Ibrah dari Labirin hayal Don Quixote

0
10 views

Don Quixote

Di sebuah desa di distrik La Mancha Spanyol, hidup seorang laki-laki yang memiliki nama Alonso Quijano. Dia berumur lima puluh tahun, tinggi dan kurus, dengan wajah bersahaja. Sambil duduk di ruang atas rumah kecilnya, ia kembali melanjutkan membaca sebuah buku yang sangat tebal, dan tangan kanannya memegang erat pedang yang tergeletak di pangkuannya. Buku itu berkisah tentang petualangan para satria pengembara.

 

 Semua yang ada di kamar itu hening, dan ia semakin tersedot oleh kedahsyatan bukunya. Gairahnya naik; dia menarik rambut dengan kedua tangannya, seakan dia ingin mencabutinya. Tiba-tiba dia melompat liar, mengangkat pedang, dan mulai bertarung melawan musuh hayalannya. “Lepaskan tangan nona itu, Biarkan nona itu pergi! Kau ingin bertarung, pencuri? Datanglah, dan terimalah hukumanmu!”

Sambil merangkul seorang gadis cantik yang adalah kemenakannya sendiri, dalam hayalnya, ia baru saja mengalahkan musuhnya dan menyelamatkan seorang puteri dengan keberanianya. Si gadis sudah terbiasa dengan tindakan pamannya yang aneh dan gila. Kebiasaan aneh itu sudah berlangsung berbulan-bulan. Awalnya hanya beberapa jam sehari, tetapi semakin lama keadaannya semakin memburuk

Alonso Quijano benar-benar telah hanyut dalam hayalannya. Ia membayangkan dirinya sebagai satria pengembara. Ia memutuskan bahwa ia harus pergi menjelajahi dunia. Dan dengan semangat dari hayalannya, ia mulai merencanakan petualangannya.

**

Ia mempersiapkan baju zirah tuanya. Juga seekor kuda yang malang, lemah,. Tetapi di matanya, kuda itu tampak lebih hebat dari kuda manapun. Rozinante!! Itulah nama yang diberikan bagi kudanya. Ia telah siap dengan petualangannya, ketika tiba-tiba ia harus memikirkan nama yang tepat bagi satria pemberani seperti dirinya. Alonso Quijano, ah, nama itu tidak pantas bagi seorang satria. Akhirnya dia menemukan nama yang tepat: Don Quixote de La Mancha.

Tidak terhitung berapa banyak petualangan-petualangan gila yang timbul dari hayalan dan imajinasi gila Don Quixote. Ia melihat semua yang ditemuinya berubah seperti dalam cerita-cerita bukunya. Tidak terhitung pula berapa kali ia terluka parah dalam pertempuran atau pertarungan-pertarungan yang dibuhul oleh imajinasi gilanya.

 

***

Cerita Don Quixote pada intinya menceritakan kegilaan yang lahir dari gugusan imajinasi liar. Dengan sangat bagus, Cervantes  (sang penulis) melukiskan keberanian yang sangat besar dari seorang Don Quixote untuk membela perempuan-perempuan dan ketidakadilan dalam masyarakat.

Manusia semakin absurd. Tidak jelas mana yang real dan yang imaji. Sementara penderitaan semakin mengoyak kesadaran hidup, tidak banyak orang yang mau tampil menjadi pejuang bagi keadilan dan memperjuangkan kembalinya kemakmuran semesta. Orang-orang, dalam penderitaannya, lebih memilih masuk dalam kesadaran palsu. Asyik dengan buku-buku tebal yang bercerita tentang keperkasaan satria-satria pemberani yang tanpa kenal lelah dan pamrih berjuang untuk mereka.

Tapi tidak dengan Don Quixote. Ia tidak sekedar asyik dengan bacaan itu. Pikirannya, hatinya, bahkan realitasnya telah menyatu dengan kesadarannya, dan menemukan dirinya sebagai satria, seperti dalam buku yang dibacanya. Ia berjuang untuk memberikan keadilan bagi orang lain, meski ia sendiri terjerembab dalam ketidakadilan dirinya. Don Quixote adalah tamsil kepalsuan diri dari kesadaran yang mabuk, sekaligus ia adalah gambaran ketidakberdayaan yang dibungkus dengan imajinasi transendental.

Setidaknya, Don Quixote telah berhasil menyampaikan pesan bagi orang-orang yang mengaku memiliki kesadaran, bahwa mereka harus berhadapan dengan realitas yang penuh kepalsuan. Tidak semua yang terpajang dalam etalase realitas telah menampilkan kediriannya yang sebenarnya. Terlalu banyak kepalsuan. Kita telah diseret dalam hayalan akan keberanian, keadilan semu. Mereka yang menertawakan kegilaan Don Quixote, sesungguhnya sedang menertawakan diri mereka sendiri. Don Quixote tidak sadar akan kegilaannya. Tetapi, sungguh, lebih tidak sadar lagi mereka yang merasa dirinya sadar, tetapi hidup dalam bungkus realitas yang palsu, penuh kedurjanaan, penindasan, ketidakadilan, dan mereka tetap tertawa.

Don Quixote menyibak belantara dusta. Ia terus berjalan dalam imajinasinya, meski dirinya seringkali terjatuh dalam penderitaan. Penderitaan yang tidak sebanding dengan tujuan yang hadir dalam mimpinya; Kehormatan. Kebanggan. Cinta dari seorang Dulcinea. Ya, kehormatan, kebanggan, dan cinta adalah kemasan yang sangat besar yang dapat meluluhkan segala kesadaran manusia. Karena kehormatan, kebanggan, dan cinta, manusia dapat melakukan apa saja bahkan meski itu harus mengorbankan dirinya, menjatuhkan dirinya dalam kegilaan. Kehormatan macam apakah yang seperti itu? Tak lebih kepalsuan. Mimpi.

Kematian yang menjumput Don Quixote, mengembalikan kesadaran kita bahwa sesungguhnya tidak ada yang abadi. Tidak yang real, tidak pula yang sekedar hayalan. Tidak ada kebanggaan yang tersisa. Tidak ada kehormatan. Cinta pun harus ditinggalkan. Tapi Don Quixote sadar, yang ditinggalkan setelah kematiannya adalah kenangan. Kesan. Ia tidak ingin orang lain mengingat dirinya sebagai orang gila yang dilamun hayalan-hayalan terkutuk. Ia ingin mati sebagai orang biasa. Bersama Tuhan. Bersama orang-orang. Kepada Tuhan. Dan seperti orang-orang yang lain.

Don Quixote mengembalikan kesadaran spiritual. Imajinasi dan hayalan, dalam kemasan yang besar adalah nafsu dan ambisi, tidak cukup untuk memberikan ketenangan, bahkan ketika semuanya telah diraih. Dahaga spiritual hanya bisa dipuaskan dengan cawan kebenaran dari Tuhan. Cahaya yang menerangi kegalauan hati. Don Quixote sadar dari hayalnya, dari ambisinya, dan kembali ke dalam pelukan Tuhan. Di sana dia menemukan kedamaian. Juga keadilan, setidaknya bagi dirinya, dari Tuhannya.[]