Iman Yang Instant

0
23 views

Hari itu, ruang tunggu sebuah bengkel motor sesak oleh mereka yang sedang menunggui motornya diservis. Sesak karena pengap dan panas. Saya yang datang agak siang tidak lagi mendapatkan tempat duduk.

Di tengah kebingungan harus duduk di mana sementara punggung memanggul ransel yang sarat beban, sebuah tangan halus melambai dari jauh dan berteriak, “Pak!” Ingatanku masih kuat meraba siapa gerangan yang melambai. Dialah perempuan penjaga showroom motor di mana motorku yang saat ini sedang diservis itu dibeli.

“Duduknya di sini aja,” lanjutnya berteriak. Mengajakku ke ruangan luas penuh dengan motor-motor pajangan dan beberapa orang sedang melap-lapnya.

Pasti. Jawabku dalam hati. Entah karena ruang tunggu itu memang tidak layak dihuni manusia atau karena panggilan itu memang menarik. Yang pasti, dalam beberapa detik selanjutnya saya sudah berada di ruang ber-AC dan duduk nyaman di sebuah kursi empuk yang memang tersedia di sana.

Setelah berbasa-basi, pembicaraan pun sampai kepada pertanyaan: “Kenapa Bapak tidak membeli motor lagi?” Belum sempat saya jawab, pertanyaan lain meluncur tak tertahankan. “Kan bisa untuk adik, kakak, isteri, atau siapa saja?”

Sebenarnya, ada yang menarik dari tawaran dan peristiwa itu. Dalam hati saya merenung, bagaimana sebuah komunikasi yang berawal dari status antara penjual dengan pembeli, lalu berganti status menjadi komunikasi antara pribadi dengan pribadi? Bagaimana bisa status awal antara penjual dan pembeli itu lalu menguap menjadi lebih akrab menjadi antara pribadi dengan pribadi? Motif apa pun yang berada di balik fakta-fakta ini, di sana ada sebentuk kecerdasan komunikasi yang sedang berlangsung dan membius.

Dan entah bagaimana, saya lalu teringat dengan syiar Islam yang saya alami dan para dai yang selama ini saya amati. Saya teringat bagaimana komunikasi yang mereka bangun adalah komunikasi yang mirip komunikasi antara penjual dan pembeli. Itupun pembeli dalam hal ini adalah pembeli yang lebih sering merugi dan paling banter, tidak untung. Yang untung hanya dai atau hanya penjualnya saja. Adapun pembeli (baca: ummat Islam secara khusus atau umat manusia secara umum) tidak pernah untung (baca: terpelajar). Tidak makin pandai secara intelektual dan juga tidak semakin baik dilihat dari ukuran moral.

Tentang syiar Islam secara umum, kita bisa menyaksikan parade penyebaran agama dengan cara-cara yang membodohi. Bagaimana tidak membodohi jika ummat dicekoki dengan keyakinan yang “sudah jadi” dan ummat sama sekali tidak dilibatkan dalam proses tersebut? Kita jadi bisa mengandai-andai bagaimana seandainya para pembawa dakwah Islam dulu itu membawakan ajaran Islam sebagai sesuatu yang sudah jadi tanpa adanya tawar-menawar? Bukankah malah ditolak mentah-mentah oleh ummatnya?

Sebait syair dari kelompok nasyid negara jiran dulu pernah akrab di telinga: Iman tak dapat diwarisi dari seorang ayah yang bertakwa. Tidak dapat diwarisi itu mungkin sama dengan tidak dapat diterima bulat-bulat, tanpa interaksi yang intens; bahkan tidak bisa hanya lewat sebuah pelatihan keimanan seperti apa pun dahsyat metodenya dan sehebat apa pun pemanfaatan teknologinya. Atau sebarapa banyak pun air mata yang tumpah saat renungan.

Model dakwah yang saya maksud di ini mengandaikan adanya ruang bersama antara dai dan ummat. Itu karena ruang tidak bisa secara sewenang-wenang dibagi dua: satu milik dai dan satunya lagi milik ummat. Yang pertama penuh cahaya terang-benderang; sedangkan yang kedua berselimut gulita berlapis-lapis.

Seorang dai bisa saja mempunyai cahaya untuk menerangi dengan pengalaman keberagamaannya yang lebih banyak atau pengetahuannya yang lebih luas tapi mengandaikan yang ada di ummat adalah semata-mata gelap, tentu adalah persoalan. Setiap manusia memiliki pengalamannya sendiri-sendiri, termasuk pengalaman ketuhanan, kebenaran, dan keagamaan. Toh, bahkan seorang dai pun bukan orang yang paling tahu tentang ketuhanan dan kebenaran.

Demikian pula, keimanan tidak sebersahaja tenaga dalam yang walaupun tidak kasat mata tetapi dapat begitu saja ditransfer ke tubuh-tubuh berbeda dalam sekejap, mengandalkan kharisma sang juru dakwah.[]