Islam dan Toleransi

0
20 views

Permasalahan toleransi beragama memang selalu menarik untuk dibahas. Terlihat sepele namun di dalamnya menyimpan pertautan emosi keberagamaan yang cukup pelik. Hal ini bisa kita buktikan dari banyaknya kasus dan kejadian di masyarakat di negara kita yang notabene mengakui lima agama (Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan Budha) namun ternyata masih saling bersitegang satu sama lain dalam menjaring pengikutnya.

Toleransi dan kerukunan antar umat beragama sering terganggu karena usaha penyebaran agama yang agresif. Penyebaran agama tidak terlarang di negeri ini. Meski demikian, pemerintah telah menetapkan agar penyebaran agama tidak menjadikan individu dan masyarakat yang telah memeluk agama tertentu sebagai target pengalihan agama -apalagi secara agresif dengan menggunakan cara-cara yang tidak pantas; menggunakan segala cara dan bahkan tipu daya. Jika ini terjadi, tidak bisa lain, ketegangan dan bahkan konflik sulit dielakkan dan tidak jarang membuat sulit aparat keamanan.

Karena itu, jika toleransi dan kerukunan antar umat beragama dapat terjaga, patutlah penyiaran agama dilakukan dengan tetap mempertimbangkan sensitivitas agama dan sosial; tidak dengan cara-cara yang menimbulkan keberatan, kegusaran, dan bahkan kemarahan pihak lain. Meski kemarahan itu punya dasar, tetap saja tidak ada justifikasi untuk terjerumus ke dalam kekerasan; cara-cara damai tetaplah harus ditempuh.

Islam mengajarkan umatnya untuk berpegang teguh pada keyakinannya. Tapi di sisi lain Islam juga mengajarkan kearifan toleransi yang luar biasa luhur (Baca surah al-Kafirun ayat 5 dan Saba ayat 24-26).

Ayat 5 surah al-Kafirun tersebut menjelaskan bahwa seorang muslim seyogyanya memiliki keyakinan yang kuat di dalam dirinya sehingga ketika ada orang/pihak lain yang mengajaknya untuk bekerjasama dalam hal aqidah atau ritual keagamaan, ia bisa dengan tegas menolaknya. Dalam beribadah tidak boleh dicampur aduk dengan syirik, aliran kepercayaan atau keyakinan lain. Dan di sisi lain Islam membolehkan bekerjasama dengan non muslim dalam hal sosial kemasyarakatan.

Jangan korbankan agama atas nama toleransi dan jangan korbankan toleransi atas nama agama.

Lebih rinci pelajaran toleransi dalam Islam dijelaskan dalam surah saba ayat 24-26. Ayat ini mengajarkan kita untuk tidak memvonis sesat pada orang lain yang berbeda keyakinan dengan kita. Kita harus yakin dengan agama kita tapi bukan berarti kita dengan mudah mengatakan orang lain salah dan masuk neraka. Hak kita untuk mengatakan kita yang benar dan mereka yang salah tapi harus dipendam jangan sampai keluar supaya tidak sampai terjadi keributan bahkan sampai pertumpahan darah.

Hak mereka juga mengatakan mereka yang benar dan kita yang salah, kita jangan marah. Kalau pun mereka anggap kita berdosa mereka tidak akan diminta mempertanggungjawabkan dosa kita dan kita juga demikian tidak akan dminta mempertanggungjawabkan apa yang mereka kerjakan. Biarlah Tuhan yang memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah pada saat manusia dikumpulkan di akhirat nanti. Karena Dialah yang Maha Pemberi Keputusan dan Maha mengetahui. Tugas kita sekarang adalah meyakini agama kita dan terus mempelajarinya, sehingga ketika kita membawanya nanti di Hari Pengadilan kelak, kita akan datang dengan hati yang puas. Wallaahu A’lam.