Ilham

0
142 views

help.berberber.comIlham ialah apa-apa yang ditanamkan, dituangkan atau dilimpahkan oleh Allah swt ke dalam jiwa seseorang sesuatu yang dapat mendorongnya untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu, dan ia termasuk jenis wahyu yang dengannya Allah swt mengkhususkan siapa saja yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Sebagaimana firman Allah swt:

قال تعالى:  )فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (

lalu Allah swt mengilhamkan kepadanya jalan keburukan dan ketaqwaannya.”(QS. Asy-Syams[91]: 8).

Ada istilah lain yang semakna dengannya yaitu tahdits, berdasarkan hadis Bukhari:

عَنْ ‏ ‏أَبِيْ هُرَيْرَة ‏ ‏رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ‏ عَنِ النَّبِيّ ‏ ‏صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ‏ ‏قَالَ ‏ ‏إِنَّهُ قَدْ كَانَ فِيْمَا مَضَى قَبْلَكُمْ مِنَ اْلأُمَمِ مُحَدَّثُوْنَ وَإِنَّهُ إِنْ كَانَ فِيْ أُمَّتِيْ هَذِهِ مِنْهُمْ فَإِنَّهُ ‏ ‏عُمَر بن الخَطاب ‏(رواه البخاري)

“Sungguh telah ada pada ummat-ummat terdahulu para muhaddatsun, dan jika ada seseorang dari ummatku, maka ia adalah Umar bin Khattab.(HR. Bukhari)

Namun antara keduanya terdapat perbedaan, menurut Imam Ibnul Qayyim bahwa tahdits sifatnya lebih khusus dari ilham, berdasarkan hadis tentang Umar ra di atas, sehingga setiap tahdits adalah ilham tapi tidak setiap ilham adalah tahdits. Seorang mu’min (manusia yang mukallaf) akan diberikan ilham sesuai taraf keimanannya kepada Allah swt, seperti disebutkan dalam ayat-ayat:

قال تعالى: ) وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ ).

“Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa: Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya, maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil), dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, Karena Sesungguhnya kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.” (QS. Al-Qashshash[28]: 7).

قال تعالى: ( وَإِذْ أَوْحَيْتُ إِلَى الْحَوَارِيِّينَ أَنْ آَمِنُوا بِي وَبِرَسُولِي قَالُوا آَمَنَّا وَاشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ ).

“Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku. Mereka menjawab: Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)”. (QS. al-Ma’idah [5]: 111).

Dan bisa juga diberikan kepada makhluk yang tidak mukallaf, sebagaimana dalam firman-Nya yang lain;

قال تعالى: ( وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ ).

Dan Rab-mu mewahyukan(mengilhamkan) kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. (QS. An-Nahl [16]: 68).

Apakah ilham bisa dijadikan sebagai hujjah atau dalil?

Para ulama ushul bersepakat bahwa ilham dan sejenisnya seperti firasat, mimpi dan kasyaf, semuanya itu adalah bukan hujjah syari’at baik dalam masalah amal dan ibadah apalagi dalam masalah i’tiqad (aqidah). Para ulama ushuluddin dan ushul fiqh telah ijma’ dalam masalah ini, mereka menolak orang yang menganggapnya sebagai hujjah dan menolak segala sesuatu yang didasarkan kepadanya. An-Nasafi berkata: “Menurut ahlul-haqq ilham itu bukanlah salah satu sebab dari sebab-sebab untuk mengetahui kebenaran sesuatu.”

Imam Abu Zaid ad-Dabusi salah seorang ulama Hanafiyyah berkata : “Ijma’ ulama bahwa ilham tidak boleh diamalkan, kecuali jika pada hal yang mubah yang tidak terdapat sama sekali dalil syari’ah tentangnya. Jadi bolehnya mengamalkan ilham terikat dengan 2 hal: 1) Hendaklah tidak ada dalil syari’ah dalam masalah tersebut, baik dalam al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma’, Qiyas dan dalil-dalil lain yang diperselisihkan. 2) Hendaknya hal itu dalam hal-hal yang mubah, sedangkan dalam masalah yang wajib, haram, makruh dan sunnah maka tidak dapat disandarkan kepada ilham seorang mulhim maupun kasyaf seorang kasyif.”

Imam Asy-Syathibi lebih rinci berkata: “Di antara contohnya jika seorang Hakim yang telah mendengar kesaksian 2 orang saksi yang adil, lalu Hakim tersebut bermimpi Nabi saw berkata bahwa kedua saksi itu tidak adil, maka mimpi itu harus ditolak karena bertentangan dengan prinsip syariat. Demikian pula jika seseorang mendapat kasyaf atau firasat bahwa air yang akan dipakainya berwudhu’ adalah najis, padahal berdasar fakta air tersebut tidak najis, maka iapun tidak boleh meninggalkan air itu dalam keadaan apapun. Semua ini didasarkan dalil shahih dari nabi saw:

عَنْ زَيْنَبَ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَيَّ وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَنْ يَكُونَ أَلْحَنَ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ فَأَقْضِيَ لَهُ عَلَى نَحْوٍ مِمَّا أَسْمَعُ مِنْهُ

Dari Zainab ra dari Ummu Salamah ra: Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya kalian mengadukan perkara padaku, dan boleh jadi sebagian kalian lebih pandai berargumentasi dibanding yang lain, maka aku putuskan perkaranya sesuai dengan apa yang kudengar darinya… (HR. Muslim).

Demikianlah menurut Imam Asy-Syathibi bahwa Rasulullah saw mengambil keputusan berdasarkan bukti dan fakta dan memerintahkan kita juga berbuat demikian, padahal banyak hal-hal yang beliau telah lebih dulu mengetahui permasalahannya ataupun hakikat kebatilannya, tapi beliau saw tidak menghukumi kecuali berdasar bukti dan fakta, bukan berdasar hakikat yang telah beliau saw ketahui sebelumnya.

Sebagai contoh, Nabi saw mengetahui rahasia orang-orang munafiq berdasarkan apa yang telah dibukakan Allah swt padanya, tetapi beliau saw tetap menghukumi mereka berdasarkan lahiriah mereka dan baru bersikap tegas dan meluruskan jika telah ada pelanggaran terang-terangan dari mereka. Bahkan ketika para sahabat ra (yang juga telah membaca gelagat ketidakberesan isi hati para munafiqin tersebut berdasarkan firasat -pen) ingin memperlakukan orang-orang munafiq tersebut seperti orang kafir, maka Nabi saw bersabda: “Aku kuatir manusia akan berkata bahwa Muhammad saw membunuh sahabat-sahabatnya.”

Demikianlah, beliau saw tetap memperlakukan mereka seperti yang lainnya, berdasarkan zhahir dan bukan berdasarkan batin dan hal yang ghaib, maka kita tidak diperintah untuk membelah hati manusia untuk mengetahui hakikatnya. Jika terhadap firasat seorang mu’min saja tidak dapat menjadi hujjah syar’iyyah untuk menetapkan benar dan salah, halal dan haram, bahkan sekedar hukum makruh dan sunnah, apalagi berbagai kisah khurafat yang dituturkan oleh seorang kafir musyrik yang dipakai untuk menentukan kebenaran aqidah?

Referensi:

1.    Al-Qaradhawi, Mauqif al-Islam minal Ilham wal Kasyf war Ru’a wa minat Tama’imi wal Kahanah war Ruqa’, Maktabah Wahbah, 1415-H, Al-Qahirah Mishr.

2.    Ibnu Manzhur, Lisanul Arab, bab (Khat).

3.    Ibnul Atsir, An-Nihayah.

4.    Musthafa Al-Halabi, Syarh al-’Aqa’idun Nasafiyyah, At-Taftazani, hal. 41.

5.    Al-Jurjani, At-Ta’rifat, hal. 57.

6.    Ibnul Qoyyim, Madaarijus Saalikiin, I/44-45.

7.    Al-Muwaafaqaat, Asy-Syathibi, II/266-268