Amanah

  Amanah secara etimologis berasal dari bahasa Arab dalam bentuk mashdar dari (amina- amanatan) yang berarti jujur atau dapat dipercaya. Sedangkan...

Tahun Politik

Tahun 2014 adalah tahun politik. Begitu kata beberapa politisi negeri ini. Tapi apa itu tahun politik? Jika merujuk pada konteks peredaran istilah...

MENGKHIANATI DOA SENDIRI(2)

  Setelah kita membahas empat contoh bentuk pengkhianatan kepada doa sendiri, akan kita bahas poin lain agar kita mau berusaha sesudah kita berdoa...

Bincang Natal

  1. Natal ini, terkenang ujaran Allahu yarham KH Abdullah Wasi'an (kristolog Jogja -red); "Saudara-saudaraku Nashara terkasih, beda antara kita...

Nostalgia Kedua

Ini masih tentang gugatan seorang mahasiswa bahwa kisah tentang peradaban Islam yang katanya tidak lebih dari nostalgia masa lalu Islam yang dulu...

  • Amanah

  • Tahun Politik

  • MENGKHIANATI DOA SENDIRI(2)

  • Bincang Natal

  • Nostalgia Kedua

Articles

LivinGenius: Seni Menghidupkan Kejeniusan, Menjadikan Hidup Lebih Hidup

”Inspiring...”. Itulah satu kata yang pas untuk menggambarkan buku ini. Meski tidak termasuk dalam kelompok buku terbitan baru, namun kecemerlangan ide penulisnya dalam mengungkap rahasia hidup lebih jenius dan menghidupkan kejeniusan sepertinya tak akan lekang oleh zaman. Oleh karena itu, buku ini pantas menjadi referensi utama bagi setiap orang yang menginginkan kebahagiaan dan mendambakan mengecap indahnya kehidupan dunia.

Dalam bukunya, Ryan B. Wurjantoro, penulis buku ini, menjelaskan bahwa  Kejeniusan seperti halnya seni, ia merupakan sebuah pencarian bukan hasil akhir. Sebuah pencarian makna atas hidup yang dihayati.

Secara definitif, Ryan kemudian mengutip Todd Siler dalam buku Think Like a Genius. ”Kejeniusan adalah berpikir dengan cara yang jarang atau belum dilakukan orang. Karena meskipun di dunia ini tampaknya tidak ada yang baru, tetapi sesungguhnya banyak hal yang belum ditemukan, diciptakan, digali atau diperdalam orang. Dan orang jenius akan berusaha menemukan sesuatu, menciptakan sesuatu dengan caranya sendiri.”

Yang menarik, mantan dosen sekaligus penyiar radio dan TVRI semarang ini, mengaitkan kejeniusan dengan konsep iqra dalam al-Qur’an dalam pembahasan pertamanya.

 Hal ini dipertegas oleh penjelasan Prof Dr. Komaruddin Hidayat (Penulis buku best seller ”Psikologi Kematian” yang sekarang menjabat Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), dalam pengantar buku ini. ”Iqra’, bacalah...!” Itulah wahyu pertama yang disampaikan Allah pada nabi Muhammad saw sebagai bentuk penghargaan Islam yang amat tinggi terhadap intelektualitas, penalaran kritis dan ilmu pengetahuan. Ketika membaca, sesungguhnya otak kita juga diperintah merenung, berpikir, membandingkan, menganalisa dan membuat sebuah kesimpulan. Setiap hari kita diperhadapkan dengan kitab agung bernama alam semesta dan kehidupan. Otak kita dibantu oleh mata, telinga, hidung, kaki, tangan dan indera lain yang semuanya turut memberi masukan dan bahan analisa serta pertimbangan pada otak dan hati sebelum membuat kesimpulan akhir.

Buku ini, menurut Komaruddin, mengajak kita untuk membaca, merenung dan bercanda dengan kehidupan. Bahwa hidup itu akan dipandang indah atau kelabu, lebih banyak ditentukan oleh seni mengolah pikir dan emosi kita sendiri. Secara fisik organ tubuh dan otak manusia adalah sama. Yang berbeda adalah kemampuan mengelola dan memperdayakan potensinya. Hidup ini indah kalau kita memang mau menemukan dan menikmati keindahan hidup. Sebaliknya, hidup ini menjadi rangkaian derita jika kita fokus dan memilih sisi gelap dari kehidupan. Penulis buku ini juga mengajak kita untuk menggali kejeniusan yang tersimpan dalam diri setiap manusia untuk menemukan, menghayati dan menikmati keindahan hidup, karena pada dasarnya semua orang memiliki bakat yang sama untuk menjadi jenius. 

Penulis kelahiran Banjarnegara ini menegaskan bahwa membaca bukan sekadar memelototi deretan huruf, bukan sekadar memaknai kata atau menghabiskan halaman demi halaman tapi membaca adalah memanfaatkan segala apa yang kita punya, seluruh panca indera kita untuk memaknai semua pengetahuan, pengalaman, fenomena dan kejadian apa pun yang kita alami dengan landasan bahwa tidak ada kehadiran di muka bumi ini yang tidak berarti. Termasuk penderitaan dan sakit hati. Itulah membaca yang sesungguhnya! Membaca dalam pengertian bagaimana seharusnya kita belajar dalam fitrahnya sebagai manusia. Inilah belajar yang dilandasi cahaya kecerdasan spiritual yang disebut Iqra. Kata pertama yang diwahyukan Allah kepada Muhammad saw. Yang tentu saja bukan tanpa maksud. Iqra adalah sumber aktivitas pemaknaan eksistensi kita sebagai manusia, termasuk dalam konteks belajar. (LivinGenius, 15)

Hal yang paling hakiki untuk memahami konsep iqra ini adalah bahwa semua yang kita ketahui, miliki dan rasakan adalah ciptaan Allah untuk kepentingan manusia. Oleh karena itu kita harus mensyukuri dan menerima semua anugerah yang diberikan-Nya dan menjadikan sebagai kendaraan untuk mendekatkan diri kepada Allah (Lihat QS. ar-Rum ayat 8).

Ada dua hal penting yang perlu digarisbawahi dari ayat ini. Pertama, kita hrus membaca diri dari berbagai sisi yang kita miliki untuk menemukan arti dan makna diri sesuai dengan fitrah kita sebagai makhluk. Dengan memahami ”who the real I” maka ia akan bisa mengendalikan hawa nafsu, memelihara perilaku dari kesesatan dan mengarahkannya menjadi perilaku yang benar menuju iman dan amal shaleh sehingga hidup aman, tenteram, dan bahagia.

Dengan mengetahui hakikat diri akan menjadikan manusia sebagai makhluk hidup yang merdeka, tidak takut, marah, dan sakit hati, tidak rendah diri dan pesimis tapi ia bebas berekspresi rasa dan isi hati dan hanya takut kepada Allah. Itulah kecerdasan pribadi (personal Intelligence). Bebasnya manusia dari belenggu kekecewaan, sakit hati, dan dendam membara, iri dengki inilah yang dalam terminologi agama disebut ikhlas.

Orang yang ikhlas mampu bersukur dan rela menerima apa yang diberikan Allah dan ridha jika memang harus ada yang lepas atau hilang dari kehidupannya. Ridha terhandap kenyataan yang kadang jauh bahkan berlawanan dengan keinginan. Memang tidak mudah melaksanakannya. Seorang bijak mengatakan lebih mudah mencari keridhaan Allah dari pada keikhlasan manusia.

Personal Intellegensi ini merupakan modal utama untuk membaca lebih banyak lagi hal yang ada di luar diri kita. Kita akan memahami yang di luar diri kita seperti kita memahami diri kita sendiri sehingga kita akan mudah merasa simpati dan empati kepada sesama manusia, lingkungan, dan makhluk Allah lainnya.

Selain kecerdasan pribadi, manusia juga harus memiliki kecerdasan sosial. Manusia sama di mata Allah. Bagaimana kita menggunakan seluruh potensi yag dimiliki untuk berhubungan dengan semua hal yang dimiki di luar diri kita dengan cara yang positif termasuk semua makhluk, lingkungan dan sesama manusia.

Selaman ini orang dinggap jenius dan cerdas adalah yang skor atau nilai tes IQ tinggi. Padahal IQ tinggi tidak menjamin kesuksesan seseorang dalam hidupnya. Hal ini berdasarkan penelitian bahwa orang-orang yang berhasil bahkan para penemu, belum tentu meiliki IQ tinggi. Contohnya Albert Einstein, manusia yang dianggap paling jenius abad 20, nyatanya pernah mendapat nilai matematika 3 waktu di sekolah dasar. Dan leonardo Da Vinci, manusia paling kreatif, artis serba bisa, ternyata sekolahnya cuma SD. Dari sinilah para ahli berkeyakinan bahwa manusia memiliki kecerdasan-kecerdasan lain yang memberi sumbangan terhadap keberhasilan seseorang, Sejak saat itulah paradigma baru tentang kecerdasan manusia mulai berubah.

Sebagai trainer handal dalam program pelatihan sesuai dengan judul buku ini Living Genius, dan Brain Based Learning, Ryan menggagas konsep Livin Genius sebagai sebuah konsep tentang seni menjalani hidup dengan memperdayakan segenap potensi manusia sampai potensinya yang paling dalam dengan mengelaborasi dan mengaktualisasikan kemampuan nalar, rasa, dan hati. Kata Living Genius ini mencakup dua pengertian. Pertama, bagaimana menghidupka kejeniusan dalam diri kita; Kedua,bagaimana menggunakan kejeniusan itu untuk menemukan makna hidup untuk meraih kebahagiaan dan menjadikan hidup lebih hidup. (hal. 34-35).

Setelah membahas konsep iqra di bagian pertamanya. Kemudian dibahas masalah seni kehidupan, seni berfikir, seni mencinta, dan spiritualitas keseharian. Dengan gaya bahasa yang sederhana dan sentuhan humoris membut buku Living Genius ini terasa mengalir dan mudah dipahami pembacanya.

Dalam buku ini dijelaskan lebih rinci bagaimana menumbuhkan curiousity, kecerdasan kreatif, dan bagaimana memberdayakan segenap potensi kecerdasan yang kita miliki IQ, EQ, SQ untuk bisa menjadi manusia pembelajar mandiri, menjadi jenius dalam hidup secara mandiri. Itulah hidup jenius. 

 

Judul Buku          : LivinGenius

Pengarang          : Ryan B. Wurjantoro

Penerbit             : Bina Insan Cita Publishing

Tahun terbit       :  2006

Volume              : 227 halaman

Share this post

Submit to FacebookSubmit to Twitter
bannerMuballihgMuballighah