Ijtihad

0
39 views

http://renilightofeyes.cybermq.comSecara etimologi, kata ijtihâd merupakan pecahan dari kata jâhada yujâhidu, yang artinya badzlu al-wus‘i (mencurahkan segenap kemampuan). Ijtihad juga bermakna, “Istafrâgh al-wus‘i fî tahqîq amr min al-umûr mustalzim li al-kalafat wa al-musyaqqaq.” (mencurahkan seluruh kemampuan dalam men-tahqîq (meneliti dan mengkaji) suatu perkara yang meniscayakan adanya kesukaran dan kesulitan). Dikalangan ulama ushul, ijtihad diistilahkan dengan, “istafrâgh al-wus‘î fî thalab adz-dzann bi syai’i min ahkâm asy-syar‘iyyah ‘alâ wajh min an-nafs al-‘ajzi ‘an al-mazîd fîh (mencurahkan seluruh kemampuan untuk menggali hukum-hukum syariat dari dalil-dalil dzanni hingga batas tidak ada lagi kemampuan melakukan usaha lebih dari apa yang telah dicurahkan.”

Lingkup Ijtihad

Sebagaimana definisi ijtihad di atas, lingkup ijtihad hanya terbatas pada penggalian hukum syariat dari dalil-dalil dzanni. Ijtihad tidak boleh memasuki wilayah yang sudah pasti (qath‘i), maupun masalah-masalah yang bisa diindera dan dipahami secara langsung oleh akal.
Dalam al-Quran ada ayat-ayat yang jelas penunjukannya (qath‘i), ada pula yang penunjukannya zhanni. Ijtihad tidak boleh dilakukan pada ayat-ayat yang jelas (qath‘i) maknanya, misalnya masalah-masalah akidah, kewajiban shalat lima waktu, zakat, puasa, haji, dan lain sebagainya. Perkara-perkara semacam ini bukanlah lingkup ijtihad. Sebab, masalah-masalah seperti ini sudah sangat jelas dan tidak boleh ada kesalahan di dalamnya. Siapa saja yang salah dalam mempersepsi perkara-perkara yang sudah qath‘i, maka ia telah terjatuh dalam dosa dan berhak mendapatkan azab Allah swt. Sebaliknya, kesalahan dalam perkara-perkara ijtihadiah (zhanni) tidak akan menjatuhkan pelakunya dalam dosa dan maksiat. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda:

 

 إذَا حَكَمَ الحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ، ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَان، وَإذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ، ثُمَّ أَخْطَأَ فََلهُ أَجْرٌ

“Apabila seorang hakim berijtihad dan benar, maka baginya dua pahala, tetapi bila berijtihad lalu keliru maka baginya satu pahala.” (HR Bukhari dan Muslim).

Ijtihad hanya terjadi dan berlaku pada wilayah furû‘ (cabang) dan zhanni. Perkara-perkara semacam ini disebut perkara ijtihadiah. Disebut demikian karena ia masih membuka ruang terjadinya perbedaan interpretasi. Adapun perkara yang melibatkan dalil qath‘i, tidak boleh disebut sebagai perkara ijtihadiah.
Syarat-syarat Mujtahid

Seseorang layak untuk berijtihad jika telah memenuhi syarat-syarat berikut ini:

1.      Mengetahui dan memahami isi Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang bersangkutan dengan masalah hukum berikut klasifikasi dan kedudukannya.

2.      Mengetahui bahasa arab dengan alat-alat yang berhubungan dengan itu, artinya dapat menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits secara benar.

3.      Mengetahui ilmu ushul fiqih dan qaidah-qaidah fiqih yang seluas-luasnya. Al Fakhrurrazi dalam Al Mahsul berkata: “Sepenting-penting ilmu buat seseorang mujtahid, ialah: ilmu ushul”

4.      Mengetahui ijma, hingga tidak timbul pendapat yang bertentangan dengan ijma’ itu.

5.      Mengetahui nasikh mansukh dari Al-Qur’an dan Sunnah.

6.      Mengetahui ilmu riwayat dan dapat membedakan mana hadits shohih dan hasan, mana yang dlaif maqbul dan yang mardud.

7.      mengetahui maqashidu Asy syari’ah (tujuan syari’ah) secara umum.

 Kedudukan Ijtihad

Berbeda dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, ijtihad terikat dengan ketentuan-ketentuan sebagi berikut :

1.      Pada dasarnya yang ditetapkan oleh ijtihad tidak dapat melahirkan keputusan yang mutlak absolut. Sebab ijtihad merupakan aktivitas akal pikiran manusia yang relatif. Sebagai produk pikiran manusia yang relatif maka keputusan dari suatu ijtihad pun adalah relatif.

2.      Sesuatu keputusan yang ditetapkan oleh ijtihad, mungkin berlaku bagi seseorang tapi tidak berlaku bagi orang lain. Berlaku untuk satu masa / tempat tapi tidak berlaku pada masa / tempat yang lain.

3.      Ijtihad tidak berlaku dalam urusan penambahan ‘ ibadah mahdhah. Sebab urusan ibadah mahdhah hanya diatur oleh Allah swt dan Rasulullah saw.

4.      Keputusan ijtihad tidak boleh bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.

5.      Dalam proses berijtihad hendaknya dipertimbangkan faktor-faktor motivasi, akibat, dan kemaslahatan.

Cara Berijtihad

Dalam melaksanakan ijtihad, para ulama telah membuat metode-metode antara lain sebagai berikut :

a. Qiyas

Yaitu menetapkan sesuatu hukum terhadap sesuatu hal yang belum diterangkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah, dengan dianalogikan kepada hukum sesuatu yang sudah diterangkan hukumnya oleh al-Qur’an / as-Sunnah, karena ada sebab yang sama. Contoh: Menurut surat al-Isra’ ayat 23, seseorang tidak boleh berkata uf ( cis ) kepada orang tua. Maka hukum memukul, menyakiti dan lain-lain terhadap orang tua juga dilarang, atas dasar analogi terhadap hukum cis tadi. Karena sama-sama menyakiti orang tua. Pada zaman Rasulullah saw pernah diberikan contoh dalam menentukan hukum dengan dasar Qiyas tersebut. Yaitu ketika ‘ Umar bin Khathabb berkata kepada Rasulullah saw: Hari ini saya telah melakukan suatu pelanggaran, saya telah mencium istri, padahal saya sedang dalam keadaan berpuasa. Rasulullah saw bertanya: Bagaimana kalau kamu berkumur pada waktu sedang berpuasa? Jawab ‘Umar : tidak apa-apa. Sabda Rasul : Kalau begitu teruskanlah puasamu.

b. Ijma’

Yaitu kesepakatan ulama-ulama Islam dalam menentukan sesuatu masalah ijtihadiyah. Ketika ‘Ali bin Abi Thalib mengemukakan kepada Rasulullah saw tentang kemungkinan adanya suatu masalah yang tidak dibicarakan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah, maka Rasulullah saw mengatakan : ” Kumpulkan orang-orang yang berilmu kemudian jadikan persoalan itu sebagai bahan musyawarah “. Yang menjadi persoalan untuk saat sekarang ini adalah tentang kemungkinan dapat dicapai atau tidaknya ijma tersebut, karena ummat Islam sudah begitu besar dan berada diseluruh pelosok bumi termasuk para ulamanya.

c. Istihsan

Yaitu menetapkan suatu hukum terhadap suatu persoalan ijtihadiyah atas dasar prinsip-prinsip umum ajaran Islam seperti keadilan, kasih sayang dan lain-lain. Oleh para ulama istihsan disebut sebagai Qiyas Khofi (analogi samar-samar) atau disebut sebagai pengalihan hukum yang diperoleh dengan Qiyas kepada hukum lain atas pertimbangan kemaslahatan umum. Apabila kita dihadapkan dengan keharusan memilih salah satu diantara dua persoalan yang sama-sama jelek maka kita harus mengambil yang lebih ringan kejelekannya. Dasar istihsan antara lain surat al-Zumar ayat 18.

d. Al-Mashlahah Al-Mursalah

Yaitu menetapkan hukum terhadap suatu persoalan ijtihadiyah atas pertimbangan kegunaan dan kemanfaatan yang sesuai dengan tujuan syari’at. Perbedaan antara istihsan dan mashalihul mursalah ialah : istihsan mempertimbangkan dasar kemaslahan ( kebaikan ) itu dengan disertai dalil al-Qur’an / al-Hadits yang umum, sedang mashalihul mursalah mempertimbangkan dasar kepentingan dan kegunaan dengan tanpa adanya dalil yang secara tertulis exsplisit dalam al-Qur’an / al-Hadits.

Hukum Ijtihad

Salah satu hadis yang menunjukan bolehnya berijtihad adalah:

عَنْ مُعَاذٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ بَعَثَهُ إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ كَيْفَ تَصْنَعُ إِنْ عَرَضَ لَكَ قَضَاءٌ قَالَ أَقْضِي بِمَا فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِي لَا آلُو قَالَ فَضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدْرِي ثُمَّ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَا يُرْضِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

 

Artinya :“Dari Muadz : Sesungguhnya Rasulullah  saw mengutus Muadz ke Yaman, beliau bersabda, “.Bagaimana anda nanti memberikan keputusan ?”. “Aku memberi keputusan dengan kitabullah”. “Bagaimana kalau tidak ada dalam kitabullah?”. “Maka dengan sunah Rasulullah saw.” “Bagaimana kalau tidak ada dalam sunah Rasulullah?.”  “Aku berusaha dengan ra’yu ku dan aku tidak akan menyerah.”. Lalu Rasulullah menepuk dadanya dan bersabda, “segala puji bagi Allah  yang  telah membimbing utusan Rasulullah”

Adapun hukum ijtihad yang dibahas oleh para ulama ushul fiqih mereka menetapkan tiga hukum ijtihad, antara lain fardlu ain (wajib bagi setiap orang), fardlu kifayah (cukup dilakukan sebagian orang) serta mandub (sunah).

Referensi:

1.      Ar-Razi, Mukhtâr ash-Shihâh.

2.      Al-Amidi, Al-Ihkâm fî Ushûl al-Ahkâm.

3.      An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah.

BAGI
Artikel SebelumnyaMencari Jodoh
Artikel BerikutnyaIman Yang Instant