Innâ li Llâh

0
174 views

Oleh Abd. Muid N.

Innâ li Llâh wa innâ ilaihi râji’ûn mungkin adalah kalimat yang paling menguras air mata. Jika kalimat-kalimat spiritual lain seperti Allâhu akbar, Subhâna Llâh, Astagfiru Llâh, dan lain-lain tidak selalu bernuansa kesedihan, maka Innâ li Llâh wa innâ ilaihi râji’ûn berbeda. Kalimat ini umumnya dipahami sebagai respon terhadap musibah. Umumnya musibah diidentikkan dengan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Tentu saja tidak ada harta yang lebih bernilai daripada nyawa. Kehilangan nyawa adalah puncak segala musibah. Tidak heran di setiap selimut keranda, selalu ada kalimat tersebut.

Kuat dugaan fenomena ini adalah perwujudan dari pemahaman terhadap ayat 156 surah al-Baqarah: Orang-orang yang ketika mereka tertimpa musibah, mereka mengucapkan: Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesungguhnya kepada Allah kita akan kembali. Ayat sebelum ayat itu (ayat 155) memang berbicara tentang ujian hidup bagi manusia seperti ketakutan, kelaparan, kemiskinan, kematian, dan sebagainya. Juga disebutkan tentang kesabaran. Kalimat Innâ li Llâh wa innâ ilaihi râji’ûn adalah upaya pertama agar kesabaran itu hadir meski kenyataan datang di luar harapan.

Yang menarik adalah bahwa ayat-ayat sebelum 155 dan ayat-ayat setelah 156 tidak berbicara tentang hal yang serupa. Kenyataan seperti itu membuat beberapa kalangan tidak selalu menganggap kalimat Innâ li Llâh wa innâ ilaihi râji’ûn berkaitan dengan urusan musibah, khsusunya kematian. Bahkan jika pun itu berkaitan dengan kematian, tidak harus bernuansa kesedihan. Salah satunya adalah Abdul Karim al-Jili. Dia pernah menulis puisi:

Sebagai amsal, ciptaan adalah bagaikan es

Dan Engkau-lah yang ada dalam air yang mengalir

Es, kalau kita sadari, tidaklah lain dari airnya

Dan ia dalam keadaan begini hanyalah karena berkebetulan

Tapi es pasti akan melebur, menjadi air;

Pada akhirnya keadaan cair pasti akan terjadi

Kedua kontras berpadu dalam satu keindahan:

Dalam kepaduan itulah keduanya musnah dan dari keduanyalah keindahan itu memancar.

Al-Jili menyederhanakan kembalinya makhluk ke pangkuan Tuhan seperti kembalinya es menjadi air. Sebuah peristiwa natural dan sudah semestinya. Tidak ada sesuatu yang begitu mencolok karena keadaan cair pasti akan terjadi. Keadaan cair justeru awal dan segalanya akan kembali cair. Tidak ada kesan al-Jili mengaitkan kejadian seperti itu dengan musibah. Namun dia mengakui perpaduan antara yang cair dan yang es itulah keindahan sesungguhnya, meski dalam padu itu keduanya musnah. Sepertinya, al-Jili lebih ingin menegaskan bahwa bukan keindahan jika salah satunya harus tiada demi keberadaan yang lain. Ketuhanan dan kemanusiaan berpadu dalam keindahan.

Ada kemiripan dengan al-Jili, Tariq Ramadan, seorang pemikir masa kini, lebih cenderung mengaitkan kalimat Innâ li Llâh wa innâ ilaihi râji’ûn dengan tauhid. Bagi Ramadan, kalimat tersebut lebih merupakan bukti penjagaan Allah swt terhadap tauhid umat manusia daripada berbicara tentang kematian atau musibah dalam bentuk lainnya.

Argumen Ramadan sederhana. Dia bercerita, begitu banyak nabi dan rasul yang pernah diutus ke muka bumi. Tugas mereka hanya satu yaitu “mengembalikan” manusia ke jalan tauhid. Mungkin Ramadan memahami ayat 156 surah al-Baqarah ini tidak hanya dengan melihat satu ayat sebelumnya tetapi beberapa ayat sebelumnya. Memang ayat-ayat sebelumnya (ayat 146-150, misalnya) berbicara tentang wahyu yang turun kepada umat manusia yang mengingatkan untuk berbuat kebajikan dan untuk selalu konsisten di jalan Ketuhanan. Lalu ayat 151 sampai 154 berbicara tentang pengutusan nabi dan rasul yang mengajak untuk mengingat dan bersyukur kepada-Nya lewat sabar dan shalat serta kehidupan/kematian orang berjuang di jalan Allah.

Bagi Ramadan, ayat 156 surah al-Baqarah tidak sesederhana berbicara tentang kematian, namun ayat itu merupakan ujung dari cerita panjang kehidupan manusia yang selalu harus berpegang teguh pada keesaan Allah swt. Lalu Allah swt. mengutus rentetan nabi dan rasul untuk mengawal manusia agar tetap berada di jalan keesaan-Nya dalam kondisi apapun. Itu karena kita semua adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kita semua akan kembali. Innâ li Llâh wa innâ ilaihi râji’ûn.[]

Bacaan:

Tariq Ramadan, Muhammad: Rasul Zaman Kita, terjemahan R. Cecep Lukman Yasin, (Jakarta: Serambi, 2007)

Seyyed Hossein Nasr, Sains dan Peradaban dalam Islam, terjemahan J. Mahyudin, (Bandung: Pustaka, 1997)