Isteri yang Disenangi

0
54 views

kisah teladanBerpisah dengan orang yang dicintai memang menyedihkan. Begitu halnya dengan Rasulullah saw. Setelah Khadijah (isteri pertamanya) wafat, Rasulullah saw merasa amat kehilangan orang yang begitu dicintainya. Betapa tidak, Khadijah orang pertama yang beriman disaat semua orang ingkar kepadanya, dia juga orang yang mengorbankan hartanya saat semua orang berusaha mempertahankan hartanya.

Pada saat Rasulullah saw amat berkabung, para sahabat juga merasa iba, kasihan. Namun mereka seolah-olah kehabisan cara untuk mengembalikan kecerian Rasulullah. Tidak satu pun sahabat yang berani mengusulkan apa sebaiknya yang harus dilakukan beliau. Tapi tiba-tiba seorang wanita yang bernama Khaulah binti Hakim Assalamiyah memberanikan diri. Ia mengusulkan kepada Rasulullah saw, “Bagaimana jika Rasulullah menikah lagi?”. Beliau kemudian agak tersentak, nafas panjang ditariknya.

“Siapa yang menggantikan Khadijah, ya Khaulah?”,  tanya Rasul. “Aisyah, puteri orang yang paling engkau cintai ya Rasulullah”, jawab Khaulah.

Rasulullah saw kemudian termenung, ia mengingat sahabat yang paling dicintainya Abu Bakar, seorang pria yang begitu menyatakan masuk Islam, langsung menyatakan diri berjuang di sisi Rasulullah. Tiba-tiba ia bertanya lagi: “bukankah dia masih begitu kecil?”. “Ya betul, tapi lebih baik Rasulullah meminangnya sekarang, baru nanti kita tunggu hingga si kecil itu dewasa”, jawab Khaulah lembut. “Kau ini bagaimana Khaulah, tiga tahun menunggu bukan waktu yang pendek, siapa yang akan mengurus rumah ini dan merawat anak-anak?”, tanya Rasul lagi.

Meskipun Rasulullah meminang Aisyah binti Abu Bakar, rupanya ia telah menyiapkan seorang janda yang suaminya dahulu amat berjasa dalam dakwah Islam, yaitu Saudah bin Zum’ah. Dan rupanya Khaulah mengetahui juga rencana Rasul itu. Dia kemudian meminta izin kepada Rasul untuk melamar Saudah dan Rasul pun memberi kepercayaan kepadanya.

Ketika Khaulah tiba di rumah Saudah, tentu saja Saudah amat heran apalagi Khaulah nampak begitu gembira dan berkata: “Hai Saudah, nikmat apa lagi yang diberikan Allah padamu?”. Mendengar itu Saudah semakin bingung. Khaulah melanjutkan maksudnya: “Sudahlah jangan bingung, aku ke sini diutus Rasulullah untuk meminangmu, bagaimana, engkau terima?”.

Saudah menjadi sangat heran, ia bagai tak mampu mengeluarkan kata-kata, “benarkah yang kudengar ini?” tanyanya dalam hati. Khaulah kemudian kembali bertanya, “bagaimana jawabmu, kok bisu?”. Saudah semakin bergetar dengan pertanyaan itu, tapi ia segera menjawab:”Ya”.

Kepada Zum’ah, ayah Saudah, Khaulah juga menyatakan melamar puterinya untuk Rasulullah, mendengar itu Zum’ah melonjak-melonjak sebagai tanda gembira dan menerima lamaran Rasulullah saw.

Mendengar bahwa Rasulullah meminang Saudah, para sahabat juga ikut heran, karena Saudah memang tidak diperhitungkan menjadi pengganti Khadijah, tapi Rasulullah ingat akan jasa suaminya yang tewas dalam perjuangan, Rasulullah ingin meringankan beban hidupnya.

Meskipun banyak orang meragukan kemampuannya menggantikan peran Khadijah, Saudah berusaha sekuat tenaga, dia mengurus rumah tangga Rasulullah dan merawat anak-anaknya, dia juga amat gembira dan Rasulullah juga senang, bahkan begitu senangnya kadang-kadang Rasulullah saw sampai tertawa geli. Begitulah Saudah mengurus rumah tangga bersama Rasulullah saw dengan baik hingga wafatnya beliau.

Ketika masa khalifah Umar bin Khattab hampir berakhir, Saudah menemui ajalnya, pengorbanannya dalam membina rumah tangga bahagia tidak sia-sia sehingga ia disenangi banyak orang terutama oleh Aisyah salah seorang isteri Nabi saw. Aisyah berkata: “tidak ada wanita yang aku senangi seperti Saudah bin Zum’ah, ingin rasanya mengikuti keteladanannya”.

Dari kisah di atas, pelajaran yang kita ambil adalah:

1.      Setiap keluarga seharusnya menjadi orang yang baik sehingga disenangi, bahkan tidak hanya oleh keluarganya, tapi juga oleh banyak orang lain.

2.      Pribadi yang baik akan membuat seseorang berjodoh dengan yang baik, bahkan dengan orang yang lebih baik lagi.