Islam dan Kesendirian

0
32 views

Dalam tradisi Islam ada yang disebut tahannuts, `uzlah, dan juga tafakkur. Semua mengandaikan hadirnya kesendirian, kesepian, keheningan, dan kesyahduan. Dalam sagalanya ada pretensi untuk menggapai kesucian.

Ada kesan Islam adalah agama yang memuja keramaian. Ini bisa kita lihat dari bidang Fiqh yang mengkaji masalah yang disebutnya `ibâdah dan mu`âmalah. Ibadah adalah aturan hubungan manusia dengan Allah dan itu sangat sarat keramaian semisal shalat yang disebut lebih baik dilakukan berjamaah. Atau ibadah haji yang pasti dilakukan beramai-ramai karena hanya boleh dilakukan pada waktu-waktu tertentu dan tempat yang sudah ditentukan pula. Belum lagi jika dikatakan bahwa intinya ibadah haji adalah wuqûf di Arafah, sebuah bukit di mana suluruh jamaah haji tumpah ruah di satu tempat dan di satu waktu. Sangat ramai.

Apalagi jika itu adalah mu`âmalah yang berarti hubungan manusia dengan manusia, maka dimensi kesendirian dalam Islam benar-benar nampak tidak ada. Muamalah itu sendiri adalah aturan yang menengai urusan antarmanusia.

Kesendirian dalam tradisi Islam mulai nampak pada disiplin ilmu yang bernama Ilmu Kalam atau teologinya Islam. Namun demikian, campuran keramaiannya masih cukup kental ketika teologi Islam telah menjadi sekte-sekte yang mempunyai massa. Padahal teologi pada dasarnya sesuatu yang menyendiri karena berawal dari permenungan orang per orang akan keesaan Allah.

Adapun kesendirian, kesunyian, dan kesyahduan dalam tradisi Islam semakin jelas dalam disiplin ilmu yang bernama Tasawwuf. Karena salah satu inti dari tasawwuf adalah dzikr. Vilayat Pir Inayat Khan pernah mengatakan bahwa rahasia tasawwuf adalah bergesernya pandangan dari sudut pandang pribadi manusia kepada Tuhan. Menekankan dalam kesadaran akan arti penting makna penciptaan. Untuk menggapai kembali hilangnya kesadaran akan kehadiran Tuhan, kita bisa mengambilnya kembali dengan memperdalam dan memperluas kesadaran kita melalui meditasi, doa dan puja puji. Tujuan meditasi adalah menyambung kembali diri kepada dimensi transpersonal keberadaan manusia.

Tasawwuf mengandaikan manusia sedang berada dalam kekalutan akibat pergaulan manusia dengan dunia materi. Dunia materi telah menjadi hal yang paling mempengaruhi cara pandang manusia terhadap segala hal. Sufi yang dikenal paling awal adalah Hasan Al-Bashri. Dia mencetuskan pandangan tasawwufnya ketika Islam sedang berada dalam kemajuan peradabannya dan perluasan kekuasaan Islam telah menyentuh dinding-dinding kekuasaan Eropa. Ketika upeti yang berasal dari seluruh wilayah yang dibebaskan sangat melimpah jumlahnya dan umat Islam larut dalam gelimang kekayaan.

Bagi seorang Hasan Al-Bashri, ada masalah akut yang diidap masyarakat Muslim pada waktu itu, yaitu pandangan mata kepala dan mata batinnya telah tertutupi oleh alam materi. Keadaan itu lalu menumpulkan kekuatan pandangan mata hati mereka. Segala hal lalu dilihat secara meterialistis. Kasarnya, umat Islam telah memuja kehidupan dunia material dan melupakan kehidupan akhirat spiritual. Ini masalah bagi seorang Hasan Al-Bashri, karena kehidupan yang sesunggunya bukanlah di dunia ini, tetapi di akhirat kelak. Para pengikut ekstrim Hasan Al-Bashri malah dikenal dengan nama kelompok al-bakkâ’ûn (mereka yang selalu menangis). Mereka mengisi masa depan di akhirat yang menurut mereka sangat menyedihkan karena manusia tidak cukup bekal untuk menghadap Allah di kehidupan setelah kematian.

Namun kritik tasawwuf terhadap masyarakat Muslim bukan hanya itu. Bukan hanya kehidupan dunia  yang bisa memalingkan manusia dari Yang Maha Benar (Al-Haqq). Umat Muslim yang yang terlalu berperhitungan matematis dalam ibadah dangan sangat berharap surga dan amat takut neraka melebihi takutnya kepada Tuhan itu sendiri juga mendapatkan sorotan dari kaum tasawwuf.

Tokoh  yang terkenal dalam hal ini adalah Rabi`ah Al-`Adawiyyah. Dia hidup di masa ketika disiplin-disiplin ilmu keislaman telah memasuki masa keemasannya. Lalu dia melihat umat Islam beragama secar sangat matematis dan sangat bernuansa fiqh. Ibadah semacam itu, bagi seorang Rabi`ah, tidak mempunyai isi. Ibadah yang sangat bermain di wilayah permukaan baik dan buruk dan sangat hitam putih.

Kedua contoh sufi di atas sebenarnya sedang menyoroti Islam ketika sedang berada dalam “keramaian”. Keramaian versi Hasan Al-Bashri adalah godaan dunia yang merasuki kesadaran hidup umat Islam. Sedangkan “keramaian” dalam versi Rabi`ah adalah ramainya niat dan maksud lain yang mengitari kehadiran Tuhan dalam setiap ibadah. Mengapa ibadah yang sejatinya adalah urusan pribadi dan bertujuan pribadi, yaitu Allah semata kemudian menjadi ramai dengan kehadiran unsur-unsur lain seperti surga, takut neraka, biar dapat limpahan rejeki, atau agar panjang umur. Makanya, Rabi`ah menawarkan hanya Allah tujuan segalanya. Pernah Rabi`ah menegaskan bahwa seandainya neraka adalah ganjaran baginya karena beribadah kepada Allah, maka itupun dia rela karena memang tujuannya hanya Allah.

Alhasil, di balik kesan “keramaian” dan penafian terhadap kesendirian yang kadang menyelimuti Islam, sebenarnya terpendam di dalam Islam bahwa Islam adalah agama kesendirian. Lihatlah, mereka yang sedang wukuf di Arafah. Dalam keramaian sebenarnya mereka sedang merayakan kesendirian. Doa-doa yang dilantunkan pun adalah nyanyian akan keselamatan sendiri-sendiri, bukan keselamatan bersama.

Jika memang Islam adalah murni agama keramaian, mengapa Al-Qur’an turun di tengah malam sunyi, di puncak bukti yang sepi, di dalam gua yang hening? Dan bukankah teologi Islam mengajarkan bahwa manusia nanti akan dibangkitkan dari kuburnya sendiri-sendiri dan akan mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri-sendiri? Lalu yang ada hanya kesendirian.[]

Bahan Bacaan

http://www.meditationspot.com/sufi.html