seorang terhormat yang kita kagumi mengundang kita untuk menghadiri sebuah acara perjamuan mewah. Di acara tersebut kita adalah tamu kehormatan dan karena itu, berhak menikmati setiap hidangan yang disuguhkan tanpa batas. Sebebas-bebasnya. Sepuas-puasnya.

Dalam hal ini, kebahagiaan yang kita rasakan bertumpu pada tiga hal: pertama, undangan berasal dari orang terhormat yang kita kagumi. Mungkin bukan sesuatu yang istimewa mendapatkan undangan dari orang yang bukan siapa-siapa atau mendapatkan undangan dari yang kita benci dan tidak terhormat. Pada kasus seperti ini, mungkin berapa kalangan malah tidak berharap diundang.

Kedua, undangan itu sendiri. Undangan itu bukan jenis undangan terbuka umum hingga siapapun merupakan undangan dan berhak hadir. Ini adalah semacam undangan terbatas dan karena ituk, tidak semua orang diundang. Dengan kenyataan kita menjadi salah seorang yang diundang, itu adalah prestise tersendiri. Ada sebuah kekhasan dan keistimewaan yang kita miliki dan tidak dimiliki oleh orang kebanyakan. Karena itu, kita bukanlah orang kebanyakan. Kita adalah orang istimewa. Diistimewakan oleh orang terhomat adalah sebuah kehormatan tersendiri.

Ketiga, jamuan yang mewah dengan kesempatan menikmati hidangan dengan bebas. Ini adalah acara yang istimewa. Tuan rumah adalah seorang yang teramat ramah hingga semua tamu merasa seperti sedang menghadiri acara yang dibuatnya sendiri. Tidak ada rasa kikuk. Tidak ada rasa sungkan. Tamu bahkan hampir-hampir merasa seperti tuan rumah.

Jika kita berbicara tentang Ramadhan dengan ibadah puasanya, maka perumpamaan tadi adalah ibarat. Allah swt seumpama tuan rumah yang mengundang dan kaum beriman adalah para tamu undangan. Di dalam al-Quran cukup jelas bagaimana Allah swt bertindak sebagai pengundang dan orang-orang beriman adalah para tamu undangan dengan ayat yang masyhur: Wahai orang-orang yang beriman. Diwajibkan bagi kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan bagi orang-orang sebelum kalian. Agar kalian bertaqwa. (Al-Baqarah [2]: 183).

Mendapatkan undangan dari manusia terhormat saja kita sudah begitu bahagia, apalagi yang mengundang adalah Sang Pencipta. Seharusnya itu merupakan kebahagiaan tingkat tinggi dan tidak satupun makhluk, tentunya, yang tidak berharap diundang. Namun kenyataannya, tidak semua makhluk mendapatkan undangan untuk berpuasa di bulan Ramadhan. Ini adalah undangan spesial dan khusus untuk orang-orang yang beriman. Ini bukan sembarang undangan. Ada kemungkinan, dibatasinya undangan hanya untuk orang-orang beriman karena yang mengundang mengetahui bahwa tidak semua makhluk mampu memenuhi undangan seperti itu.

Hidangan yang tuan rumah suguhkan dalam acara Ramadhan ini tidak tanggung-tanggung istimewa. Paling tidak ada ada tiga kelompok besar hidangan berupa: hidangan pembuka, hidangan utama, dan hidangan penutup. Hidangan pembuka berupa rahmah, hidangan utamaberupa maghfirah, dan hidangan penutup berupa ‘itq min al-nâr.

Karena ini adalah acara istimewa, maka para pelayan yang sangat ramah tentu sangat sibuk. Mereka adalah para malaikat yang senantiasa menghantarkan hidangan sambil mendoakan para tamu agar mereka damai dan sejahtera mendapatkan rahmah, maghfirah, dan ‘itq min al-nâr.

Meski ini adalah undangan yang sangat istimewa, manusia selalu mempunyai hak untuk memilih, baik memilih untuk tidak merasa diundang, memilih untuk tidak menghadiri undangan, memilih untu hadir tapi tidak menyantap hidangan karena diet ketat, memilih untuk memilih-milih santapan, maupun memilih untuk menyantap makanan tetapi memilih yang ritual saja dan meninggalkan yang sosial. Hidup ini penuh dengan pilihan.[]

BAGI
Artikel SebelumnyaKerinduan Purba
Artikel BerikutnyaMenahan