Antara Ibu dan Pembantu

0
99 views

Ada pemandangan yang cukup mencengangkan saya pagi itu. Saat mengantar anak sekolah, saya melihat seorang anak merengek tidak mau masuk ke dalam sekolah lantaran dia diantar oleh ibunya sendiri. Loh koq, memangnya kenapa? Ternyata, setelah dipanggil si “mbak” pembantunya untuk mengantar dan membujuk si anak, barulah si anak mau masuk ke sekolah.

Bukan kala itu saja saya menemui hal seperti itu. Sebelumnya, sang ibu dari teman anak saya yang lain mengaku enggan mengantar anaknya sekolah. Hal itu karena jika dia yang mengantar, si anak tidak bisa beraktivitas di sekolahnya dengan baik. Sang anak jadi bertingkah “cengeng”, manja, dan kurang percaya diri. Karena itulah dia menyerahkannya ke pembantu untuk menemaninya ke sekolah meskipun sang ibu hari itu sedang libur alias tidak masuk kerja seperti hari-hari biasanya.

Fenomena ibu bekerja di luar rumah sudah biasa kita temui saat ini. Baik itu dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan, keinginan untuk mengaplikasikan keahliannya, ataupun sekedar untuk eksistensi diri.

Semua itu tentu saja dijalani dengan kesadaran akan konsekuensi yang akan dihadapi. Kejadian di atas adalah salah satu contoh yang bisa kita cermati. Bagaimana sang anak lebih nyaman dan tenang bersekolah jika ditemani oleh pembantu ketimbang oleh orang tuanya sendiri.

Sang ibu pagi-pagi buta sudah meninggalkan anaknya hingga sore hari, bahkan sampai malam hari. Belum lagi bila ia masih membawa pekerjaan kantornya ke rumah. Urusan dan kebutuhan anak tentu saja tidak bisa dipegang oleh kedua tangannya sendiri. Apalagi jika sang ayah juga sibuk dengan urusan pekerjaan. Apa boleh buat, akhirnya ia menyerahkannya ke orang lain alias pembantu. Mulai dari memandikan, menyiapkan pakaian, menyuapi makan, mengantarkan ke sekolah, menemaninya bermain, sampai mengantarkannya terlelap tidur diserahkan ke pembantu. Jadi tidak heran jika sang anak lebih dekat kepada pembantu ketimbang orang tuanya sendiri. Padahal, jika ditanya arti seorang anak bagi sang ibu, ia pasti akan menjawab bahwa anak adalah sang buah hati, bahkan permata hatinya yang paling berharga.

Lantas, jika memang kondisinya sudah demikian adanya, dan bekerja di luar rumahpun sudah kadung menjadi keharusan demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, apakah seorang ibu sudah tidak bisa menjadi “ibu” dengan arti sebenarnya untuk anak-anaknya, ataupun seperti yang digambarkan oleh Rasulullah:

“Maukah kuberitahukan kepada kalian tentang istri-istri kalian yang akan menjadi ahli surga?” Rasul menerangkan: “Mereka itu adalah al-waduud, al-waluud dan al-‘a’uud, yakni wanita-wanita yang sangat penyayang, sangat memperhatikan anak-anaknya dan cepat sadar akan kesalahannya. Ketika dizhalimi mereka mengatakan ini tanganku (kuletakkan) di atas tanganmu, selama kamu tidak ridha, aku tidak akan bisa memejamkan mata.”(H.R. Daruquthni)

Memang, ibu yang tidak bekerja di luar rumah tidak otomatis lebih baik daripada yang bekerja di luar. Bukankah Khadijah istri nabi juga “pekerja”? bahkan penghasilannya mampu membantu dakwah sang suami. Begitu juga Asma putri Abu bakar yang bekerja keras untuk membantu sang suami, Zubair dan sekaligus berhasil memiliki anak yang luar biasa, Abdullah bin Zubair.

Semua itu kembali lagi ke pribadi masing-masing. Bekerja atau tidak bekerja di luar rumah adalah sebuah pilihan yang memiliki konsekuensi dan tanggung jawab masing-masing.

Jika memang memilih bekerja di luar rumah karena kondisi yang sangat menuntut bekerja, bersiap-siaplah menyiapkan tenaga ekstra untuk menjadi ibu yang tidak biasa. Berkurang jadwal tidur, juga perlu kekuatan fisik di atas rata-rata ibu yang lain, serta mental baja, dan siapkan strategi khusus agar tetap memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak meskipun seharian sibuk di luar. Selain itu, belajarlah kepada ibu lainnya yang juga bekerja di luar namun sukses mendidik anak-anak mereka.

Dan yang tidak boleh dilupakan adalah keridhaan suami. Jika kerja tanpa seizinnya, jatuhnya tetap dosa. Dibutuhkan komunikasi dan kerja sama dengan suami dan orang terdekat lainnya (bahkan dengan asisten rumah tangganya) yang sangat intens, agar ibu bekerja dapat menjalankan amanahnya di rumah maupun di tempat kerja dengan baik.

Semua itu agar peran pembantu pun tidak terlalu dominan dalam pengasuhan anak-anak tercinta. Agar sosok yang paling dekat di hati anak adalah orang tuanya sendiri, bukan pembantu. Agar anak dapat dengan tulus mendoakan orang tuanya “rabbighfirlii wa liwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shagiiraa”

BAGI
Artikel SebelumnyaAminah
Artikel BerikutnyaPeningkatan