Identitas Terorisme

0
40 views

Teror, terorisme, Islam, Arab, Muslim, dan seterusnya adalah gugusan kata-kata yang dulunya tidak mesti berkaitan. Masing-masing mempunyai makna tersendiri dan berdiri sendiri. Apa lacur, kini kata-kata itu saling berkaitan tanpa juntrungan. Entah kata mana yang menerangkan mana.

Kini, jika sebuah kata teror, teroris atau terorisme muncul di mana saja, maka di kepala masing-masing orang sudah bisa ditebak. Pasti gambaran yang muncul berikutnya adalah Islam, Muslim atau sesosok manusia salih, rajin salat, pengurus masjid (marbot), berjanggut, bercambang dan memakai pakaian ala Timur Tengah atau apa pun yang seasosiasi dengan itu.

Tragedi Bom Mega Kuningan beberapa waktu lalu tidak menghapus asosiasi yang telah menempati salah satu kavling di otak orang-orang tapi malah mempertegasnya. Yang dikupas oleh media massa bukan hanya tragedi yang baru tetapi memori tragedi lama yang mirip kemudian kembali diulang-ulang dan membentuk gugusan opini bagai bola salju. Tidak dapat dielakkan dan semakin membesar. Menuju kepastian bahwa teroris itu tidak bisa tidak pasti Muslim.

Sebahagian kalangan lalu merasa perlu untuk menggugat asal mula pengaitan Islam dengan terorisme. Islam, Muslim, dan Arab adalah entitas-entitas yang terlalu beragam untuk disimpul dalam sebuah ikatan paham, budaya, wilayah, gaya hidup, dan sebagainya. Memberikannya label teroris tentu lebih bermasalah lagi. Bukan hanya dari kalangan Muslim yang berpandangan begini, tapi juga non-Muslim yang berupaya berfikir jernih. Salah seorang di antaranya adalah salah satu filsuf legendaris, Jacques Derrida. Katanya, “Kita tidak bisa begitu saja menganggap semua yang berkaitan dengan Islam atau dengan “dunia” Muslim Arab sebagai sebuah “dunia”, atau setidaknya sebagai suatu keutuhan yang homogen…”. Ini sebagaimana dikutip oleh Giovanna Borradori dalam Filsafat dalam Masa Teror.

Sebagian kalangan lain berdiri pada posisi berbeda. Bahwa teroris itu memang mengaku beragama Islam dan berjuang dalam kerangka Islam yang dipahaminya adalah benar. Lalu, sia-sia memberikan pembelaan bahwa tidak ada hubungan antara Islam dengan terorisme. Namun yang patut digarisbawahi adalah Islam tidak mesti sama dengan teror atau terorisme karena setiap individu atau kelompok mempunyai potensi untuk meneror orang atau kelompok di luar dirinya dengan berbagai macam alasan.

Dengan demikian, sulit menolak bahwa energi dan nyali para pelaku teror dan bom bunuh diri itu diambil ajaran-ajaran agama sebagai bahan bakar pandangan dunianya. Sebelum bom yang menempel di badannya itu meledak dan mencabik-cabik tubuhnya ke ratusan keeping, mungkin sebenarnya dia sudah tidak ada dalam arti secara fisik. Dengan menghancurkan dirinya, di saat bersamaan sebenarnya dia sedang merampungkan identitas dirinya yang di masa hidup dianggap belum lengkap jika belum martir, sekaligus menegaskan eksistensi dirinya. Dan satu-satunya jalan bagi dia untuk merampungkan semuanya adalah dengan bom bunuh diri.

Natan Shraransky, penulis buku Defending Identity, menggambarkannya dengan cermat. Katanya, “Identitas, sebuah komitmen hidup, adalah penting karena hal itu memuaskan kerinduan manusia untuk menjadi bagian sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri dan itu bahkan lebih penting daripada tubuhnya kasarnya.”

Lalu, apa yang lebih besar itu? Islam? Tuhan? Allah? Atau surga? Siapa pun kemudian berhak menghubungakan satu sama lainnya dengan apa pun. Termasuk menganggap dengan pasti adanya hubungan kuat antara Islam, Muslim atau Arab dengan terorisme. Banyak yang mengutuk tindakan teror itu, tapi tidak sedikit yang bersimpati bahkan mendukung meski tidak ikut bunuh diri. Ini nyata.[]