Jodoh merupakan ketentuan yang hanya Allah swt mengetahuinya, namun manusia harus berikhtiar untuk mendapatkan jodohnya, dalam rangka ikhtiar itu boleh atau tidak mengamalkan mahabbah dari buku 1001 kiat meraih cinta dan simpati (ilmu Pengasihan Ampuh) yang diterbitkan oleh CV. Bahagia-Batang-Pekalongan.
Di dalam buku itu, terdapat mahabbah yang ditulis dengan ayat Al-Qur’an, cara mengamalkannya dengan menulis ayat itu di kertas lalu dibawa ke mana pergi, ada juga yang dibaca pada segelas air lalu diminum airnya, bahkan setelah ditulis diasapi dengan menyan, saya ingin mengamalkannya guna mendapatkan jodoh yang caranya membaca ayat itu sebanyak tujuh kali sehabis shalat, tapi timbul rasa ragu saya karena khawatir bersifat musyrik? Dan apakah boleh membaca mahabbah dengan menyebutkan orang yang kita tuju agar kembali pada kita walau saya menyadari bahwa itu dalam kekuasaan dan ketentuan Allah swt. Bagaimana sebaiknya yang harus saya lakukan sesuai dengan hukum Islam mengenai mahabbah ini?.
Demikian hal ini saya tanyakan, atas jawaban pengasuh saya ucapkan terima kasih.
Wassalam
Hamba Allah
Di Jakarta Pusat
Jawaban Pengasuh
Ada satu hal yang ingin kami tegaskan bahwa Al Qur’an merupakan petunjuk yang harus kita jadikan pedoman dalam mengarahkan kehidupan kita agar tetap berada pada jalan yang benar. Karena itu Al Qur’an harus kita imani bahwa dia merupakan wahyu dari Allah, kita pahami petunjuk-petunjukNya lalu kita amalkan perintah-perintahNya dan kita tinggalkan larangan-laranganNya. Bila ini sudah kita laksanakan, insya Allah penyakit mental manusia akan sembuh.
Selajutnya terhadap Al Qur’an disamping kita tidak boleh salah paham dengan maksud diturunkannya serta kandungan yang terdapat di dalamnya, kita juga jangan salah menggunakan dalam hidup ini. Amalan sebagaimana yang anda kemukakan merupakan salah satu bentuk penyalahgunaan Al Qur’an, karena dalam sunnahnya, Nabi Muhammad saw tidak pernah menggunakan Al Qur’an untuk kepentingan itu, apalagi bila harus menjadi wirid atau dzikir sesudah shalat, padahal shalat itu rangkaian pelaksanaannya harus berdasarkan sunnah Rasul saw, tidak boleh ditambah-tambah lagi dengan yang lain.
Namun anda beruntung karena meragukan hal itu sehingga anda belum malakukannya dan anda memang tidak usah melakukannya. Kalau ini sudah menjadi penegasan, maka berarti menjadi jelas jawaban untuk petanyaan anda yang kedua.
Tentang berusaha mendapatkan jodoh di dalam Islam, kita tidak dibenarkan menempuh cara-cara yang tidak benar, termasuk melalui cara berpacaran seperti yang dilakukan oleh kebanyakan pemuda/remaja kita sekarang ini, karena hal itu mengarah pada mendekati zina yang dilarang bahkan banyak diantaranya yang berzina melalui berpacaran.
Kalau sebagai wanita sementara laki-laki belum menyatakan minatnya kepada anda, bisa saja anda melalui pihak ketiga untuk menghubungkan perasaan anda itu kepada seseorang. Bila anda seorang wanita yang shaleh, insya Allah banyak pria yang berminat karena pria yang shaleh memang mendambakan wanita yang shalehah. Di samping itu anda tentu saja harus banyak berdo’a kepada Allah agar dipertemukan dengan pria yang shaleh.
Bila ternyata ada yang berminat, maka langkah selanjutnya adalah saling mengenal (ta’aruf) yang tetap memegang prinsip-prinsip pergaulan di dalam Islam, setelah ada langsung saja ke jenjang berumah tangga sesuai dengan tahap-tahap yang harus dilaluinya, seperti meminta persetujuan orang tua, melamar dan menikah. Kami do’akan semoga anda cepat mendapatkan jodoh dengan pria yang shaleh.



Comments
RSS feed for comments to this post.