Islams, Islam dan Kotak Pandora

0
18 views
www.siasat.pk

Oleh Abd. Muid N.

Sebuah pertemuan ilmiah bertajuk “Seminar Internasional” berlangsung di Institut PTIQ Jakarta. Maunya, pertemuan itu berbicara tentang masa depan Islam tanpa sektarianisme. Namun banyak narasumber meragukannya. Mungkinkah Islam berlangsung tanpa sekte? Bahkan sepintas lalu sekte-sekte sudah seperti batu bata yang membentuk bangunan besar Islam itu sendiri. Wafatnya Nabi Muhammad layaknya gong dimulainya kompetisi. Lalu sekte-sekte berlomba-lomba menampakkan wujudnya.

Seperti terbukanya Pandora’s Box, terbukanya kran sekte-sekte, tidak dapat lagi dicegah dan melahirkan berbagai macam problem dalam kehidupan keberagamaan Islam sepanjang sejarah, hingga detik ini.

Ada kegalauan yang mengakrabi pemikiran Islam akibat dampak pergesekan sekte-sekte yang tidak jarang sampai kepada pertumpahan darah. Lalu lahir sebuah impian, bila semua sekte lenyap dan melebur menjadi “Satu Islam.” Sekali lagi, hampir semua narasumber—Azyumardi Azra, Abdurrahman Mas’ud, Masdar F. Mas’udi, Atho Mudzhar, dan Nasaruddin Umar—pada “Seminar Internasional” itu menunjukkan keraguannya.

Bahkan ada kekhawatiran akan semakin menyeruaknya perseteruan antarsekte akibat intervensi kepentingan politik, bahkan sampai pada tindakan-tindakan kekerasan. Fenomena terorisme, anjuran pembubaran aliran yang berbeda, dan sikap beringas yang ditunjukkan oleh kelompok-kelompok Muslim Indonesia disebut sebagai tanda-tanda konkret semakin mengristalnya sekte-sekte. Sekte tidak lebur, malah semakin menguat dan membanyak.

Salah seorang narasumber tampil sedikit berbeda karena menegasikan adanya Islam yang banyak dalam bentuk sekte-sekte. Dia adalah Adian Husaini. Baginya, Islam tidak banyak, hanya satu. Islam yang tampak banyak adalah akibat intervensi ilmu pengetahuan Barat terhadap Islam dengan maksud untuk menggoyahkan Islam dengan cara mengkotak-kotakkan Islam, tegasnya.

Adian Husaini melanjutkan bahwa jika ada yang membuat kategori-kategori Islam dengan berbagai macam klasifikasi, maka sebenarnya itu adalah kategori yang berdiri di atas argumentasi yang lemah. Alasannya, Islam hanya ada satu.

Konsekuensi dari argumennya itu, Adian Husaini lalu memetakan Islam kontemporer yang menurutnya hanya ada dua, yaitu: “Islamisme” dan “Liberalisme.” Adian Husain benar ketika mengatakan bahwa setiap kategorisasi-kategorisasi yang diberikan terhadap Islam “yang satu” itu mengandung kelemahan-kelemahan pada landasan epistemologisnya. Semua itu karena memang setiap upaya kategorisasi, sejenis dengan upaya untuk mendefinisikan sesuatu; dan setiap upaya pendefinisian pasti mengandung reduksi dan mungkin simplifikasi.

Namun ketika Adian Husaini mengajukan tesisnya tentang adanya “Islamisme” dan “Liberalisme,” apakah itu tidak reduktif dan simpliktif? Jika itu termasuk upaya pendefinisian, maka ada kemungkinan tesis tersebut juga reduktif dan mempunyai kelemahan pada landasan epistemologisnya sendiri.

Namun terlepas dari polemik sedemikian, pandangan yang mirip dengan pandangan Adian Husaini itu juga pernah dilontarkan oleh cucu Hasan Al-Banna, Tariq Ramadan.

Tariq Ramadan menegaskan ketidaksetujuannya kepada para antropolog dan sosiolog yang memperkenalkan istilah “Islams,” yaitu ada banyak Islam, tidak hanya satu dan seragam. Tariq Ramadan tidak menyebutkan siapa yang dimaksudnya dengan “para antropolog dan sosiolog.”

Asumsi Tariq Ramadan tidak hanya sampai di situ. Dia juga mengritisi ulama yang menyebutkan bahwa “hanya ada satu Islam.” Tariq Ramadan tidak berada pada salah satunya, tetapi mencoba berada pada pihak ketiga yaitu pihak yang berupaya menjelaskan bagaimana “yang satu” dan “yang beragam” itu ada dalam Islam.

Menurut Tariq Ramadan, jika yang dimaksud adalah keyakinan (‘aqîdah) dan ritual (‘ibâdah), maka hanya ada satu Islam yang menyatukan baik Sunnah maupun Syiah di atas dasar Al-Quran dan Sunnah. Mereka disebut ummah. Dan adapun perbedaan, maka hal itu tidak dapat dibantah dan beroperasi pada dua level. Pertama, ada perbedaan pembacaan dan penafsiran yang berawal dari perbedaan tradisi, trend, dan madzhab. Level perbedaan kedua adalah kultural yaitu segal hal tentang umat Muslim yang berkaitan dengan mu’âmalah. Karena itu, hanya ada satu Islam dengan beragam penafsiran dan bermacam-macam budaya.

Kisah Pandora’s Box tidak berakhir dengan hadirnya berbagai macam persoalan akibat terbukanya sang kotak. Akhir kisah menyebutkan bahwa Pandora’s Box tidak hanya menyebarkan banyak persoalan, tetapi juga menyediakan penawarnya yang beranama: “HARAPAN.” Mungkin sekte-sekte dalam Islam juga demikian.

Bahan Bacaan

Adian Husaini, “Peta Pemikiran Islam Kontemporer,” dipresentasikan dalam Seminar Internasional: Breeding Post-Sectarian Islamic Thinking, Institut PTIQ Jakarta, 24 Maret 2011

Tariq Ramadan, What I Believe, Oxford: Oxford University Press, 2010.