Imajinasi Kolektif Ramadhan

0
32 views

by Dr. Abd. Muid N., MA.

Ada yang bilang bahwa salah satu cara melakukan perubahan sosial adalah memikirkan sesuatu yang kelihatannya mustahil. Dan pemikiran seperti itu disebut imajinasi kolektif. Jika lingkup sosial yang dimaksud diumpamakan sebagai umat Islam Indonesia di bulan Ramadhan, maka maka bisa diumpamakan pula bahwa imajinasi kolekifnya adalah Lailatul Qadr.

Bagi sebagian besar umat Islam, Lailatul Qadr adalah sesuatu yang kelihatannya mustahil digapai. Karena kelihatannya mustahil, maka pada dasarnya Lailatul Qadr mungkin-mungkin saja digapai tetapi melihat intensitas ibadah yang dibutuhkan untuk menggapainya, maka menjadi hal yang kelihatannya mustahil, bagi sebagian besar umat Islam. Namun hal-hal yang tampaknya mustahil itulah yang mampu menciptakan perubahan besar. Terlalu banyak contoh di mana ide-ide besar dan hampir tidak mungkin  malah menjadi penentu perubahan sejarah.

Tapi mampukah Lailatul Qadr mengubah sejarah? Jika kita kembali kepada umat Islam Indonesia di bulan Ramadhan, maka tidak tampak ada perubahan menonjol pada sejarahnya. Pernah ada sejarah yang mencuat yaitu Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 1945 yang terjadi pada bulan Ramadhan—mirip dengan tahun 2010—tapi apakah itu ada hubungannya dengan Ramadhan? Dengan Lailatul Qadr? Mungkin ada. Tidak pasti.

Ada yang bilang, Lailatul Qadr memang adalah perubahan sejarah karena dari secara bahasa, Lailatul Qadr berarti “Malam Penentuan” dan yang ditentukan adalah sejarah, sejarah alam raya, termasuk manusia. Karena itu, ada yang memahami bahwa setiap ada perubahan positif maha dahsyat dalam arti positif pada diri seorang manusia, maka sebenarnya telah terjadi Lailatul Qadr, minimal pada orang itu. Misalnya seorang pendosa aktif yang lalu bertaubat dan terbukti menjadi baik dan tidak lagi melakukan dosa, maka pada dirinya terjadi Lailatul Qadr. Sejarah telah berubah. Jika itu ukurannya, maka Lailatul Qadr adalah imajinasi kolektif yang mampu beraksi pada tataran sosial dan individu dan dapat terjadi tidak hanya pada bulan Ramadhan.

Ada sebuah analisis sangat sederhana memperlihatkan bahwa sering terjadi imajinasi kolektif Lailatul Qadr umat Islam Indonesia—khususnya di Jakarta—mengakibatkan sebagian umat Islam mengasingkan diri ke masjid-masjid, terutama masjid-masjid besar yang memang menyediakan fasilitas yang baik. Itupun tidak terjadi pada sepanjang bulan Ramadhan, tetapi hanya pada 10 malam terakhir dan bahkan dipersempit menjadi malam-malam ganjil terakhir atau lebih dipersempit lagi menjadi malam 25, 27, dan 29 karena adanya kecurigaan besar bahwa pada momen-momen seperti itulah Lailatul Qadr akan turun ke bumi. Malam yang digambarkan dengan syahdu oleh Bimbo dengan: Margasatwa tak berbunyi. Gunung menahan nafasnya. Angin pun berhenti. Pohon-pohon tunduk.

Apakah model ejawantah imajinasi kolektif Lailatul Qadr seperti ini mampu mengubah sejarah?[]