Islam dan Barat Tidak Baik-Baik Saja

0
53 views

Kaum Muslimin yang Dimuliakan Allah

Beberapa fenomena kontemporer yang terjadi seperti pembuatan film yang dianggap menghina umat Islam dan pembuatan kartun yang dianggap menghina Nabi Muhammad saw adalah tanda bahwa hubungan antara Islam dan Barat sedang tidak baik-baik saja. Mungkin bukan Islam dan Barat secara institusional tetapi cara pandang masing-masing pihak terhadap yang lain yang memang bermasalah.

Islam dan Barat memang mengalami masa lalu yang buram bersama yang dimulai sejak episode panjang Perang Salib yang berlangsung hampir dua abad.

Akbar S. Ahmed dalam bukunya, Postmodernism and Islam, berkata:  Antara Islam dan Barat saat ini telah terjadi tiga benturan historis:

  1. Dimulai sejak terbitnya Islam dalam bentuk kedatangan pasukan Islam di Sicilia dan Perancis lalu pecah Perang Salib dan berakhir pada abad ke-17 ketika pasukan Usmaniah dihentikan di Wina.
  2. Terjadi pada masa kolonialisme ketika Eropa menjajah dunia ketiga yang kebanyakan adalah negara-negara Muslim. Pada akhir benturan kedua dan bangsa-bangsa Muslim sudah mulai merdeka, terlihat perbedaan antara peradaban Barat yang menang dan terus berkembang, dan peradaban Muslim yang kalah, menderita, kehilangan kepercayaan diri, dan arah intelektual.
  3. Terjadi saat ini ketika kultur Barat universal dan dominasi teknologinya menyerang peradaban Muslim. Serangan ini muncul dalam bentuk-bentuk yang sama sekali tak terduga dan di tempat-tempat yang tak terduga. Budaya-budaya yang diimport lewat teknologi informasi mampu menginvasi ruang-ruang yang paling terisolasi sekalipun dan menantang nilai-nilai tradisional Islam.

Kaum Muslimin yang Dimuliakan Allah

Kolonialisme dalam hal ini penting untuk ditandai. Madan Sarup, penulis buku Identity, Culture and the Postmodern Wolrd, berkata bahwa kolonialisme bukan hanya tentang pengambilalihan wilayah dan pemerasan ekonomi, tetapi juga tentang hubungan subjek dan objek sebagaimana ada dalam konsep subjektivitas. Ajaran yang dilahirkan oleh para penjajah kepada jajahannya telah mempengaruhi identitas juta orang, di seluruh dunia, yang menganggap realitas nyata bahwa diri mereka adalah subordinat yang terus bergantung kepada sebuah otoritas yang berada entah di mana tetapi menghantui dan mempengaruhi hidup mereka.

Bagi banyak kalangan umat Islam, kolonialisme adalah lanjutan Perang Salib. Uniknya, kepercayaan seperti ini juga diyakini para fudamentalis-fundamentalis Barat. Bahkan bagi Karen Armstrong, peristiwa 11 September 2001 yang menghancurkan gedung kembar World Trade Center di New York dan sayap gedung Pentagon sangat erat hubungannya dengan memori Perang Salib. Ini tergambar ketika Presiden Amerika ketika itu, George W. Bush merespon peristiwa 11 September 2001. Menurutnya, perang melawan terorisme memang bukanlah perang melawan Islam. Malah, ia berharap dukungan dari negara-negara Muslim seperti Iran, Mesir, dan Suriah. Namun celakanya, George W. Bush ketika itu menyebut respon terhadap teroris sebagai Perang Salib. Dan dunia mendengarnya.

Presiden Bush mewakili endapan alam bawah sadar orang-orang Barat terhadap Islam yang bagi Karen Armstrong, bisa dilacak awal mulanya hingga ke Abad Pertengahan di tanggal 25 November 1095, ketika Paus Urban II menyerukan ekspedisi yang kemudian dikenal dengan Perang Salib. Cara pandang seperti ini sudah cukup menjadi dalil bagi para teroris Muslim untuk melanjutkan perjuangan mereka lewat jalur kekerasan.

Kaum Muslimin yang Dimuliakan Allah

Apa yang sedang terjadi antara Islam dan Barat selama beberapa abad sebenarnya adalah pemahaman stereotip terhadap masing-masing yang adalah warisang Perang Salib dan Kolonialisme dan diperparah oleh arus informasi yang tidak seimbang antara keduanya saat ini. Ini yang disebut oleh Homi Baba, seorang pemikir pascakolonial, sebagai fixity, yaitu cara pandang perbedaan budaya/sejarah/ras di mana segalanya dianggap kaku dan tidak berubah. Fixity mengandaikan tidak adanya hubungan yang cair.

Para teroris Muslim berfikir seperti itu demikian pula beberapa tokoh-tokoh utama Barat yang berfikiran sempit. Salah satu contoh adalah Paus Benediktus XVI yang dalam salah satu pidatonya menyatakan bahwa identitas Eropa adalah Kristen sebagai agama dan Yunani dalam filsafat.

Mengeksklusi Islam dari peradaban modern Eropa seperti ini adalah pandangan yang rasis yang tidak ada manfaatnya kecuali memelihara rasa saling curiga antara Islam dan Barat yang selanjutnya akan melahirkan stereotip-stereotip baru. Cara pikir seperti ini memandang setiap manusia hidup secara terpisah dan asing karena itu, yang ada hanya perseteruan abadi antara sang “kami dan sang “mereka” yang asing. Lalu sang “kami harus melindungi diri dari mereka dan merekaharus mempertahankan diri dari serbuan kami”. Fenomena ini lebih merupakan kegagalan komunikasi antarbudaya hingga melahirkan ketakutan-ketakutan serta kecurigaan. Tindak kekerasan dan sikap intoleran timbul dari sikap-sikap seperti ini.

Kaum Muslimin yang Dimuliakan Allah

Antara Islam dan Barat harus ada kesepahaman bahwa keduanya mempunyai potensi besar untuk membangun peradaban besar.

Banyak sejarawan dan sosiolog menyatakan bahwa Islam adalah penyebab utama gerakan Eropa dari kegelapan Abad Pertengahan menuju kecemerlangan Renaisans. Ketika Eropa masih terbelakang di bidang kedokteran, astronomi, matematika, dan bidang-bidang lainnya, umat Islam telah berkembang melampaui peradaban lain di masanya. Bassam Tibi mengatakan bahwa lahirnya Barat Kristen yang modern adalah berkat kehadiran Islam karena sejak sangat awal, Islam dan Barat Kristen telah berbagi sejarah dan hubungan. Islam dan Barat Kristen memang saling melukai lewat pengambilalihan kekuasaan atas nama jihad maupun lewat Perang Salib atau kolonialisme, tetapi keduanya bersama-sama saling memperkaya dalam budaya dan peradaban di mana Islam Abad Pertengahan meminjam dari Hellenisme sedangkan rasionalisme Islam diambil oleh Kebangkitan Eropa.

Di dalam peradaban Islam dan diasporanya di Eropa ada modal kebangkitan yang berdasar pada pandangan dunia yang dibangun oleh rasionalisme Islam dan berkembang pada abad ke-9 hingga ke-14. Para rasionalis Muslim, dari Al-Farabi hingga Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd sampai Ibnu Khaldun membangun pemikiran mereka pada fondasi Islam yang telah ter-Hellenisasi-kan.

Referensi historis semacam ini tidak sekadar memperlihatkan hubungan harmonis antara kedua peradaban tetapi juga termasuk pembuahan silang budaya melalui peminjaman budaya. Dalam tulisannya yang lain, Bassam Tibi menyebut hubungan Islam dan Barat dengan threat and fascination (ancaman sekaligus keterpesonaan). Keduanya pernah saling mengancam dalam Jihad penaklukan dan Perang Salib, tapijuga saling mempesona lewat budaya dan peradaban. Karena itu, terlalu sederhana menyebut hubungan Islam dan Barat dengan istilah clash (benturan) sebagaimana disebutkan oleh Samuel P. Huntington. Sumbangan yang saling menguntungkan antara Barat dan Islam tidak lantas menghapus perbedaan yang hadir antara keduanya dengan sejarahnya masing-masing. Demikian pula perbedaan yang ada tidak bisa menjadi alasan untuk tidak mengakui bahwa keduanya saling berhubungan dengan baik.

Karena itu, saling menghina dan saling merendahkan antara masing-masing peradaban hanya merupakan penghinaan terhadap peradaban sendiri dari pada penghinaan kepada pihak-pihak yang dihinakan.

Kaum Muslimin yang Dimuliakan Allah

Kesimpulan khutbah kita kali ini adalah marilah kita melembutkan hati, memupus kebencian dan kedengkian dan tidak menjadikan kebencian serta kemarahan dalam hati kita lebih besar daripada kebesaran Allah swt. Hanya dengan jalan seperti itu, kita mampu menghargai orang lain, pihak lain, dan manusia-manusia lain yang berbeda agama, keyakinan, budaya, ras, dan sebagainya.[]

 

Oleh Abdul Muid Nawawi