Imam

0
76 views

Imâm berarti orang yang diikuti, baik sebagai kepala, jalan, atau sesuatu yang membuat lurus dan memperbaiki perkara. Selain itu, imam juga bisa berarti Al-Qur’an, Nabi Muhammad, khalifah, panglima tentara, dan sebagainya. Dengan demikian, jelaslah bahwa kata imâm memiliki banyak makna. Yaitu, bisa bermakna: maju ke depan, petunjuk dan bimbingan, kepantasan seseorang menjadi uswah hasanah, dan kepemimpinan.

Imam dalam Al-Qur’an

Kata imâm banyak disebutkan dalam Al-Qur’an. Misal¬nya;

“(Ingatlah) pada suatu hari (yang pada hari itu) kami memanggil setiap umat dengan pemimpinnya ….” (QS. Al-Isrâ’: 71);

“… dan sebelum Al-Qur’an itu telah ada Kitab Musa sebagai imam (pedoman) dan rahmat …?” (QS. Hûd: 17);

“… dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqân: 74);

Dan (ingatlah) tatkala Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesung¬guhnya Aku ingin menjadikan kamu imam (pemimpin) bagi seluruh manusia ….” (QS. Al-Baqarah: 124);

Dan kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishaq dan Ya’qub sebagai suatu anugerah (dari Kami) dan masing-masing Kami jadikan orang-orang saleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan Kami telah wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan salat, menunaikan zakat ….” (QS. Al-Anbiyâ’: 72-73);

“Dan Kami ingin memberikan karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menja¬dikan mereka orang yang mewarisi (bumi)”(QS. Al-Qashash: 5);

“dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang me¬nyeru (manusia) ke neraka, dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.” (QS. Al-Qashash: 41);

dan “…, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang kafir, karena se¬sungguhnya mereka adalah orang-orang (yang tidak dapat dipe¬gang) janjinya, agar mereka berhenti.” (QS. Al-Tawbah: 12).

Dari ayat-ayat Al-Qur’an di atas, kita bisa memetik dua pengertian dari makna imâm, yaitu: Pertama, Kata imâm tersebut yang sebagian besar digunakan dalam Al-Qur’an membuktikan adanya indikasi yang bermakna “kebaikan”. Pada sisi lain—pada dua ayat terakhir di atas, bahwa kata imâm menunjukkan makna jahat. Karena itu, imâm berarti seorang pemimpin yang diangkat oleh beberapa orang dalam suatu kaum. Pengangkatan imâm tersebut mengabaikan dan tidak memperdulikan, apakah ia akhirnya akan berjalan ke arah yang lurus atau arah yang sesat. Kedua, Kata imâm dalam ayat-ayat Al-Qur’an itu bisa mengandung makna penyifatan kepada nabi-nabi: Ibrahim, Ishaq, Ya’qub, dan Musa—sebagaimana juga menunjukkan kepada orang-orang yang bertakwa.
Imam dalam Kaitannya dengan Masjid

Masjid sebagai tempat pusat berbagai amalan ibadah tentunya memerlukan sesorang yang bisa memimpin dan mengatur semua kegiatan di masjid agar pelaksanaan berbagai amalan ibadah bisa berjalan dengan lancar begitu juga ketika terjadi suatu permasalahan di masjid  agar bisa diselesaikan dengan baik maka dibutuhkan seorang imam.

Imam dalam shalat

Para ulama menyebutkan urutan orang yang lebih berhak menjadi imam shalat adalah sebagai berikut:

1.     Al Aqra’ Bil Quran

Para ulama berbeda pendapat tentang maksud dari Al Aqra’ bil Qur’an, apakah orang yang lebih banyak hafalannya ataukah orang yang lebih bagus bacaannya.

Pendapat yang menyatakan bahwa orang yang hafal ayat-ayat Al Qur’an lebih banyak, didahulukan atas orang lain, sekalipun atas orang yang lebih bagus bacaannya merupakan pendapat imam Ibnu Sirin, Sufyan Ats Tsauri, Ishaq bin rahawaih, Abu Yusuf dan Ibnu Mundzir. Pendapat ini juga diikuti oleh sebagian ulama madzhab Syafi’i dan Hambali. Di antara ulama kontemporer yang berpegang dengan pendapat ini adalah syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin.

Pendapat ini berdasarkan hadits ’Amr bin Salamah Radhiallaahu Anhu,

عَنْ عَمْرِو بْنِ سَلَمَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنًا. فَنَظَرُوا فَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَكْثَرَ قُرْآنًا مِنِّي لِمَا كُنْتُ أَتَلَقَّى مِنَ الرُّكْبَانِ فَقَدَّمُونِي بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَأَنَا ابْنُ سِتٍّ أَوْ سَبْعِ سِنِينَ

Dari Amru bin Salamah bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, ”Jika shalat telah tiba, hendaklah salah seorang kalian mengumandangkan adzan dan hendaklah yang mengimami kalian adalah orang yang paling banyak hafalan Al Qur’annya.  Mereka pun melihat siapa yang paling banyak hafalannya. Ternyata tidak ada seorang pun dari kaumku yang paling banyak hafalannya melainkan aku, karena sebelumnya aku mendapatkannya dari rombongan musafir. Kaumku pun memajukan aku di hadapan mereka untuk mengimami mereka, padahal saat itu usiaku masih enam atau tujuh tahun”.(HR. Bukhari Kitab Al Maghazi, Abu Dawud Kitab As Shalah. An Nasa’i Kitab Al-Adzan. Ahmad).

Juga berdasarkan hadits Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallaahu Anhu,

   قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  إِذَا كَانُوا ثَلاَثَةً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَحَدُهُمْ وَأَحَقُّهُمْ بِالإِمَامَةِ أَقْرَؤُهُمْ

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan, “Jika kalian berjumlah tiga orang (dan hendak mengerjakan shalat berjama’ah) maka hendaklah salah seorang dari kalian yang paling banyak hafalannya (qori’) menjadi imam”. (HR. Muslim)

Ada juga yang berpendapat bahwa maksudnya adalah yang paling bagus tajwid-nya dan paling bagus mutu bacaannya (أجودهم وأحسنهم وأتقنهم قراءة). Ini adalah pendapat madzhab Maliki, sebagian besar madzhab Syafi’i dan banyak ulama madzhab Hanbali. Namun pendapat pertama lah yang lebih kuat berdasarkan kedua hadits di atas. Akan tetapi jika mereka sama dalam hafalan Al-Qur’annya dimana seluruh orang yang shalat atau orang yang akan dimajukan sebagai imam telah hafal Al-Qur’an, baru dipilih mana yang paling mantap (كان أتقنهم قراءة وأضبط لها) dan bagus bacaannya. Karena itulah arti yang paling bagus Al-Qur’annya bagi mereka semua yang dalam hafalan sama.

Berbeda lagi bagi mereka yang memahaminya secara makna ‘tersirat’. Maka ‘Al-Aqra’ pada hadits mengindikasikan mereka yag faham fiqih. Dan ini yang dilakukan oleh Imam Malik dan Syafi’i.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pendapat-pendapat tersebut, karena pada dasarnya, dulunya mereka yang bagus bacaan Al-Qur’annya itu adalah mereka paling faham fiqihnya, pun begitu sebaliknya, mereka yang bagus fiqihnya bagus juga bacaan dan hafalan Al-Qur’annya.

Akan tetapi sekarang kita lebih membutuhkan yang mana? Melihat bahwa kenyataannya mereka yang bagus serta punya banyak hafalan Al-Qurannya tidak selamanya mereka juga faham fiqih, pun begitu sebaliknya sekarang ini, mereka yang faham fiqih tidak selamanya punya bacaan bagus dan banyak hafalannya.

Pilih mana? Yang bagus bacaan dan banyak hafalan Al-Qur’annya, atau yang paling faham tentang urusan fiqih? Yang jelas mereka yang mempunyai keduanya sangat kita tunggu kehadirannya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullahu mengatakan,

”ولا يخفى أن محل تقديم الأقرأ إنما هو حيث يكون عارفًا بما يتعين معرفته من أحوال الصلاة، فأما إذا كان جاهلاً بذلك فلا يقدم اتفاقاً“

“Sudah jelas bahwa dikedepankannya orang-orang yang paling pandai bacaan Al-Qur’annya berarti ia juga orang yang paling mengerti kondisi shalatnya sendiri. Namun kalau ternyata tidak mengerti kondisi shalatnya, secara mufakat dikatakan bahwa ia tidak berhak dikedepankan”.

2.   Orang Yang Lebih Mengerti Tentang Sunnah

Para ulama telah bersepakat bahwa orang yang lebih hafal Al Qur’an (aqra’ li kitabillah) dan orang yang lebih paham as sunah (afqah) lebih berhak menjadi imam, melebihi orang-orang lain. Apabila terjadi, ada beberapa orang yang sama bagus dalam hafalan dan bacaan Al-Qur’annya, maka dilihat pemahamannya tentang sunnah diantara mereka. Maka dalam hal ini, orang yang lebih paham dan mengetahui tentang sunnah hendaknya lebih diutamakan berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 فَإِنْ كَانُوا فِى الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ .

“Jika mereka sama dalam hal bacaan Al Qur’an, maka yang mengimami adalah orang yang lebih tahu tentang as sunah”.

3.   Orang Yang Lebih Dahulu Berhijrah Dari Negeri Kafir Ke Negeri Islam

Hijrah dalam hal ini, tidak hanya dibatasi dengan hijrah yang terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam namun juga berlaku bagi hijrahnya seseorang yang berhijrah dalam rangka ketaatan untuk menyelamatkan agamanya dari negeri kafir ke negeri Islam.

4.   Orang Yang Lebih Dahulu Masuk Islam

Hal ini terjadi jika ketiga urutan di atas masih sepadan. Kemudian dilihat siapa yang lebih dahulu masuk Islam jika sebelumnya dia bukan pemeluk agama Islam.

5.    Orang Yang Lebih Tua Usianya

Jika keempat syarat di atas masih juga seimbang maka yang terakhir adalah mempertimbangkan faktor usia berdasarkan Hadis Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,

فإن كانوا في الهجرة سواءً فأقدمهم سلماًوفي رواية – سنّاً.

Dalam riwayat lain disebutkan dengan kata سنّاً yaitu usianya bukan dengan lafadz سلماً(Islam).

Kemudian sekiranya terjadi keseimbangan dan kesamaan dalam hal-hal yang telah disebutkan di atas, maka yang dilakukan adalah dengan bermusyawarah untuk menentukan siapa yang berhak menjadi imam.

Syarat Menjadi Imam Shalat

Dalam kitab Fiqh al-Islami wa Adillatuhu karya Syaikh Wahbah Al-Zuhaili, disebutkan bahwa ada 9 (sembilan) syarat utama menjadi imam dalam shalat, yaitu:

1.     Islam

2.   Berakal

3.   Baligh (mumayyiz)

4.   Laki-laki

5.    Suci dari hadas

6.   Bagus bacaan dan rukun-nya

7.    Bukan makmum (disepakati 3 mazhab)

8.   Selamat, sehat (tidak sakit), tidak uzur

9.   Lidahnya fasih, dapat mengucapkan bahasa Arab dengan tepat.

Referensi

1.     Al-Mufhim oleh Al-Qurthubi,

2.   Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah,

3.   Nailul-Authar oleh Asy-Syaukani)

4.   Fathul-Bari

5.    Hasyiyah Ibni Qasim ’alar-Raudlil-Murbi’

6.   Asy-Syarhul-Mumti’ oleh Ibnu ’Utsaimin)

7.   Fiqh al-Islami wa Adillatuhu karya Syaikh Wahbah Al-Zuhaili,

BAGI
Artikel SebelumnyaAgama dan Radikalisme
Artikel BerikutnyaMasjid dan Pasar