Jam (B)enam

0
519 views
http://www.iconarchive.com

Oleh ZA Husain Cangkelo

(Peneliti The Nusa Institute Jakarta)

Seorang Muslim adalah insan cerdas. Itu kata Nabi (saw). Sejalan dengan pelbagai aktivitas peribadatan, umat Islam memilih menggunakan penanggalan qamariyah. Yakni, mengikuti peredaran bulan. Qamar berarti bulan. Puasa dilaksanakan pada bulan kesembilan, yakni bulan Ramadan. Zakat ditunaikan setelah jumlah harta tertentu yang memenuhi syarat, telah menjadi milik selama setahun menurut penanggalan qamariah. Rangkaian ibadah Haji dialaksanakan pada bulan kesebelas (Zulqa’dah) dan duabelas (Zulhijjah).

Memasuki zaman modern, tidak sedikit orang dan lembaga beralih ke almanak Miladiyah. Tetapi, tidak bagi milyarder Taymour Pasha. Segala berkas transaksi terkait dirinya di bank Mesir wajib memakai tanggal hijriyah. Jadi orkay kudu gitu, ces.

Bagaimana dengan jam? Adakah cara perhitungan jam yang sejalan dengan ajaran Islam?

Dalam tradisi Islam dikenal jam benam, assa’ah al-ghurubiyah, yakni jam yang dibetulkan setiap azan magrib dengan menepatkan jarumnya tepat di angka 12 (00:00); setiap kali matahari terbenam. Artinya, pada jam enam (kurang lebih) menurut jam yang lazim digunakan dewasa ini.

Dengan memakai jam (b)enam, maka membagi jadwal peribadatan malam menjadi lebih mudah lantaran dimulai dari 00:00. Mudah mengetahui permulaan malam (awwalul layl) mana seperdua malam (nishful layl), sepertiga malam (tsulutsil layl), dst. Mudah pulalah mengetahui mana jam satu pada pagi Jumat—saat seorang Muslim meraih pahala semahal unta bila memasuki masjid untuk beribadah Jumat di jam itu. Mana jam dua (pahala sapi), jam tiga (kambing), jam empat (ayam), dan lima (telur)—jam-jam yang terterakan di dalam Hadits. Karena, jarum jamnya menunjuk angka yang sama.

Sejalan dengan itu, permulaan hari dalam Islam adalah pada jam 00:00 saat azan maghrib itu. Dan, awal bulan ditandai dengan kemunculan hilal di ufuk. Jadi malam Kamis, bukan Rabu malam. Malam Ahad, bukan Sabtu malam. Masih ingat lagu Rhoma Irama? “Apa artinya malam minggu bagi orang yang tidak mampu.” Atau, lagu Marshanda? “Sabtu malam, kusendiri…” Pilih mana?

Dan, pada waktu azan maghrib di bulan suci ini, seorang Muslim dapat menepatkan jam tangannya di angka 12:00, bersantap buka puasa, dan berniat berpuasa untuk hari yang baru. Selamat mencoba.

Eh, jam tangan saya taruh di mana, ya?[]

 

ZA Husain Cangkelo adalah peneliti di The Nusa Institute Jakarta dan saat ini sedang merampungkan Doktoral di Program Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta