Ihram

0
48 views

www.haji-2121.blogspot.comIhram dalam bahasa arab berasal dari kata: أَحْرَمَ يُحْرِمُ إِحْرَامًا yang membawa maksud menjadikan ia haram, misalnya dalam shalat apabila seseorang memulai takbiratul ihram maka ia seolah-olah dengan rela hati mengharamkan apa-apa yang sebelum takbiratul ihram itu halal. Contohnya seperti makan. Makan dan minum halal. Tetapi kalau seseorang memulai takbiratul ihram, maka seolah-olah dia dengan rela hati mengharamkan atas dirinya padahal sebelum takbiratul ihram halal baginya.

Dari kata ahrama (أَحْرَمَ) ini juga berkembang kata derivate yang lainnya seperti muhrim(مُحْرِمٌ) dan mahram (مَحْرَمٌ), kata muhrim dengan huruf ra berharokat kasroh dalam bahasa arab ia adalah isim fail yang mengandung makna orang yang berihram dalam ibadah haji, sedangkan kata mahram dengan huruf ra berharokat fathah mengandung makna yang haram atau terlarang sedangkan dalam istilah fikih mahram adalah orang-orang yang merupakan lawan jenis kita, namun haram (tidak boleh) kita nikahi. Namun kita boleh bepergian (safar) denganya, boleh berboncengan dengannya, boleh meliihat wajahnya, tangannya, boleh berjabat tangan. Dengan demikian muhrim adalah orang yang memakai pakaian ihram dan yang melakukan ihram dalam ibadah haji dan umroh, sedangkan mahram adalah orang yang haram atau tidak boleh dinikahi.  

Adapun dalam ibadah haji dan umroh, Ihram adalah niat haji atau umrah. Yaitu ikatan hati untuk masuk dalam ibadah haji atau umrah, berniat ihram di dalam hati bahwa dia akan haji untuk dirinya atau atas nama seseorang, jika dia melakukan ibadah haji untuk orang lain. Demikian itulah niat. Namun, disunnahkan melafalkannya dengan mengatakan : “Labbaik Allahumma Hajjan an Fullan ” (Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu untuk haji atas nama seseorang), atau “Labbaik Allahumma ‘Umratan ‘an Fulan ” (Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu untuk umrah atas nama seseorang) hingga apa yang ada dalam hati dikuatkan dengan kata-kata. Sebab Rasulullah saw melafalkan haji dan juga melafalkan umrah. Maka demikian ini sebagai dalil disyari’atkannya melafalkan niat karena mengikuti Nabi saw. Sebagaimana para sahabat juga melafalkan yang demikian itu seperti diajarkan oleh Nabi saw dan mereka mengeraskan suara mereka. Ini adalah sunnah.

 

Pakaian Ihram

Bagi Pria : Pakaian ihram pria terdiri dari 2 helai kain. Sehelai kain melilit tubuh mulai dari pinggang hingga dibawah lutut di atas mata kaki. Sehelai lagi diselempangkan mulai dari bahu kiri ke bawah sampai ketiak sebelah kanan selanjutnya diselempangkan keatas bahu, sehingga bahu sebelah kanan terbuka. Pria tidak boleh menggunakan pakaian yang berjahit, bertenun, celana (polos), kemeja, tutup kepala.

Bagi Wanita : Bagi wanita pakaian ihram itu lebih bebas tetapi disunatkan yang berwarna putih, yang penting menutup seluruh tubuh, kecuali wajah dan telapak tangan mereka.

Waktu Ihram

Memulai berihram haji dari tanggal 1 Syawal s/d terbit fajar tanggal 10 Zulhijjah. Barang siapa yang tidak berihram haji pada waktu tersebut, maka tidak mendapat haji. Dan bagi yang berihram umroh kapan saja dapat dilaksanakan, kecuali pada waktu yang dimakruhkan yakni pada jamaah haji wukuf, hari nahar dan hari-hari tasyri’.

Tempat Ihram

Adapun tempat dan nama-Miqat telah ditetapkan oleh Rasulullah saw yaitu sebagaimana Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, dia berkata:

عَن ابنِ عَبّاس رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: (وَقَّّتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّم لأهْلِ المَديْنَة ذَا الحَلِيْفَة، وَلأهْلِ الشَام الجُحْفَة، وَلأهْلِ نَجد قَرْن المَنَازل، وَلأهْلِ اليَمَن يَلَمْلَم، فَهُنَّ لَهُنَّ وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِ أهْلِهِنَّ لِمَنْ كَانَ يُريْدُ الحَجَّ وَالعُمْرَة، فَمَنْ كَانَ دُوْنَهُنَّ فَمَهِله مِنْ أهْلِه) متفق عليه.

 Sesungguhnya Nabi saw menetapkan Dzulhulaifah (Bir ‘Ali) sebagai Miqatnya penduduk Madinah, Juhfah sebagi Miqatnya penduduk Syam, Qarnu al-Manazil sebagai Miqatnya penduduk Najd dan Yalamlam sebagai Miqatnya penduduk Yaman”.

Adapun untuk jama’ah haji Indonesia tempat ihramnya adalah Bagi Calhaj gel. I, miqatnya dari Zulhulaifah( Bir Ali), dan Bagi calhaj gel II adalah Bandara King Abdul Aziz di Jeddah. Hal ini sesuai dengan Keputusan Fatwa MUI, tgl 28 Maret 1980, dikukuhkan kembali tgl 19 September 1981 tentang Miqat Haji dan Umroh.

Adapun bagi jama’ah yang tinggal di Mekkah dan daerah-daerah sekitarnya, yaitu yang ada di sekitar Miqat dan Mekkah maka cukup berniat dan berihram dari rumahnya atau dari tempat dimana saja. Begitu juga yang harus dia lakukan jika ingin mengulangi umrohnya, sebagaimana sabda nabi Muhammad saw:

فَمَنْ كَانَ دُوْنَهُنَّ فَمَهله مِنْ أهْلِهِ) متفق عليه.

Barangsiapa yang kurang dari itu -maksudnya kurang dari tempat-tempat miqat itu-, maka tempat ihramnya dari mana dia berada” (Muttafaqun a’lai)

Menurut pendapat mazhab malikiyah dan pengikutnya mereka menyatakan bahwa orang-orang yang naik kapal laut mulai berihram ketika turun ke darat, yaitu di pelabuhan dimana ia turun. Contohnya orang-orang yang datang dari Afrika Utara atau dari Mesir dan sebagainya, ketika mereka turun di Jeddah, disitulah mereka mulai berihram. Pendapat ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh ulama besar Syeikh Abdullah bin Mahmud bin Zaid “pimpinan Mahkamah-Mahkamah Syariat” di Qatar, beberapa tahun yang lalu. Dan ia menulis sebuah kitab tentang Ihramnya para penumpang pesawat terbang setelah mereka turun di Jeddah. Pendapat ini diikuti juga oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz beliau berkata: pendapat ini dapat diterima, karena tidak mudah bagi seseorang ketika ia berada di dalam pesawat terbang, dan dalam keramaian penumpang pesawat itu, untuk melepas pakaian dan menggantinya dengan pakaian Ihram, dan sejenisnya. Dan yang paling mudah adalah ketika ia turun dari pesawat itu, mulailah orang yang berhaji tersebut melepas pakaiannya, mandi, memakai pakaian Ihram, berwudhu’ dan shalat dua rakaat.

Adapun seseorang yang datang ke Mekkah karena tujuan selain haji atau umrah, seperti datang mengunjungi kerabat atau kawan-kawannya, maka dia tidak wajib ihram dan boleh masuk kota Mekkah dengan tidak berpakaian ihram. Ini adalah pendapat yang kuat dari dua pendapat para ulama. Namun yang paling utama baginya adalah dia umrah untuk mengambil kesempatan dalam beribadah.

Hal-hal yang disunnahkan dalam ihram:

1. Mandi sunah dengan membasahi seluruh tubuh, jika tidak memungkinkan berwudhu

2. Memotong kuku, mencukur bulu-bulu yang panjang

3. Disunahkan memakai wangi-wangian  

4. Shalat sunah dua rakaat ketika berada di Miqat lalu setelah shalat barulah berniat ihram, sebagaimana rasulullah saw bersabda:

جَاءَ لِيْ مِنْ رَبِيْ وَقَالَ : ‘إِجْرَاء الصَلاةَ فِيْ هَذا الوَادِيْ المُبَارَك وَيَقُوْلُ : (كُنْتُ أنْوي أنْ أدَاء)` العُمْرَة مَعَ الحَج. ‘

“Datang kepadaku seseorang (malaikat) dari Rabbku dan berkata, “Shalatlah kamu di lembah yang diberkati ini dan katakan : ‘Umrah dalam haji'”. (HR. Bukhori)

Jumhur ulama mengakatan bahwa hadis ini menunjukkan disyari’atkannya shalat dua rakaat dalam ihram.

Adapaun hal-hal yang dilarang ketika ihram ada sembilan hal:

1.    Memotong atau mencabut rambut dari kepala atau badan.

2.    Memotong kuku dari tangan atau kaki.

3.    Memakai kain berjahit bagi laki-laki, yaitu setiap pakaian yang dijahit menurut ukuran anggota badan, seperti qamis, celana, jubah, kaos, peci, topi, dan lain-lain.

4.    Menutup kepala dengan hal-hal yang menyentuh kepala sepeti sorban dan peci. Lain halnya payung, kemah dan membawa barang di atas kepala, maka demikian itu tidak dilarang.

5.    Memakai parfum, yaitu setiap hal yang berbau wangi dengan tujuan memakainya di baju atau di badan, seperti misik, mawar, rayhan, dan minyak wangi yang lain.

6.    Bertujuan memburu binatang darat yang lepas, seperti burung merpati, kijang dan lain-lain.

7.    Melakukan akad nikah. Maka orang yang ihram tidak boleh meminang, menikah, menjadi wali nikah, dan lain-lain.

8.    Bersetubuh dengan istri.

9.    Bercumbu dengan istri/suami, seperti meraba-raba, mencium dan lain-lain.

Sembilan hal tersebut dikelompokkan dalam empat bagian:

1.    Harus membayar fidyah, tapi tidak membatalkan ibadah (haji atau umrah), yaitu bagi lima hal yang pertama.sebagaimana firman Allah swt:

 

لا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ 

 

“Dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban.” (QS.al-Baqarah [2]:196).

Lalu apakah larangan menutup kepala ini berlaku juga bila kita berteduh di bawah payung, kemah, atap gedung atau atap mobil? Ketahuilah larangan menutup kepala ini hanya berlaku pada penutup kepala yang langsung menempel seperti peci, sorban yang dililitkan di kepala dan sejenisnya. Maka bila berteduh di bawah payung, kemah dan sejenisnya maka hal tersebut tidak bermasalah seperti hadis yang diriwayatkan oleh Ummul Hushain bahwa ia berhaji bersama Rasulullah saw saat Haji Wada’ dan ia mendapati Bilal dan Usamah memayungi Nabi saw dengan baju mereka untuk melindungi Rasulullah saw dari panas. Hal itu dilakukan mereka berdua hingga proses Jumrah Aqabah (proses ihram berakhir). HR. Muslim, Abu Daud & An Nasa’I.

2.    Ada denda yang setimpal, yaitu berburu.

3.    Membatalkan ibadah dan tidak harus membayar fidyah, yaitu akad nikah.

4. Tidak membatalkan ibadah tapi harus membayar dam, yaitu bersentuhan kulit (bercumbu) dengan syahwat, Bersetubuh dengan istri.

Referensi:

1.    Kitab Mughny Muhtaj.

2.    Kitab Nihayah Al-Muhtaj.

3.    Kitab Manasik Al-Hajj wal Umrah.

4.    Fatwa-Fatwa Haji dan Umrah oleh Ulama-Ulama Besar Saudi Arabia, Penyusun Mauhammad bin Abdul Aziz, terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi’i hal. 74–75.

5.    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Fataawaa Arkaanil Islam, atau Tuntunan Tanya-Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, Haji: Fataawaa Arkaanil Islam,  terj. Muniril Abidin, M.Ag (Darul Falah, 2005), hlm. 540 – 541.

6.    Ahmad Warson Munawwir, al-Munawwir.