Imsak

0
65 views

Imsak secara bahasa dalam Bahasa arab berasal dari kata amsaka yumsiku yang artinya adalah menahan. Secara istilah, imsak bermakna menahan diri dari apa yang membatalkan puasa. Shaum atau puasa secara makna istilah dalam literatur fikih adalah imsak yaitu menahan diri dari apa yang membatalkan puasa sejak terbit fajar (shadiq) sampai terbenamnya matahari.

Dalam perkembangannya kata imsak menjadi sebuah istilah hususnya di negara-negara asia seperti Indonesia yaitu waktu imsak. Waktu imsak yang dikenal masyarakat saat ini adalah masa untuk menahan diri dari apa yang membatalkan puasa sejak sekitar 10-15 menit sebelum fajar shadiq, tetapi itu bukan awal waktu memulai puasa karena orang masih tetap boleh makan dan minum di waktu imsak hingga terbit fajar shadiq.

Mereka yang mengambil waktu imsak 10-15 menit sebelum adzan subuh berdalil dengan hadis nabi saw:

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَاصِمٍ قَالَ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ حَدَّثَهُ أَنَّهُمْ تَسَحَّرُوا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ كَمْ بَيْنَهُمَا قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ أَوْ سِتِّينَ يَعْنِي آيَةً

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin ‘Ashim berkata, telah menceritakan kepada kami Hammam dari Qatadah dari Anas bin Malik bahwa Zaid bin Tsabit telah menceritakan kepadanya, bahwa mereka pernah sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian mereka berdiri untuk melaksanakan shalat. Aku bertanya, “Berapa jarak antara sahur dengan shalat subuh?” Dia menjawab, “Antara lima puluh hingga enam puluh.” Yakni (lima puluh hingga enam puluh) ayat. [Shahih Bukhari Kitab Waktu-Waktu Shalat Bab Waktu Fajar no.541]

حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ صَبَّاحٍ سَمِعَ رَوْحَ بْنَ عُبَادَةَ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَزَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ تَسَحَّرَا فَلَمَّا فَرَغَا مِنْ سَحُورِهِمَا قَامَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الصَّلَاةِ فَصَلَّى قُلْنَا لِأَنَسٍ كَمْ كَانَ بَيْنَ فَرَاغِهِمَا مِنْ سَحُورِهِمَا وَدُخُولِهِمَا فِي الصَّلَاةِ قَالَ قَدْرُ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ خَمْسِينَ آيَةً

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Shabbah telah mendengar Rauh bin ‘Ubadah telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Qatadah dari Anas bin Malik, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Zaid bin Tsabit makan sahur bersama. Setelah keduanya selesai makan sahur, beliau lalu bangkit melaksanakan shalat. Kami bertanya kepada Anas, “Berapa rentang waktu antara selesainya makan sahur hingga keduanya melaksanakan shalat?” Anas bin Malik menjawab, “Kira-kira waktu seseorang membaca lima puluh ayat.” [Shahih Bukhari Kitab Waktu-Waktu Shalat Bab Waktu Fajar no.542]

Dijelaskan oleh al-Hafizh ibnu Hajar dalam Fathul Bari:

وَالَّذِي يَظْهَرُ لِي فِي الْجَمْعِ بَيْنَ الرِّوَايَتَيْنِ أَنَّ أَنَسًا حَضَرَ ذَلِكَ لَكِنَّهُ لَمْ يَتَسَحَّرْ مَعَهُمَا وَلِأَجْلِ هَذَا سَأَلَ زَيْدًا عَنْ مِقْدَارِ وَقْتِ السُّحُورِ كَمَا سَيَأْتِي بَعْدُ ثُمَّ وَجَدْتُ ذَلِك صَرِيحًا فِي رِوَايَة النَّسَائِيّ وبن حِبَّانَ وَلَفْظُهُمَا عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَنَسُ إِنِّي أُرِيدُ الصِّيَامَ أَطْعِمْنِي شَيْئًا فَجِئْتُهُ بِتَمْر وإناء فِيهِ مَاء وَذَلِكَ بعد مَا أَذَّنَ بِلَالٌ قَالَ يَا أَنَسُ انْظُرْ رَجُلًا يَأْكُلُ مَعِي فَدَعَوْتُ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ فَجَاءَ فَتَسَحَّرَ مَعَهُ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ فَعَلَى هَذَا فَالْمُرَادُ بِقَوْلِهِ كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسُّحُورِ أَيْ أَذَانِ بن أُمِّ مَكْتُومٍ

Dan yang membuat jelas bagiku untuk mengumpulkan dua riwayat ini bahwa Anas hadhir pada peristiwa itu, akan tetapi tidak ikut sahur bersama mereka. Maka dari itu, ia menanyai Zaid mengenai kadar waktu sahur sebagaimana yang akan disebutkan. Aku temukan juga yang demikian secara sharih dalam riwayat an-Nasai (no.2167) dan ibnu Hibban dan lafazh mereka: Dari Anas, dia berkata: berkata kepadaku Rasulullah shollallohu ‘alayhi wa sallam, “Wahai Anas, aku hendak berpuasa. Maka hidangkan aku sesuatu.” Maka aku datangi beliau dengan kurma dan wadah yang berisi air. Dan itu setelah adzannya Bilal. Beliau berkata, “Wahai Anas, carilah seseorang untuk makan bersamaku.” Maka aku memanggil Zaid bin Tsabit. Maka dia datang dan sahur bersama beliau. Kemudian mendirikan shalat (sunnah) dua raka’at. Kemudian keluar untuk sholat (shubuh).

Maka atas dasar hal ini, yang dimaksud dengan perkataan “berapa lama antara adzan dan sahur” adalah adzannya ibnu Ummi Maktum. [Fathul Bari juz’ 2:54]

BAGI
Artikel SebelumnyaBersegera Dalam Empat Kebaikan
Artikel BerikutnyaMemuda