Islam Nirkekerasan

0
44 views

Abd. Muid N.

Muhammad Abu-Nimer berkisah. Hari itu, Februari 1989 di kota Hebron, Tepi Barat, patroli Israel mengejar sekelompok pemuda (syabâb) setelah sebuah insiden pelemparan batu. Dalam pengejaran itu, salah seorang shabâb tersungkur, tewas tertembak. Kelompok shabâb marah, berbalik menyerang patroli Israel. Kebetulan salah seorang tentara terpisah dari patroli, lalu menjadi sasaran kemarahan para shabâb.

Sang tentara pun berusaha menyelamatkan hidupnya dengan mencari perlindungan di sebuah rumah terdekat. Setelah menggedor pintu dengan senapan, seorang perempuan setengah baya keluar dan mempersilahkannya masuk. Tidak hanya itu, sang perempuan menyuguhkan kopi sambil menunggu perginya para shabâb agar sang tentara bisa pergi dengan aman.

Ternyata, perempuan setengah baya itu adalah ibu dari pemuda yang tewas tertembak.

Abu-Nimer menceritakan kisah ini dalam rangka menyampaikan konsepnya tentang nirkekerasan dan bina-damai dalam Islam. Salah satu inti dari kisah ini adalah kesanggupan korban kekerasan untuk berbesar hati memaafkan pelaku kekerasan. Dan itu dilakukan atas nama agama dan tradisi yang selama ini memang dianutnya.

Abu-Nimer ingin menegaskan bahwa dalam Islam, konsep nirkekerasan dan bina damai ketika terjadi konflik bukanlah konsep yang asing. Sangat banyak contohnya dari kehidupan Nabi Muhammad, sejarah panjang Islam, dan dalam Al-Quran sendiri.

Namun dalam membangun konsepnya, Abu-Nimer sepertinya tidak percaya pada beberapa tradisi tertentu dan mengajukan salah satu tradisi, yaitu tasawwuf. Dalam bukunya, Nirkekerasan dan Bina-Damai dalam Islam: Teori dan Praktik, Abu-Nimer menegaskan bahwa teologi tidak akan mungkin diharapkan untuk mengedepankan bina-damai. Mungkin asumsinya adalah bahwa teologi masing-masing agama sering saling berhadapan secara diametral tanpa menyisakan banyak ruang untuk kompromi; apalagi fiqh-nya.

Karena Abu-Nimer sedang berbicara tentang konsep Islam, maka mau tidak mau, dia harus merujuk kepada tradisi-tradisi disiplin keilmuan klasik Islam seperti teologi (kalâm), fiqh, tasawwuf, dan lain-lain. Sangat mungkin, pada teologi dan fiqh, Abu-Nimer menemukan potensi konflik yang sangat besar. Karena dia harus memilih di antara tradisi-tradisi Islam itu, maka dia menawarkan sesuatu yang lain, yaitu sikap-sikap memaafkan, memaklumi, dan berbesar hati untuk tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Tradisi seperti ini sangat akrab ditemui dalam tradisi tasawwuf, tidak dalam teologi maupun fiqh. Meskipun sebenarnya Abu-Nimer tidak menyebut ‘tasawwuf’ secara eksplisit dalam bukunya.

Memang Abu-Nimer tidak memaksudkan untuk menyalahkan tawaran lain selain yang dia tawarkan karena dia pun mengakui bahwa kekerasan adalah pilihan. Menampilkan Islam dengan wajahnya yang keras merupakan hal yang tidak bisa dihindarkan. Namun jika harus memilih—menurut Abu-Nimer—mengapa kita tidak memilih jalan damai, yang sebenarnya juga adalah tawaran Islam?

Kisah di awal tulisan ini memang menggugah, namun berapa banyak orang yang bisa seperti itu? Di alam di mana kekerasan terjadi terus-menerus seperti tiada ujung, pintu-pintu maaf tidak selalu terbuka. Ada kalanya dia tertutup rapat oleh tragedi yang memilukan dan ketika kekejaman tidak lagi terperikan.[]

Bahan Bacaan

Mohammed Abu-Nimer, Nirkekerasan dan Bina-Damai dalam Islam: Teori dan Praktik, Jakarta: Pustaka Alvabet, 2010