Istidrâj

0
37 views

Secara etimologi kata istidrâj berasal dari istadraja yastadriju yang bermakna istatba’a (minta untuk mengikuti), dalam kitab Tâjul ‘arus dikatakan istidrâju Allah al-’Abda mengandung makna annahu kullamâ jaddada khatîah jaddada lahu ni’mah wa ansâhu istigfâr (bahwasanya setiap dia berbuat kesalahan ditambahkan kepadanya nikmat dan dia lupa untuk memohon ampunan).

Secara terminology istidrâj adalah pemberian nikmat Allah swt kepada manusia yang mana pemberian itu tidak diridhai-Nya karena digunakan untuk perbuatan yang melanggar perintah-Nya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

“Bila kalian melihat Allah swt memberi nikmat kepada hamba-Nya yang selalu berlaku maksiat (durhaka), ketahuilah bahwa orang itu telah diistidrajkan oleh Allah swt.”
(Diriwayatkan oleh At-Tabrani, Ahmad dan Al-Baihaqi)

Kemudian Rasulullah saw membacakan firman Allah swt:

Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya…” (QS al-An’am [6] :44-45).  

Allah swt telah membuat suatu perumpamaan dengan umat yang terdahulu untuk kita jadikan pelajaran dan sebagai bukti nyata. Kesulitan hidup termasuk sunnatullah yang akan diberikan kepada hamba-hamba-Nya agar mereka kembali ke jalan dan petunjuk-Nya, yaitu dengan menyeru ke jalan tauhid dan beribadah kepada Allah swt, sehingga dapat mendekatkan diri dan takut kepada-Nya. Namun, mereka tidak menerima dan meresponnya. Oleh karena itu, Allah swt menguji mereka dengan penghidupan yang lapang, atau penghidupan yang sempit. Tatkala Allah swt mengutus para rasul kepada mereka untuk memberikan peringatan dan kabar gembira, mereka inkar. Lalu Allah swt membukakan bagi mereka pintu-pintu rizki, beranekaragam kesenangan, kehidupan mewah, kesehatan, keamanan dan lainnya yang mereka sukai. Sehingga tatkala mereka bersukaria dengan apa yang mereka raih, baik itu harta kekayaan, anak-anak, dan rizki, mereka menjadi lalai. Lalu Allah swt menyiksa dan memusnahkan mereka. Akhirnya mereka frustasi untuk mendapatkan kebaikan dan keselamatan. Inilah yang disebut istidrâj.
Kesulitan dalam menempuh kehidupan dunia merupakan pelajaran dan nasihat. Mendapatkan kekuasaan dan keleluasaan hidup dan kemewahan bisa menjadi istidrâj dan awal sanksi, atau azab dari Allah swt, seperti yang dinyatakan dalam firman-Nya,

”Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu supaya mentaati Allah swt, tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya ketentuan Kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS Al Israa’ [17]: 16)
Bagi seseorang yang beriman kepada Allah swt, tidak boleh terperdaya oleh nikmat, kesenangan, dan kemenangan, melainkan harus sabar dalam menghadapi ujian, musibah, dan malapetaka. Hal ini sebagaimana yang dimaksud dalam hadis Rasulullah saw:

”Suatu keajaiban bagi mukmin bahwasanya, segala sesuatu tetap merupakan kebaikan. Jika mendapatkan kebaikan ia bersyukur, itulah yang terbaik, dan jika mendapatkan kesulitan ia bersabar, itulah yang terbaik” (HR.Muslim).
Kenikmatan, kesenangan, atau kemenangan bagi seseorang tidak serta merta merupakan kebaikan. Bisa saja kenikmatan, kesenangan, dan kemenangan tersebut diikuti dengan kemaksiatan. Itulah yang disebut istidrâj. Allah swt berfirman,

”Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.” (QS al-Qalam [68]: 45)

Allah swt ketika memberikan nikmat kepada makhluknya tidak pilih-pilih, semua makhluknya mendapatkan nikmat itu bahkan terkadang Allah swt melebihkan kepada mereka yang suka bermaksiat kepadanya, sehingga dalam kehidupan sehari-hari kita suka melihat Ada orang yang shalat 5 waktu sehari semalam, bangun tengah malam shalat tahajjud, puasa bukan di bulan Ramadhan saja, bahkan puasa Senin Kamis dan puasa sunat yang lain. Tetapi, hidup mereka biasa saja. Bahkan tidak sedikit yang mengalami situasi sulit. Sementara ada pula orang yang seumur hidup tidak shalat, puasa pun tidak pernah, rumahnya sangat indah, mobil berjejer, uang melimpah dan hidup dalam kekayaan serta kemewahan. Bila ditanya, apakah kalian tidak takut mati? Ada yang menjawab, “Aaahh… semua orang juga akan mati. Dan kalau masuk neraka, akan masuk ramai-ramai.” Inna lillah…. Demikianlah kesombongan manusia.
Manusia yang diistidr
âj oleh Allah swt adalah manusia yang lupa daratan. Walaupun berbuat maksiat, dia merasa Allah swt menyayanginya. Mereka bahkan memandang hina kepada orang yang beramal. “Dia tuh siang malam ke masjid, tapi tetap saja tidak mampu membeli kendaraan… Sedangkan saya sering pesta, dengan mobil mewah. Tidak susah susah beribadah, tapi rezeki datang….” Begitu mungkin yang terbetik dalam hatinya.
Ingat, kadang-kadang Allah swt memberi nikmat yang banyak dengan tujuan untuk memberi pelajaran, menguji dan bahkan menghancurkan orang yang diberi-Nya.

Dalam al-Qur’an Allah swt telah memberikan beberapa contoh yang Allah swt istidrâjkan diantaranya:

Firaun, nikmatnya tak terkira, Allah swt memberinya nikmat kesehatan sehinngga diriwayatkan dia tidak pernah sakit. Orang lain selalu sakit, tapi Firaun tidak, orang lain mati, namun dia masih belum mati-mati juga, sampai ia merasa angkuh dan besar kemudian mengaku dirinya tuhan. Tapi dengan nikmat itulah Allah swt binasakan dia.
Namrud, yang pernah mencoba membakar Nabi Ibrahim as. Betapa besar pangkat Namrud? Dia begitu sombong dengan Allah swt, akhirnya dalam sebuah riwayat disebutkan ia menemui ajalnya hanya disebabkan seekor nyamuk yang masuk ke dalam lubang hidungnya.
Qarun, tidak ada manusia hari ini sekaya Qarun, anak kunci gudang hartanya saja harus dibawa 40 ekor unta. Tetapi lihatlah. Akhirnya dia ditenggelamkan bersama hartanya akibat terlalu takabbur.
Jadi kalau kita kaya, jangan sangka Allah swt sayang.
Jika kita kaji terjawablah segala keraguan yang mengganggu pikiran kita.

Mengapa orang kafir kaya, dan orang yang berbuat maksiat hidup senang/mewah? Pemberian yang diberikan oleh Allah swt kepada mereka bukanlah pemberian yang diridhai Allah swt karena semuanya digunakan untuk kemaksiatan. Rupanya semua anugerah itu adalah untuk menghancurkannya. Lalu, untuk apa hidup tanpa keridhaan Allah?